KabarBaik.co – Warung Sego Empok Prasmanan Mewah dalam bahasa Jawa berarti mepet sawah di Dusun Suko Rembug, Desa Sidomulyo, Kota Batu, kini menjadi salah satu tujuan favorit pecinta kuliner tradisional. Meski baru beroperasi sekitar lima bulan sejak Juli 2025 lalu, warung ini sudah ramai dikunjungi warga lokal hingga wisatawan.
Warung milik Icuk tersebut mengusung konsep prasmanan dengan pilihan nasi empok, nasi putih, atau campuran keduanya. Sajian dilengkapi aneka sayur khas Jawa bersantan yang disiapkan setiap hari. “Sayurnya ada tempe tahu, manisa (labu), tewel, serta urap-urap. Pengunjung bebas mengambil sendiri. Untuk nasi dan dua lauk tahu, tempe, atau mendol harganya Rp 10 ribu,” ujar Icuk, Minggu (18/1).
Icuk menjelaskan, jika pengunjung menambah lauk lain, maka harga akan disesuaikan. Menurutnya, konsep prasmanan empok kini digemari karena pengunjung bisa menentukan porsi sekaligus menyesuaikan anggaran. “Warung empok prasmanan sekarang jadi tren. Selain bebas ambil sesuai takaran, juga bisa menyesuaikan cuan,” terangnya.
Akses menuju warung berada di ujung gang selebar sekitar satu meter dan harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 150 meter. Namun setibanya di lokasi, pengunjung disuguhi hamparan kebun bunga dengan latar pemandangan Gunung Panderman. “Sepeda dan motor bisa langsung parkir di warung, sedangkan mobil diparkir di depan gang. Letak kami memang di tengah hamparan petani bunga, jadi pemandangannya terbuka,” jelas Icuk.
Pada hari biasa, warung yang buka pukul 07.00 WIB ini ramai hingga pukul 10.00 WIB. Setelah itu pengunjung kembali berdatangan saat jam makan siang, sekitar pukul 11.30 hingga 13.30 WIB. Warung tutup pukul 17.00 WIB. Sementara pada hari Minggu, warung buka hingga pukul 13.00 WIB dan nyaris tak pernah sepi. “Pagi hari ramai orang jalan sehat dan pesepeda, menjelang siang wisatawan datang sampai siang,” katanya.
Khusus hari Minggu, pengunjung juga disuguhi atraksi melukis wajah menggunakan pensil oleh seniman lokal. “Sambil makan atau ngobrol bisa dilukis, sekitar 15 menit sudah jadi,” tambah Icuk.
Icuk menuturkan, sebelumnya ia bekerja di bidang event organizer (EO). Namun saat pandemi Covid-19, pekerjaan sepi dan ia beralih menjadi petani bunga. Dari sana muncul keinginan membuka usaha kuliner di lahan yang disewanya. “Saya diajak teman bernama Rudi ke warung empok prasmanan di Batu dan Pujon. Dari situ saya mengonsep sendiri sampai akhirnya berdiri. Alhamdulillah ramai, ini jalan saya mencari rezeki,” ungkapnya.
Salah satu pengunjung asal Jakarta, Leli, mengaku terkesan dengan warung tersebut. “Ini warung ideal, rasanya enak, harganya murah, dan view-nya mewah, mepet sawah,” katanya. Leli yang tengah berkunjung ke rumah temannya di Desa Punten mengaku tak sengaja menemukan warung ini. “Awalnya hanya jalan-jalan, melihat tulisan warung di gang. Ternyata tempatnya luar biasa,” pungkasnya. (*)






