Ribut Soal Perbedaan Hari Raya, Gus Baha: Itu Karena Tidak Mau Belajar

oleh -1264 Dilihat
GUS BAHA DUA
KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. (Foto IST)

”Lucunya debat penentuan awal Syawal di Indonesia itu kampungan, termasuk yang sering muncul di TV. Memang secara falak, Allah membuat tebakan bahwa bulan bisa saja 29 atau 30. Berarti sejak awal potensi itu memang ada,”

KabarBaik.co, Jakarta – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Kementerian Agama (Kemenag) selalu menggelar sidang isbat dengan melibatkan berbagai unsur. Sidang ini untuk menetapkan 1 Syawal atau kapan waktu Lebaran. Dalam beberapa dekade terakhir, penetapan awal bulan tersebut sering terjadi perbedaan, termasuk 1 Ramadan atau 1 Syawal. Situasi ini pun masih kerap memunculkan perdebatan di kalangan masyarakat.

Mengenai perbedaan tersebut, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan bahwa sejatinya persoalan hari raya bermuara pada kalender dan orang-orang yang berdebat tersebut tidak mau menekuni ilmunya. Gus Baha menilai, terdapat tiga alasan munculnya perdebatan soal perbedaan jatuhnya hari raya.

“Satu karena bodoh, dua karena sombong, tiga karena kurang kerjaan. Bukan bidangnya kok bicara. Nah, yang paling sering itu yang ketiga,” ucapnya dalam ceramah seperti dilansir di kanal YouTube.

Gus Baha menyatakan perbedaan hari raya itu biasanya dialami oleh dua organisasi Islam di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Diakui, dua organisasi tersebut kerap berbeda merayakan hari Lebaran.

“Ketika berdebat muncul prasangka, ‘wah sekarang negara membela NU atau ikut Muhammadiyah’,” ungkapnya.

Hal itu terjadi, lanjut Gus Baha, karena mereka yang berdebat itu tidak mau menekuni ilmunya, tetapi saling melemparkan tuduhan. “Sebenarnya itu ilmu yang mudah. Kalau kamu ingin tahu jawabannya, maka belajarlah ilmu falak, selesai,” lanjutnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembang Ilmu Alquran (LP3IA) Rembang, Jawa Tengah, itu pun menyayangkan munculnya perdebatan tersebut. Dia pun menyarankan, lebih baik tidak usah ikut nimbrung berbicara perkara yang tidak diketahui, namun lebih baik mempelajari ilmu falak.

“Karena ilmu itu objektif, mengarahkan kita pada kebenaran,” jelasnya.

Untuk menyikapi perbedaan hari raya, Gus Baha memberikan pemahaman sederhana. “Apabila kamu meyakini Idul Fitri pada hari Minggu, berarti kamu harus Lebaran hari Minggu. Haram baginya untuk berpuasa di hari di mana ia meyakini hari tersebut adalah hari raya. Jika meyakini hari Minggu belum masuk Idul Fitri, maka wajib baginya untuk melanjutkan puasa,” terangnya.

Cara Memahami untuk Orang Awam

Pada kesempatan lain, Gus Baha memberikan cara mudah bagi orang awam untuk mengetahui siapa yang benar ketika ada perbedaan penentuan awal bulan Syawal. Konsep ini pernah didiskusikan oleh Gus Baha dengan abdi dalem buyutnya, yang bernama Mbah Abdurrahman.

Abdi dalem tersebut bercerita, orang dulu semuanya menggunakan bulan, melihat bulan. Jika ada polemik awal Syawal, apakah besok sudah Syawal atau tidak, maka nanti melihat tanggal 15 saja. Apakah bulan sudah sempurna atau belum.

“Kata abdi dalem buyut saya, sebenarnya mudah saja bab penentuan awal Syawal. Orang yang meributkan awal bulan tadi nanti diminta melihat bulan di tanggal 15 (bulan Hijriah). Sekarang dihitung saja. Jadi, cobalah mencintai ilmu, jangan suka bertengkar. Perkara awal Syawal saja kok bertengkar,” katanya dikutip dari YouTube Santri Gayeng, Kamis (20/4/2023).

Gus Baha lantas mencontohkan, semisal Mustofa berpendapat bahwa awal Syawal itu hari Ahad, sementara menurut Rukhin awal Syawal itu jatuh hari Senin, kemudian menurut Mas Abu hari Selasa. Mas Abu masuk kategori, karena perbedaan Lebaran itu bisa sampai tiga hari. Nah, berarti Mustofa dengan Mas Abu perbedaannya sampai tiga hari: Ahad, Senin, Selasa.

