KabarBaik.co- Setelah hampir dua dekade menjadi penjaga gerbang keuangan Indonesia di tengah badai krisis global dan pandemi, Sri Mulyani Indrawati kini memilih panggung baru yang tak kalah bergengsi. Menjadi pengajar bagi calon pemimpin dunia di Blavatnik School of Government, University of Oxford.
Mulai 2026, mantan Menteri Keuangan (Menkeu) yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia itu akan bergabung dalam program World Leaders Fellowship. Sri Mulyani bakal berbagi ilmu dan pengalaman langsung kepada mahasiswa dari seluruh penjuru globe. Tentu, kabar ini bukan sekadar transisi karir, melainkan bukti bahwa kepemimpinan sejati tak pernah berhenti, malah terus menginspirasi generasi berikutnya, meski usianya sudah berkepala enam.
Sri Mulyani lahir pada 26 Agustus 1962 di Lampung. Lulusan terbaik dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) pada 1986, ia melanjutkan studi master dan doktor di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat. Karirnya dimulai sebagai dosen di UI, tapi kemudian cepat melonjak ke panggung nasional dan internasional.
Pada 2005-2010, Sri Mulyani menjadi Menkeu pertama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia disebut sukses mereformasi birokrasi pajak dan mengelola krisis keuangan global 2008. Lalu, setelah itu menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia (2010-2016), posisi tertinggi yang pernah dipegang orang Indonesia di lembaga tersebut.
Kembali ke Indonesia pada 2016-2024 sebagai Menkeu di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), Sri Mulyani memimpin pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covic-19, menjaga defisit anggaran, dan mendorong reformasi fiskal yang diakui dunia. Prestasi itu membuatnya sering disebut sebagai salah satu menteri keuangan terbaik di dunia oleh majalah Forbes dan The Economist.
Kini, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Menkeu, Sri Mulyani memilih jalur pendidikan. “Ini adalah kehormatan bagi saya untuk bergabung dengan Blavatnik School of Government sebagai World Leaders Fellow di University of Oxford, lembaga pendidikan terkemuka dunia,” ujarnya dalam pengumuman resmi.
Di BSG, Sri Mulyani akan mengajar mahasiswa Master of Public Policy (MPP), yang berfokus pada kepemimpinan efektif, reformasi ekonomi, dan kebijakan untuk negara berkembang. Hal ini sejalan dengan visinya untuk menciptakan pemimpin yang lebih baik bagi dunia.
Reputasi Blavatnik School of Government
Dari sumber resmi, Blavatnik School of Government didirikan pada 2010 berkat donasi filantropis Len Blavatnik, dan merupakan bagian dari University of Oxford. Kampus nomor satu dunia menurut Times Higher Education 2025. Sekolah BSG ini fokus pada pendidikan kebijakan publik, riset, dan solusi tantangan global seperti perubahan iklim, ketidakadilan sosial, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Visi BSG: A world better led, better served, and better governed.
Kredibilitas BSG tak diragukan. Sebagai institusi global, sekolah ini telah mendidik lebih dari 1.000 alumni dari 120 negara. Termasuk program MPP satu tahun yang intensif dan kompetitif. Gedungnya, dirancang arsitek pemenang Pritzker Herzog & de Meuron, menjadi simbol keterbukaan dan kolaborasi.
Dalam ranking, program public policy Oxford sering masuk top 10 dunia, seperti di QS World University Rankings untuk Politics & International Studies. BSG juga punya dampak nyata melalui riset seperti Blavatnik Index of Public Administration, yang mengukur kualitas pemerintahan global.
Meski relatif muda, BSG telah melahirkan alumni yang kini menduduki posisi kunci di pemerintahan dan organisasi internasional. Beberapa nama terkenal yang sering disebut publik antara lain Michaelle Jean, alumni yang menjadi Gubernur Jenderal Kanada (2005-2010), tokoh perempuan pertama keturunan Afrika di posisi itu. Ia kini aktif di UNESCO dan advokasi hak asasi manusia.
Selain itu, Viktorya Aydinyan, alumni MPP yang kini menjabat Kepala Kantor Wakil Perdana Menteri Armenia, memimpin reformasi administrasi publik di negaranya. Lalu, Blaise Fasel, lulusan yang menjadi Sekretaris Jenderal Partai Pusat Swiss, aktif dalam politik nasional dan isu lingkungan. Juga, Adnan Zaylani Mohamad Zahid, alumni dari Malaysia yang kini Wakil Gubernur Bank Negara Malaysia, berkontribusi pada stabilitas keuangan Asia.
Dari Indonesia, meski alumni BSG masih relatif baru, ada nama-nama potensial seperti Jesita Ajani (kandidat DPhil, peneliti ekonomi gender di J-PAL dan Oxford), serta alumni MPP seperti Yurgen Alifia (aktivis kebijakan dan mantan jurnalis) dan Gitarani Prastuti (analis pajak di Direktorat Jenderal Pajak). Mereka mewakili gelombang baru pemimpin Indonesia yang terinspirasi dari BSG.
Selain alumni, program World Leaders Fellowship BSG juga menarik tokoh global seperti mantan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, yang berbagi pengalaman serupa dengan Sri Mulyani.
Kehadiran Sri Mulyani di BSG bukan hanya prestasi individu, tapi juga membuka pintu bagi talenta Indonesia untuk belajar di institusi elite. Dengan beasiswa penuh hingga 76 persen untuk mahasiswa MPP, BSG menjadi harapan bagi anak muda. Kabar baik ini mengingatkan bahwa kepemimpinan tak berhenti di jabatan, tapi terus mengalir melalui pendidikan. (*)







