Secara Astronomi Hilal Minus, Ramadan Diprediksi Mulai 19 Februari 2026

oleh -76 Dilihat
Aktivitas rukyatul hilal LF PWNU Jatim, (Dok)

KabarBaik.co, Aceh,- Provinsi Aceh selama ini menjadi titik penting dalam penentuan awal Ramadan. Sebab, wilayah dengan sebutan Serambi Makkah itu berada di wilayah paling ujung barat Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan Aceh memiliki keuntungan geografis yang signifikan dalam pengamatan hilal.

Ketika matahari terbenam di ufuk barat, posisi bulan di atas ufuk lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Karena itu, peluang melihat hilal lebih besar. Terutama di titik-titik strategis seperti Sabang, Lhoknga, dan Calang.

Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Aceh, Tgk Ismail, menjelaskan bahwa secara astronomi terdapat tiga parameter utama yang menjadi acuan dalam menentukan awal bulan Hijriah. Yakni, konjungsi (ijtima), tinggi hilal, dan sudut elongasi Bulan. Ketiga parameter tersebut saling berkaitan dan menjadi dasar untuk menilai apakah hilal memungkinkan terlihat (imkanur rukyah) atau tidak pada saat matahari terbenam.

“Konjungsi adalah titik awal perhitungan, yaitu saat bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Namun, konjungsi saja belum cukup, karena setelah itu kita harus melihat posisi bulan saat matahari terbenam,” ujarnya dilansir dari NU Online, Selasa (10/2).

Lebih lanjut, akademisi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Nahrasiyah Lhokseumawe itu mengatakan, berdasarkan data hisab falakiyah, penentuan awal Ramadan 1447 H berkaitan dengan posisi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026, yang bertepatan dengan 29 Syaban 1447 H.

“Pada hari tersebut, konjungsi geosentrik terjadi pada pukul 19.01.07 WIB. Artinya, saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, peristiwa konjungsi belum terjadi. Akibatnya, posisi bulan pada saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk barat,” paparnya.

Ismail memaparkan, ketinggian hilal di Indonesia pada hari itu (Selasa) berkisar antara minus 1 derajat lebih hingga minus 2 derajat lebih. Dengan posisi seperti ini, bulan secara astronomis mustahil dapat di-rukyat karena belum berada di atas ufuk.

Selain tinggi hilal, lanjut dia, parameter penting lainnya adalah sudut elongasi bulan, yaitu jarak sudut antara bulan dan matahari. Pada Selasa, 17 Februari 2026, sudut elongasi bulan di Indonesia hanya berkisar antara kurang dari 1 derajat hingga sekitar 1 derajat 50 menit. ”Nilai ini jauh di bawah batas minimal visibilitas hilal,” tegasnya.

Sejak tahun 2021, negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) telah menyepakati kriteria baru penentuan awal bulan Hijriah. Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika tinggi bulan minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat pada saat matahari terbenam setelah konjungsi.

“Jika kita bandingkan dengan data Ramadan 1447 H, maka jelas seluruh kriteria MABIMS belum terpenuhi. Baik konjungsi, tinggi hilal, maupun elongasi semuanya belum masuk batas imkanur rukyah,” ungkapnya.

Berdasarkan kajian ilmu falak tersebut, Lembaga Falakiyah PWNU Aceh mencatat pandangan awal bahwa bulan Syaban 1447 H bakal digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, PWNU Aceh memprediksi awal bulan Ramadan 1447 Hijriah bakal jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Kajian falak tersebut, diharapkan dapat membantu umat Islam memahami proses ilmiah penentuan awal bulan Hijriah. Dengan demikian, dapat menyambut Ramadaan dengan penuh ketenangan, keyakinan, dan sikap saling menghormati dalam bingkai ukhuwah. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.