Sekolah di Pelosok Bojonegoro Bertahan di Tengah Bangunan Reyot dan Keterbatasan Fasilitas

oleh -134 Dilihat
IMG 20260114 WA0013
Para siswa-siswi MI Bahrul Ulum Deling saat melaksanakan upacara. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co – Di tengah hamparan perbukitan Kecamatan Sekar, Bojonegoro, berdiri sebuah bangunan sederhana di Dusun Dibal, Desa Deling. Di sinilah RA-MI Bahrul Ulum Deling menjadi tumpuan harapan puluhan anak untuk mendapatkan pendidikan, meski sarana dan prasarana yang ada jauh dari kata layak.

Sekolah yang berdiri sejak 2014 itu awalnya berada di bawah naungan Yayasan Ansorul Umma. Seiring waktu, RA–MI Bahrul Ulum kini memilih berdiri sendiri dan masih dalam proses penyelesaian administrasi kelembagaan.

“Dulu yayasannya Ansorul Umma, sekarang berdiri sendiri dan masih proses,” ujar Kepala Sekolah RA–MI Bahrul Ulum Deling, Supaiti, Rabu (14/1).

Aktivitas belajar mengajar dilakukan dalam satu bangunan berukuran 14 x 6 meter yang disekat menjadi empat ruangan. Dari ruang-ruang sederhana itulah, enam kelas madrasah ibtidaiyah dan satu kelas RA melaksanakan proses belajar setiap hari.

Karena keterbatasan ruang, beberapa kelas terpaksa digabung. Kelas 1 dan 2 berada dalam satu ruangan, begitu pula kelas 3 dan 4, serta kelas 5 dan 6. Satu ruangan lainnya difungsikan sebagai kelas RA, yang setelah kegiatan selesai berganti menjadi kantor guru.

“Kelas 1 dan 2 digabung jadi satu ruangan, kelas 3 dan 4 digabung, serta kelas 5 dan 6 juga digabung. Sementara satu ruangan lagi jadi kelas RA dan kantor sekolah kalau kegiatan RA selesai,” ungkap Supaiti.

Kondisi fisik bangunan sekolah ini memprihatinkan. Lantai kelas masih berupa tanah, membuat debu mudah beterbangan saat cuaca panas dan berubah becek ketika hujan turun. Dinding dari kalsiboard banyak yang berlubang dan rusak. Atap berbahan esbes pun tampak lapuk, sehingga air kerap menetes ke dalam kelas saat hujan.

“Kalau hujan, bocor di beberapa titik. Anak-anak tetap belajar seadanya meski kondisi kelas tidak nyaman,” katanya.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, RA–MI Bahrul Ulum Deling tetap melayani 48 siswa dengan dukungan lima tenaga pendidik. Keberadaan sekolah ini sangat penting bagi warga sekitar, karena sekolah terdekat berada di Kecamatan Gondang dengan jarak sekitar 4–5 kilometer dan harus melewati jembatan.

“Harapan kami bisa memiliki gedung yang layak, supaya kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman dan aman bagi anak-anak,” tutur Supaiti.

Kepala Desa Deling, Didik Prioma, menyebut sekolah tersebut berdiri dari hasil swadaya masyarakat setempat. Semangat warga untuk menghadirkan akses pendidikan bagi anak-anak membuat sekolah ini tetap bertahan meski dengan fasilitas terbatas.

“Di Deling memang ada sekolah lain, namun jarak tempuhnya mencapai 4 sampai 5 kilometer,” ujarnya.

Pemerintah desa sebenarnya telah merencanakan alokasi dana sebesar Rp150 juta pada tahun anggaran 2026 untuk membangun ruang kelas yang lebih layak. Namun rencana itu belum tentu dapat direalisasikan akibat pemotongan anggaran dari pemerintah pusat.

“Kelihatannya sulit terealisasi karena ada pemotongan anggaran dari pusat. Jadi kami bingung harus bagaimana. Kasihan anak-anak ketika musim penghujan seperti ini,” ucap Didik.

Di bangunan sederhana dengan lantai tanah itu, anak-anak tetap datang setiap hari. Dengan buku yang terlipat dan tas sederhana di punggung mereka, mereka belajar dan bercita-cita. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.