KabarBaik.co, Surabaya- Persaingan papan atas Super League 2025/2026 memang menyita perhatian pecinta bola tanah air. Persib Bandung, Borneo FC Samarinda, dan Persija Jakarta masih terlibat dalam perebutan trofi juara. Namun di sisi lain klasemen, drama yang tak kalah menegangkan juga sedang terjadi. Yakni, sepuluh tim masih berada dalam bayang-bayang jurang degradasi.
Patokan ancaman degradasi setidaknya bisa melihat torehan poin di klasemen akhir musim lalu atau 2024/2025. Sebab, situasi existing klasemen tampaknya tidak beda dengan tahun lalu.
Pada Liga 1 2024/2025, tim peringkat ke-16—batas akhir zona merah—mengoleksi 34 poin. Angka itu dicapai PSS Sleman yang terseret arus degradasi. Dua tim di bawahnya, Barito Putera dan PSIS Semarang, juga masuk gerbong turun kasta ke Liga 2.
Nah, jika angka 34 poin tersebut dijadikan acuan musim ini, maka tim yang belum mencapai angka itu masih berada dalam wilayah rawan ”gempa tektonik” degradasi. Hingga 12 Maret 2026, tercatat ada sepuluh klub yang belum mengoleksi 34 poin dan masih berpotensi terseret ke zona degradasi tersebut.
Tim-tim tersebut adalah:
- Bali United (33 poin)
- Dewa United (33 poin)
- Arema FC (31 poin)
- Persik Kediri (29 poin)
- PSM Makassar (24 poin)
- Persijap Jepara (21 poin)
- Madura United (20 poin)
- Semen Padang FC (20 poin)
- PSBS Biak (18 poin)
- Persis Solo (17 poin)
Dengan sisa pertandingan yang terus berkurang, setiap poin kini menjadi sangat krusial. Tim-tim yang berada di papan bawah tidak hanya harus mengejar angka aman, tetapi juga bersaing langsung satu sama lain untuk menghindari posisi tiga terbawah klasemen.
Situasi ini membuat pertarungan di papan bawah tak kalah panas dibanding perebutan gelar juara. Jika Persib, Borneo FC, dan Persija sibuk mengincar trofi, maka sepuluh tim tersebut tengah berjuang mati-matian untuk satu tujuan yang sama: bertahan di Liga 1 musim depan. Tentu, tiga tim terbawah saat ini paling berdarah-darah. (*)






