KabarBaik.co, Padang Pariaman – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti lambatnya penanganan sawah terdampak bencana saat meninjau langsung lokasi di Desa Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa (14/4). Meski anggaran rehabilitasi telah tersedia sejak awal tahun, proses pemulihan di lapangan dinilai belum berjalan optimal.
Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah pusat telah bergerak cepat sejak awal bencana terjadi, termasuk menyalurkan berbagai bantuan untuk percepatan pemulihan sektor pertanian. Namun, ia menyayangkan implementasi di daerah yang masih tersendat akibat persoalan birokrasi dan koordinasi.
“Anggaran sudah ada sejak Januari di provinsi. Kami minta provinsi dan kabupaten segera kolaborasi menyelesaikan dalam waktu singkat. Tapi yang kami lihat di lapangan masih lambat,” kata Mentan Amran.
Ia mengungkapkan, pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran besar untuk pemulihan di wilayah terdampak. Untuk rehabilitasi sawah rusak seluas sekitar 7.000 hektare di Sumatera Barat, seluruh pembiayaan menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Khusus Sumatera Barat, bantuan dari Kementerian Pertanian mencapai Rp455 miliar. Jadi tidak ada alasan untuk lambat,” ujarnya.
Mentan Amran menilai lambannya penanganan lebih disebabkan oleh rantai birokrasi yang terlalu panjang serta lemahnya komunikasi antarlevel pemerintahan. Padahal, menurutnya, pencairan anggaran dari pusat telah dilakukan secara cepat begitu permintaan daerah disampaikan.
“Pusat begitu ada permintaan langsung kami cairkan. Tapi di bawah ini mungkin masih berproses terlalu lama. Ini yang harus diperbaiki,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Mentan Amran memberikan peringatan tegas kepada jajaran pemerintah daerah agar segera mempercepat pekerjaan di lapangan. Ia meminta seluruh proses rehabilitasi sawah dapat diselesaikan dalam waktu maksimal satu bulan.
“Tadi sudah berjanji satu bulan selesai. Kalau tidak serius, bantuan berikutnya saya tarik kembali ke pusat dan kita pindahkan ke daerah yang lebih siap,” tegasnya.
Ia bahkan menekankan bahwa penanggung jawab kegiatan di lapangan harus memastikan pekerjaan berjalan tanpa jeda hingga tuntas. “Penanggung jawab jangan pulang sebelum selesai. Ini peringatan terakhir,” imbuhnya.
Dalam kunjungan tersebut, Mentan Amran juga menyoroti fakta di lapangan bahwa sebagian petani baru mulai menggarap sawah pada hari kunjungan berlangsung. Hal ini semakin memperkuat indikasi lambatnya respon penanganan pascabencana.
“Jangan sampai alat berat turun hanya saat kita datang. Ini tidak boleh terjadi lagi. Kita ini pelayan rakyat, tugas kita memastikan mereka bisa segera kembali tanam dan berproduksi,” ujarnya.
Meski demikian, Mentan Amran memastikan pemerintah tetap berkomitmen penuh dalam memulihkan seluruh lahan pertanian terdampak. Ia menegaskan bahwa sesuai arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bahwa seluruh sawah yang rusak akan direhabilitasi hingga dapat kembali produktif.
“Insya Allah seluruh sawah rusak menjadi tanggung jawab pemerintah untuk diselesaikan. Tapi daerah juga harus gerak cepat,” katanya.
Sebagai bagian dari percepatan, Kementerian Pertanian juga mengerahkan berbagai dukungan, termasuk bantuan alat dan mesin pertanian, serta mendorong kolaborasi lintas sektor dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Kementerian PU untuk mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi.
Kunjungan ini menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak hanya hadir dengan bantuan, tetapi juga memastikan pelaksanaan di lapangan berjalan cepat dan tepat sasaran, agar petani terdampak dapat segera bangkit dan kembali berproduksi.(*)