Sekarang cara mengetahui mana yang benar di antara ketiga orang tersebut dengan model awam saja, tidak perlu belajar ilmu falak, yaitu dengan mengecek bulan di tanggal 15.

Semisal diyakini awal Syawal dimulai dari Ahad, maka hitung saja. Nanti akan terlihat, ternyata pada tanggal 15 posisi bulan itu belum terlalu sempurna. Kemungkinan seharusnya hari itu tanggal 13 kalau bulan belum sempurna. Berarti, sebut Gus Baha, Mustofa hoaks.

“Lucunya debat penentuan awal Syawal di Indonesia itu kampungan, termasuk yang sering muncul di TV. Memang secara falak, Allah membuat tebakan bahwa bulan bisa saja 29 atau 30. Berarti sejak awal potensi itu memang ada,” jelasnya.

Gus Baha menambahkan, melihat bulan di tanggal 15 itu adalah cara Allah tetap membuat ilmu menurut orang awam, yaitu orang yang tidak paham ilmu falak. Namun, mereka tetap bisa menguji kebenaran awal Syawal dari Mustofa, Rukhin, dan Mas Abu lewat melihat tanggal 15.

Jika tanggal 15 di bulan tersebut belum purnama, ternyata sempurnanya baru Senin, berarti kira-kira yang benar dari pihak Rukhin. Kalau Mas Abu keyakinannya tadi Selasa, ketika dihitung tanggal 15 hari itu ternyata bulan sudah mulai menyusut. Bisa juga sebaliknya.

Jadi, lanjut Gus Baha, perangkat awam pun bisa memperlihatkan siapa di antara ketiga pihak di atas yang benar. Hanya saja, mau tidak orang Indonesia seperti itu. Maunya hanya berpikiran bahwa negara sekarang membela NU, hal ini menyebabkan perdebatan rutin setiap tahun. Sebenarnya, tidak masalah menurut teori falak.

Bagi orang yang tidak menekuni ilmu falak biasanya suka ngomong, sesama Islam kok beda Lebarannya.

“Memang kalau sama-sama Islam pikirannya harus sama? Orang yang berpikir seperti ini secara ilmu demokrasi saja sudah salah. Kan tidak harus sama, meskipun agamanya sama. Itu sunnatullah. Cobalah percaya ilmu, jangan banyak bicara,” kata Gus Baha.

Arab Saudi dan Indonesia Berbeda

Lalu, apakah boleh perayaan hari raya Arab Saudi dan Indonesia berbeda? Gus Baha menjelaskan, mathla’ setiap tempat atau negara berbeda. “Jadi, kalau mathla’-nya beda, itu tidak bisa disamakan,” ungkapnya di kanal Santri Gayeng, dikutip Kamis (7/7/2022).

Mathla’ merupakan kajian terhadap terbitnya hilal untuk penentuan awal bulan qamariyah. Gus Baha mengatakan, perbedaan hari raya adalah hal wajar karena memang perbedaan hisab di setiap negara. Hari Lebaran bukan mengikuti Arab Saudi, tapi mengikuti penetapan hilal setiap negara.

“Saya menerima perbedaan hari Lebaran, tapi jangan berdasarkan Arab Saudi, (tapi) berdasar hisab kita memang beda. Jika terpaut satu hari atau dua hari, masih sah menurut Imam Nawawi,” kata Gus Baha.

Gus Baha mencontohkan penetapan awal Ramadan dan penetapan 1 Syawal untuk Idul Fitri. Di Indonesia, masyarakat sudah terbiasa berbeda dalam menetapkan awal bulan.

Logikanya begini, misalnya sekarang akhir Ramadan, masih tanggal 29. Kemudian mendung, jadi (hilal) tidak jelas. “Istikmal, berarti kamu berani hari rayanya Senin atau menunggu Selasa? Selasa, kan? Namanya apa? Istikmal,” jelasnya.

“Bagaimanapun juga saya orang Indonesia, maka saya ikut waktu Indonesia. Tidak bisa karena Arab Saudi itu pusat, terus kamu ikut sana. Ikut Arab Saudi itu keliru kalau menurut saya, karena tadi beda mathla’-nya,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.