KabarBaik.co, Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi bukan sekadar daerah di ujung timur Pulau Jawa. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Selat Bali di sisi timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Situbondo, Bondowoso dan Jember di sisi barat dan utara ini menyimpan sejarah panjang.
Secara historis, Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari jejak Blambangan, kerajaan yang disebut-sebut sebagai benteng terakhir tradisi Hindu di Jawa setelah runtuhnya Majapahit.
Dalam buku Banyuwangi dalam Mozaik, Kumpulan Tulisan Sejarah dan Budaya Banyuwangi, Sumono Abdul Hamid menjelaskan bahwa wilayah Blambangan menjadi arena perebutan pengaruh antara Mataram Islam, Bali, dan VOC pada abad ke-17 hingga ke-18. Dinamika politik itu membentuk karakter masyarakat Banyuwangi yang tangguh sekaligus terbuka terhadap pengaruh luar.
Penelitian Hasbiansyah Zulfahri dkk dalam jurnal Kilas Balik Sejarah Budaya Semenanjung Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur juga menegaskan bahwa kawasan timur Jawa, termasuk wilayah yang kini menjadi bagian dari Taman Nasional Alas Purwo, menyimpan jejak budaya sejak masa prasejarah, klasik (Hindu-Buddha), Islam, hingga kolonial.
Secara geografis, posisi Banyuwangi yang strategis sebagai pintu penyeberangan Jawa–Bali menjadikannya titik temu migrasi, perdagangan, dan ekspansi kekuasaan.
Di tengah arus sejarah itu, tumbuh komunitas lokal yang kini dikenal sebagai suku Osing. Dalam jurnal Traditional Beliefs Seblang the Behavior of the Osing Society karya Agus Mursidi dan Harwanti Noviandari, disebutkan bahwa tradisi Seblang bukan sekadar ritual, melainkan mekanisme sosial untuk menjaga harmoni desa.
Masyarakat Osing hidup berdampingan dengan etnis Jawa, Madura, Bali, serta komunitas Tionghoa yang dalam penelitian Siti Nurhidayah dkk (Dinamika Etnis Tionghoa di Kelurahan Karangrejo) disebut berperan penting dalam sektor perdagangan sejak masa kolonial.
Kondisi sosial masyarakat Banyuwangi hari ini mencerminkan perpaduan sejarah tersebut. Islam menjadi agama mayoritas, namun tradisi lokal tetap lestari. Arif Subekti dalam jurnal Ekspansi Kompeni Hingga Sanad Kiai-Santri mencatat bahwa proses Islamisasi di Blambangan berlangsung bertahap dan melibatkan jejaring kiai-santri yang kuat.
Hal ini membentuk kultur religius yang tetap memberi ruang bagi tradisi leluhur.
Namun sejarah Banyuwangi tak hanya berhenti pada catatan akademik. Ada mitos yang terus hidup dan justru memperkuat identitas daerah ini.
Salah satu yang paling dikenal adalah legenda asal-usul nama Banyuwangi, tentang kesetiaan Sri Tanjung yang difitnah suaminya. Konon, ketika Sri Tanjung menceburkan diri ke sungai, air yang semula keruh berubah menjadi harum “banyu wangi”. Kisah ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat dan kerap dijadikan simbol kesucian dan kesetiaan.
Tak kalah kuat adalah mitos tentang Alas Purwo yang dipercaya sebagai “tanah pertama” di Pulau Jawa sekaligus tempat berkumpulnya energi gaib. Sebagian masyarakat meyakini kawasan hutan tua itu sebagai lokasi pertapaan dan ritual spiritual hingga kini. Mitos tersebut, meski tak tercatat dalam jurnal ilmiah, berjalan berdampingan dengan temuan arkeologis yang menunjukkan adanya situs-situs kuno di kawasan tersebut.
Di tengah modernisasi, nilai sejarah dan mitos itu justru menjadi news value baru. Berdasarkan jurnal Tourism Promotion Strategy in Banyuwangi (2012–2021) karya Nadin Aisya dan Yuliati, pemerintah daerah secara strategis memanfaatkan narasi sejarah dan budaya sebagai daya tarik wisata. Festival budaya, pelestarian desa adat Osing, hingga promosi wisata sejarah menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.
Secara ekonomi, Banyuwangi kini dikenal dengan potensi pertanian, perikanan, perkebunan, serta pariwisata alam dari gunung, pantai hingga hutan tropis. Namun di balik geliat pembangunan itu, jejak Blambangan, tradisi Osing, jaringan kiai-santri, serta mitos Sri Tanjung tetap menjadi fondasi identitas.(*)







