KabarBaik.co – Ribuan umat Hindu dari Surabaya dan sekitarnya berkumpul di Taman Harmoni Pantai (THP) Kenjeran, Surabaya, untuk melaksanakan ritual Melasti. Prosesi sakral ini merupakan bagian dari persiapan menyambut Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1947 yang jatuh pada 29 Maret mendatang.
Dengan mengenakan pakaian serba putih, umat Hindu memulai perjalanan spiritual dari Pura Segara Surabaya menuju pantai. Mereka membawa sesaji, kain putih panjang, serta pratima yang akan disucikan menggunakan air laut, yang diyakini sebagai sumber kehidupan.
Ketut Gotra Astika, ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Surabaya menjelaskan, Melasti bukan sekadar prosesi ritual, tetapi sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Sekaligus membersihkan diri dari segala hal buruk dan memohon berkah untuk memulai tahun baru dengan hati yang bersih.
“Melasti ini adalah cara untuk memperbaiki diri, membuang segala yang buruk, dan menyambut tahun baru dengan semangat baru,” jelas Ketut, Minggu (23/3).
Selain penyucian diri, upacara ini juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam. Sebelum persembahyangan, umat Hindu melarung ayam hitam dan bebek ke laut, sebagai simbol pembuangan energi negatif dan harmoni dengan alam.
Upacara Melasti di THP Kenjeran semakin semarak dengan pementasan tari Mandara Giri di tepi pantai. Tarian ini melambangkan kedamaian dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. “Harapannya kita bisa menjaga kesucian dan keseimbangan alam, serta memohon tahun depan menjadi lebih baik,” ujar Ketut.
Ritual ini tidak hanya bermakna spiritual bagi umat Hindu, tetapi juga menyampaikan pesan universal tentang pentingnya menjaga keberagaman, keseimbangan alam, dan keharmonisan sosial.
Perwakilan Pemkot Surabaya, Agus Imam Sonhaji, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, turut hadir dalam prosesi tersebut. Dalam sambutannya, Agus menyampaikan bahwa Melasti adalah simbol kebersamaan antara manusia dan alam.
“Upacara ini mengajarkan kita pentingnya hati yang bersih, keharmonisan, dan kehidupan yang selaras dengan alam. Keberagaman adalah kekuatan kita,” ujar Agus.
Agus berharap umat Hindu di Surabaya terus rukun dan aktif berkontribusi dalam pembangunan kota. “Semoga umat Hindu semakin berperan dalam menciptakan Surabaya yang lebih baik,” harapnya.
Melalui ritual Melasti, umat Hindu tidak hanya menyucikan diri, tetapi juga mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga kedamaian, keberagaman, dan keseimbangan alam. Melasti menjadi refleksi untuk merenung, melepas beban masa lalu, dan menatap masa depan dengan semangat baru.
Pesan universal dari ritual ini adalah bahwa kita semua adalah bagian dari alam, dan tugas kita adalah menjaganya dengan sepenuh hati untuk masa depan yang lebih baik. (*)








