KabarBaik.co – Rencana operasional bus Trans Jatim yang bakal merambah Malang Raya pada Oktober 2025 mendatang menimbulkan kekhawatiran di kalangan sopir angkutan kota (angkot) di Kota Batu. Rencana tersebut dikhawatirkan terjadi perebutan penumpang antara Trans Jatim dan angkot konvensional.
Menanggapi hal ini, Wali Kota Batu, Nurochman, memastikan bahwa hadirnya Trans Jatim tidak akan mematikan angkot. Ia menegaskan bahwa kedua moda transportasi ini memiliki segmen penumpang yang berbeda.
“Jika nanti beroperasi di Malang Raya termasuk Kota Batu, akan ada perbedaan segmen. Mayoritas pengguna Trans Jatim adalah warga luar daerah, sedangkan angkot masih banyak digunakan warga lokal Batu,” terang Nurochman di Balaikota Among Tani, Kota Batu, Kamis (10/7).
Nurochman menyatakan, selama ini mayoritas pengguna angkot adalah masyarakat setempat. Sementara Trans Jatim lebih potensial digunakan oleh wisatawan atau penumpang yang melakukan perjalanan antarkota. “Jadi tidak bisa langsung disimpulkan akan terjadi benturan. Gejolak di lapangan saya kira minim karena sudah ada segmentasi pasarnya sendiri,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Pemkot Batu juga akan mengintegrasikan layanan Trans Jatim dengan angkot lokal. Salah satunya sopir angkot tetap bisa menggunakan halte-halte Trans Jatim untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menyediakan tiga koridor Trans Jatim di wilayah Malang Raya. Tahun ini ditargetkan satu koridor mulai beroperasi, yakni rute Terminal Batu-Terminal Landungsari-Terminal Hamid Rusdi.
Bus Trans Jatim diperkirakan akan melintasi dua kecamatan di Kota Batu, yaitu Kecamatan Junrejo dan Kecamatan Batu. Sepanjang jalur tersebut, akan disediakan tiga halte, yaitu di Desa Pendem, depan Jatim Park 3, dan depan SMP Negeri 3 Batu. (*)