KabarBaik.co – Potensi singkong sebagai komoditas unggulan di kaki Gunung Anjasmoro, Wonosalam, Jombang, kini menemukan harapan baru. Berangkat dari keprihatinan terhadap harga singkong mentah yang terus rendah, seorang warga setempat berhasil mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi berupa permen tape.
Inovasi ini digagas oleh Suyanto, 46, warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Wonosalam. Sejak 2019, pria yang akrab disapa Yan tersebut konsisten mengolah singkong lokal menjadi camilan fermentasi yang kini digemari banyak kalangan.
“Waktu itu saya prihatin, harga singkong murah sekali. Petani jadi kurang sejahtera. Dari situ saya berpikir, singkong ini harus diolah supaya nilainya naik,” ujar Suyanto, Kamis (22/1).
Suyanto sengaja menggunakan singkong lokal Wonosalam sebagai bahan baku utama. Ia membelinya langsung dari petani sekitar dengan harga Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram.
Selain membantu perekonomian petani, singkong lokal dinilai memiliki karakter yang cocok untuk diolah menjadi tape berkualitas.
“Singkong dari sini memang pas. Tape yang dihasilkan bagus, aromanya keluar, dan cocok untuk diolah lebih lanjut,” kata dia.
Proses pembuatan permen tape masih mengandalkan cara tradisional. Singkong dicuci, direbus, lalu ditiriskan. Setelah itu, singkong ditaburi ragi dan ditutup daun talas selama tiga hari dua malam hingga menjadi tape.
Tape kemudian diolah bersama gula dan diaduk selama kurang lebih 45 menit hingga rasa manis merata. Adonan didiamkan, dipotong kecil-kecil, lalu dikeringkan secara alami tanpa oven.
“Cukup diangin-anginkan. Dengan cara ini, rasa alaminya tetap terjaga,” ujar Suyanto.
Dikemas dalam ukuran 150 gram, permen tape ini dijual dengan harga Rp 10.000 per bungkus. Produk tersebut kini menjadi camilan sekaligus oleh-oleh khas Wonosalam yang banyak diburu.
Pemasarannya pun kian luas, mulai dari penjualan langsung, pesanan instansi, toko swalayan di Jombang, hingga pusat oleh-oleh Dekranasda. Penjualan secara daring juga memungkinkan produk ini dikirim ke berbagai kota di luar Jawa Timur.
“Kalau dijual mentah, nilainya kecil. Tapi setelah diolah, hasilnya jauh lebih terasa. Ini bukti kalau hasil bumi bisa punya nilai tinggi asal mau berinovasi,” kata Suyanto.
Kisah Suyanto menjadi contoh nyata pengembangan UMKM berbasis potensi lokal. Inovasi permen tape ini tak hanya mengangkat nilai singkong, tetapi juga memperkaya ragam oleh-oleh khas Jombang. (*)








