Tak Mau Tenggelam di Zona Merah, Persik Kediri Gila-gilaan di Bursa Transfer

oleh -338 Dilihat
PERSIK SUPORTER
Suporter Persik Kediri (Foto IG Persik)

KabarBaik.co- Persik Kediri menjadi salah satu klub paling agresif di bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026. Dalam waktu kurang dari sepekan, manajemen Macan Putih langsung melakukan manuver besar. Mendatangkan lima pemain sekaligus. Bukan sekadar tambal sulam, tetapi langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Persik tidak ingin makin tenggelam di papan bawah.

Tiga nama asing didatangkan untuk mendongkrak kualitas tim. Yakni, Chechu Meneses dan dua gelandang kreatif asal Spanyol, Jon Toral dan Adrian Luna dari Uruguay. Kehadiran mereka dilengkapi masuknya dua pemain lokal berpengalaman, Rizaldi dan Hamra Hehanusa, yang dipinjam dari Persib Bandung. Seluruh rekrutan itu memang berstatus pinjaman. Namun, dampaknya diyakini akan langsung terasa di putaran kedua.

Chechu Meneses didatangkan dari Malut United, sementara Jon Toral dan Adrian Luna “bedol desa” dari Liga Super India. Kompetisi tersebut tengah mengalami guncangan finansial, yang membuka peluang bagi klub-klub Asia Tenggara, termasuk Persik, untuk merekrut pemain berkualitas dengan biaya relatif terjangkau.

Di sisi lain, Rizaldi dan Hamra Hehanusa dilepas Persib karena minim menit bermain, walaupun kualitas keduanya tak perlu diragukan. Bagi Hamra, kepindahan ini terasa spesial karena ia kembali ke klub yang pernah dibelanya selama tiga musim dan menjadi andalan lini belakang.

Manajer Tim Persik, Syahid Nur Ichsan, menegaskan bahwa pergerakan ini merupakan hasil evaluasi menyeluruh tim pelatih. Semua pemain yang direkrut merupakan rekomendasi langsung pelatih Marcos Reina, yang ingin Persik tampil lebih kompetitif di putaran kedua.

Dengan masuknya tiga pemain asing baru, slot pemain impor Persik kini sudah penuh. Namun untuk pemain lokal, manajemen masih membuka peluang menambah satu nama lagi jika kebutuhan tim mengharuskan.

Masifnya perombakan tersebut tentu memunculkan efek domino. Dua bek tengah asing, Lucas Gama dan Khurshidbek Mukhtarov, resmi dilepas karena dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan tim. Sementara pemain muda Haikal Rehar Dhiva dipinjamkan ke Persela Lamongan agar mendapat jam terbang lebih banyak di Championship. Manajemen menilai, keputusan melepas dan meminjamkan pemain adalah bagian dari dinamika profesional yang tak terpisahkan dari sepak bola modern.

Pergerakan agresif Persik ini tak bisa dilepaskan dari situasi klasemen. Hingga paruh musim, Macan Putih masih tertahan di posisi ke-13 dengan koleksi 19 poin dari 17 pertandingan. Catatan lima kemenangan dan delapan kekalahan jelas belum mencerminkan ambisi klub yang ingin stabil di kasta tertinggi. Jarak dengan zona merah memang belum kritis, tetapi persaingan papan bawah semakin ketat. Sejumlah tim lain juga mulai menggeliat di bursa transfer, membuat putaran kedua diprediksi jauh lebih panas.

Karena itu, langkah Persik bisa dibaca sebagai alarm bagi tim-tim lain. Klub asal Kediri ini tak ingin sekadar bertahan hidup, tetapi siap mengubah peta persaingan. Jika para pemain anyar mampu beradaptasi cepat, Persik berpotensi menjelma menjadi “kuda hitam” yang merepotkan, bahkan bagi tim papan atas.

Putaran kedua Super League 2025/2026 pun kini memasuki fase krusial. Dengan manuver besar Persik Kediri, pesan yang dikirim jelas. Kompetisi belum selesai, dan pertarungan menuju papan tengah hingga zona degradasi akan berlangsung jauh lebih sengit dari paruh musim pertama.

Sejarah Persik Kediri

Nama Arthur Irawan dalam beberapa tahun terakhir menjadi bagian penting dari perjalanan Persik Kediri. Sosok yang dulu dikenal sebagai pemain profesional itu kini berdiri di posisi paling strategis: owner klub berjuluk Macan Putih.

Perjalanan Arthur menuju kursi kepemilikan Persik bukanlah cerita instan, melainkan kelanjutan dari sejarah panjang klub yang lahir, berjaya, jatuh, lalu bangkit kembali.

