Saat Lonceng Katedral Mengalah: Kisah Toleransi dari Ijen Kota Malang

oleh -123 Dilihat
GOR Gajayana Kota Malang, lokasi Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad NU yang rencananya dihadiri Presiden, Minggu (8/2), (Foto IG Kota Malang)

KabarBaik.co, Malang,- Akhir pekan ini, suasana di kawasan Ijen, Kota Malang, akan berbeda dari biasanya. Ribuan jamaah bersarung dan berpeci dipastikan bakal memadati jalanan mengikuti lantunan saalawat dan doa dalam Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Stadion Gajayana. Di sudut kawasan yang sama, lonceng Gereja Katedral Ijen justru berdentang lebih pelan.

Bukan karena tak ada ibadah. Tapi karena gereja memilih mengalah.

Demi memberi ruang bagi kelancaran agenda akbar umat Islam itu, Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel menyesuaikan jadwal misa. Dari enam kali misa akhir pekan, hanya dua yang tetap digelar. Selebihnya ditiadakan.

Keputusan tersebut bukan semata soal teknis lalu lintas, melainkan tentang empati.

“Kalau misa tetap dipaksakan, umat harus parkir jauh dan berjalan cukup lama. Kami tidak ingin mereka kesulitan,” ujar Romo Paroki Katedral Ijen, Petrus Prihatin.

Penutupan 12 ruas jalan di sekitar Ijen membuat akses menuju gereja terbatas. Pemerintah Kota Malang pun telah berkoordinasi dengan pihak gereja. Setelah berdiskusi internal bersama pengurus dan para uskup, diputuskan misa hanya dilaksanakan Minggu (8/2) sore dan malam, saat rangkaian Mujahadah Kubro telah usai dan lalu lintas kembali normal.

Bagi Romo Petrus, keputusan itu sederhana: ibadah tetap penting, tetapi kenyamanan dan kebersamaan sosial juga harus dijaga.

“Kami ingin semua berjalan baik. Umat kami tetap bisa beribadah, kegiatan saudara-saudara Muslim juga lancar,” katanya.

Menariknya, respons umat justru penuh pengertian. Tidak ada keluhan. Informasi yang disampaikan lewat pengumuman misa, flyer, dan grup komunikasi diterima dengan dewasa.

“Inilah toleransi. Saling memahami situasi,” imbuhnya.

Tak berhenti di situ, gereja juga membuka halaman samping sebagai tempat transit jamaah Mujahadah. Empat toilet disiapkan. Sebagian area menjadi ruang beristirahat bagi mereka yang datang dari berbagai daerah.

Pemandangan itu seolah menjadi simbol kecil Indonesia: pagar gereja terbuka, jamaah bersarung beristirahat di pelataran, senyum saling sapa tanpa sekat agama.

“Yang ditutup hanya ruang ibadah di dalam. Area luar kami buka supaya bisa membantu,” jelas Romo Petrus.

Bagi panitia Mujahadah Kubro, sikap tersebut terasa istimewa. Ketua Panitia Lokal PCNU Kota Malang, Edy Hayatullah, menyebutnya sebagai teladan persaudaraan lintas iman.

“Ini bukan sekadar meminjamkan tempat. Ini soal hati. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi kita untuk saling mendukung,” ujarnya.

Menurutnya, semangat seperti inilah yang ingin ditegaskan NU dalam peringatan satu abad, bahwa agama hadir membawa kedamaian, bukan jarak.

Selama dua hari, kawasan Ijen akan dipenuhi rangkaian kegiatan, mulai salawatan, khatmil Quran, salat malam, hingga resepsi pagi yang dihadiri tokoh nasional dan Presiden RI Prabowo Subianto. Namun, di balik keramaian itu, ada cerita sunyi yang tak kalah bermakna. Yakni, tentang gereja yang merelakan jadwalnya, tentang umat yang saling memahami, tentang kota yang merawat kebersamaan.

Di Malang, toleransi bukan hanya slogan. Namun, juga hidup di jalanan yang ditutup bersama, di halaman gereja yang dibuka, dan di hati yang sama-sama memberi ruang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.