KabarBaik.co – Selalu ada keajaiban. Termasuk di panggung besar olahraga. Dan, keajaiban itu boleh jadi buah doa yang dipanjatkan jutaan rakyat, semangat para atlet yang terus menyala, serta keyakinan bahwa nasib bisa berubah dalam sekejap mata.
Hari ini (14/12), di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, keajaiban itu bisa saja terjadi lagi bagi tim voli putri Indonesia. Laga semifinal. Mereka berdiri di pintu sejarah baru, berjuang untuk mengakhiri dominasi Thailand yang telah berlangsung panjang, 42 tahun. Merah Putih merebut emas SEA Games kali terakhir pada 1983 silam di Singapura!
Bayangkan, 42 tahun lalu, generasi emas voli putri Indonesia dipimpin legenda seperti Kartika Monim dari Papua dan Luciana Taroreh. Mereka mengalahkan Filipina 3-2 dalam final epik, membawa pulang emas satu-satunya di cabang ini.
Namun, sejak itu, Thailand terus naik tahta. Menyabet 14 gelar berturut-turut sejak 1985. Praktis tak pernah membiarkan Indonesia menang di level senior sejak 2015. Kekalahan demi kekalahan, sering kali straight sets, menjadi cerita biasa. Tapi, hari ini, di semifinal SEA Games 2025, Srikandi Merah Putih mungkin bukan lagi korban sejarah. Mereka bisa jadi pencipta sebuah keajaiban baru!
Lihat skuad yang heroik. Megawati Hangestri Pertiwi, kapten yang telah menaklukkan liga Korea dan Thailand, siap menjadi ujung tombak seperti Garuda yang sedang menerkam mangsa. Di sampingnya, Mediol Stiovanny Yoku, Syelomitha Afrilauza Wongkar, Ersandrina Devega, Pascalina Mahuze, dan Naisya Pratama Putri akan melancarkan serangan ganas yang bisa membuat pertahanan Thailand goyah.
Lalu, setter jenius Yolana Betha Pangestika dan Ajeng Nur Cahaya akan mengorkestrasi permainan seperti maestro yang menyusun simfoni kemenangan. Di lini tengah, Rika Dwi Latri, Chelsa Berliana Nurtomo, Maradanti Namira, dan Geofanny Eka Cahyaningtyas menjadi benteng tak tergoyahkan, menolak setiap smash lawan dengan blocking setinggi langit.
Sementara dua libero pemberani, Sulastri Rahma Aulia dan Indah Guretno Dwi Margiani, akan terbang menyelamatkan bola-bola mustahil, seolah jiwa bangsa tergantung pada setiap gerakan mereka.
Laga kali ini bukan pertandingan biasa. Tapi perjuangan melawan kutukan panjang, di kandang musuh dengan ribuan penonton yang akan berusaha membungkam Garuda.
Diakui, Thailand memang superior. Skuad mereka lebih tinggi, lebih berpengalaman, dengan bintang seperti Chatchu-on Moksri yang sedang on fire. Prediksi? Banyak yang bilang 3-0 atau 3-1 untuk tuan rumah. Tapi, ingat, keajaiban olahraga lahir dari momen-momen seperti ini. Satu servis tajam, satu reception sempurna, satu smash mematikan di match point – dan sejarah berubah!
Wahai rakyat Indonesia, dari ujung Aceh hingga Papua, dari pekerja kantor hingga petani di sawah, saatnya kita semua menjadi bagian dari keajaiban ini. Panjatkan doa, kirimkan energi positif, nyalakan televisi pukul 15.00 WIB, dan teriakkan dukungan kalian.
Ayo, bayangkan momen kemenangan: Stadion hening, bola jatuh di sisi Thailand, wasit mengangkat tangan untuk Indonesia. Bendera Merah Putih berkibar paling tinggi. Lagu kebangsaan bergema di Bangkok. Air mata kebanggaan mengalir di seluruh negeri. Emas yang hilang 42 tahun akhirnya berpeluang pulang lagi!
Forza Srikandi Merah Putih! Ini saatnya bangkit, patahkan rekor, dan ciptakan legenda baru. Doa kita, semangat kalian, akan menjadi bahan bakar keajaiban. Indonesia bisa! (*)