Persik berdiri pada tahun 1950 dan menjadi salah satu klub tradisional Jawa Timur dengan basis suporter yang cukup kuat. Namun, Persik baru benar-benar mencuri perhatian nasional pada awal era 2000-an. Momentum itu datang ketika klub dikelola secara agresif dan berani oleh manajemen lokal, dengan nama Iwan Budianto sebagai figur sentralnya.

Di masa itu, struktur kepemilikan klub sepak bola Indonesia belum berbasis korporasi seperti sekarang. Klub banyak digerakkan oleh tokoh daerah, relasi politik, dan jejaring personal di sepak bola nasional. Dalam konteks itulah peran Iwan Budianto menjadi sangat dominan.

Iwan Budianto dikenal sebagai manajer Persik yang berani mengambil keputusan besar. Dia membawa Persik menembus kasta tertinggi dan secara mengejutkan menjuarai Liga Indonesia 2003, prestasi yang mengubah status Persik dari klub daerah menjadi kekuatan nasional.

Tiga tahun berselang, Persik kembali mencatat sejarah dengan meraih gelar juara Liga Indonesia 2006. Pada era itu, Persik bukan hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga menjadi salah satu wakil Indonesia di kompetisi Asia. Nama-nama besar seperti Ronald Fagundez, Danilo Fernando, hingga pemain lokal ikonik lahir dari periode ini.

Di luar Persik, Iwan Budianto juga dikenal sebagai figur penting di PSSI. Dia pernah duduk di Komite Eksekutif PSSI dan memiliki pengaruh kuat dalam dinamika sepak bola nasional. Terutama pada era transisi kompetisi Indonesia pascareformasi liga. Jaringan dan pengalamannya di PSSI membuat Persik di masa itu relatif solid secara organisasi dan disegani di level nasional. Namun, seiring waktu, perubahan sistem sepak bola Indonesia mulai menuntut profesionalisme yang lebih ketat.

Memasuki akhir 2000-an hingga 2010-an, Persik perlahan kehilangan stabilitas. Setelah era kejayaan, klub mengalami penurunan prestasi, konflik internal, dan masalah finansial. Persik sempat terdegradasi, berjuang di kasta bawah, bahkan nyaris kehilangan identitasnya sebagai klub elite. Masa ini menjadi periode paling berat dalam sejarah Persik, ketika romantisme masa lalu belum diimbangi dengan manajemen modern yang berkelanjutan.

Kebangkitan mulai terasa ketika Persik kembali promosi ke Liga 1 pada 2020. Di tengah upaya menata ulang klub, terjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan. Persik kini dikelola secara korporatif di bawah PT Kediri Djajati Perkasa. Pada 2022, PT Astar Asia Global masuk sebagai pemegang saham mayoritas. Di balik perusahaan inilah berdiri Arthur Irawan.

Arthur Irawan bukan sosok asing bagi sepak bola Indonesia. Lahir di Surabaya pada 1993, ia menempuh jalur yang jarang dilalui pemain lokal dengan merintis karier di Eropa. Dia sempat menimba pengalaman di Spanyol dan Belgia sebelum kembali ke Indonesia dan memperkuat sejumlah klub Liga 1, termasuk Persik Kediri.

Berbeda dengan kebanyakan pemain, Arthur juga membangun latar belakang bisnis, khususnya di industri digital dan game development. Kombinasi pengalaman internasional, sepak bola profesional, dan bisnis inilah yang kemudian membawanya ke level kepemilikan klub.

Ketika Arthur resmi menjadi owner Persik, dia memilih langkah yang cukup jarang. Yakni, berhenti sebagai pemain dan fokus penuh di manajemen. Di bawah kepemimpinannya, Persik mencoba menyeimbangkan idealisme sepak bola dengan realitas bisnis modern.

Target tidak lagi semata gelar instan, melainkan stabilitas finansial, pembinaan, dan konsistensi bertahan di Liga 1. Prestasi Persik di era ini memang belum kembali ke level juara seperti masa emas Iwan Budianto, tetapi klub menunjukkan tanda-tanda kedewasaan sebagai entitas profesional.

Naik turunnya Persik Kediri kini menjadi cerminan perubahan sepak bola Indonesia itu sendiri. Dari klub daerah yang digerakkan figur kuat, menuju klub profesional berbasis korporasi dan tata kelola modern. Iwan Budianto akan selalu dikenang sebagai simbol kejayaan dan romantisme masa lalu, sementara Arthur Irawan menjadi representasi generasi baru yang mencoba membawa Persik bertahan dan berkembang di era sepak bola industri.

Perjalanan Persik belum selesai. Namun dengan sejarah panjang, basis suporter yang loyal, serta kepemimpinan yang memahami sepak bola dari dalam dan luar lapangan, Macan Putih kembali memiliki fondasi untuk menatap masa depan tanpa melupakan masa lalunya. Akankah Persik mampu terus bertahan di tengah badai dan gelombang sepak bola Indonesia? (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.