Senator Azran Tegaskan Banjir di Jaktim Masalah Drainase dan Tata Ruang, Bukan Curah Hujan

oleh -43 Dilihat
Anggota DPD RI/MPR RI Achmad Azran

KabarBaik.co, Jakarta – Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan DKI Jakarta, Achmad Azran, yang akrab disapa Bang Azran, menyoroti kembali persoalan banjir yang terus berulang di wilayah Jakarta Timur, khususnya di Cawang, Kampung Melayu, dan sepanjang bantaran Kali Ciliwung setiap kali hujan deras mengguyur wilayah Jabodetabek.

Sebagai warga Jakarta Timur, Bang Azran menegaskan bahwa persoalan banjir di kawasan ini harus dibaca secara komprehensif dan berbasis data. Jakarta Timur memiliki luas sekitar 188 kilometer persegi dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, menjadikannya wilayah administratif terluas sekaligus salah satu yang terpadat di DKI Jakarta.

Di beberapa kecamatan seperti Jatinegara dan Kramat Jati, kepadatan penduduk telah melampaui 15 ribu jiwa per kilometer persegi. Menurut Bang Azran, kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya koefisien limpasan air hujan.

Banyak kawasan yang kini tertutup beton dan aspal, sehingga daya serap tanah menurun drastis. Akibatnya, setiap hujan dengan intensitas tinggi, air langsung mengalir ke saluran drainase yang kapasitasnya sering kali sudah tidak memadai.

“Kita tidak bisa terus menyederhanakan masalah banjir hanya sebagai akibat hujan deras. Jakarta Timur berada di hilir Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Ketika hujan tinggi terjadi di wilayah hulu seperti Bogor, debit air meningkat signifikan dan menekan kawasan rendah seperti Kampung Melayu dan Cawang. Jika pada saat bersamaan terjadi hujan lokal, maka risiko luapan meningkat,” ujar Bang Azran, Jumat (20/2).

Pria asli Betawi itu menjelaskan bahwa fenomena backwater effect atau air tertahan akibat pertemuan debit tinggi dan kapasitas sungai yang terbatas sering menjadi penyebab genangan bertahan lama.

Walaupun program normalisasi sungai telah dilakukan di sejumlah segmen, Bang Azran menilai pendekatan tersebut belum sepenuhnya menyentuh sistem drainase mikro di tingkat lingkungan.

“Masalah utama kita adalah integrasi. Sungai utama mungkin sudah diperlebar, tetapi saluran lingkungan tidak ikut ditingkatkan kapasitasnya. Banyak drainase sekunder dan tersier yang dimensinya masih seperti puluhan tahun lalu, padahal kepadatan bangunan sudah berlipat,” tegasnya.

Bang Azran juga menyoroti pembangunan sumur resapan yang perlu diawasi kualitas teknis dan efektivitas lokasinya. Ia menilai bahwa sumur resapan dapat menjadi solusi signifikan jika ditempatkan pada zona dengan tingkat limpasan tinggi dan memenuhi standar kedalaman serta material penyaring yang tepat.

“Sumur resapan bukan sekadar proyek kuantitas. Ia harus menjadi bagian dari sistem hidrologi kota yang dirancang dengan perhitungan teknis. Jika dilakukan dengan benar, ia bisa menurunkan beban saluran hingga puluhan persen saat puncak hujan,” jelas Bang Azran.

Sebagai orang yang sudah makan asam garam di bidang properti dan pembangunan, Bang Azran menekankan pentingnya memperkuat ruang terbuka hijau sebagai infrastruktur hijau kota. Ia mendorong agar taman-taman kota di Jakarta Timur tidak hanya dirancang untuk fungsi rekreasi, tetapi juga sebagai area retensi dan resapan air.

“Taman kota harus menjadi bagian dari solusi banjir. Desain lanskap bisa dibuat cekung pada titik tertentu untuk menampung air sementara saat hujan ekstrem. Ini adalah praktik yang sudah diterapkan di banyak kota maju sebagai solusi berbasis alam,” ungkapnya.

Bang Azran juga mengingatkan bahwa penanganan banjir harus dilakukan dengan pendekatan hulu hingga hilir. Koordinasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan pemerintah daerah di kawasan hulu menjadi kunci agar pengendalian debit air dapat dilakukan secara sistematis.

Sebagai Anggota DPD RI/MPR RI, Bang Azran menyatakan komitmennya untuk mendorong penguatan kebijakan pengelolaan daerah aliran sungai dan pembenahan sistem drainase perkotaan secara nasional. Ia menilai Jakarta Timur harus menjadi prioritas karena kompleksitas wilayahnya yang memadukan kepadatan penduduk, kawasan permukiman lama, serta jalur sungai utama.

“Banjir bukan takdir. Ia adalah konsekuensi dari pilihan tata ruang dan manajemen infrastruktur. Jika kita berani melakukan audit menyeluruh terhadap sistem drainase, memperbanyak ruang resapan, dan menegakkan disiplin tata ruang, maka Jakarta Timur bisa jauh lebih tangguh terhadap banjir,” pungkas Bang Azran.

Sebagai putra Jakarta Timur, Bang Azran menegaskan akan terus mengawal kebijakan penanganan banjir agar tidak berhenti pada respons darurat tahunan, melainkan menjadi transformasi permanen dalam tata kelola kota yang cerdas, berkelanjutan, dan berpihak pada keselamatan warga. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.