Terapkan Program SRI, Cara Sukowati Field Atasi Petani Gagal Panen di Tuban

oleh -512 Dilihat
WhatsApp Image 2024 10 17 at 14.43.30
Petani dan karwayan Pertamina EP Sukowati saat meninjau lokasi lahan pertanian di ring 1 proyek. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co – Pertamina EP Sukowati Field melakukan berbagai trobosan untuk mengatasi petani gagal panen di kawasan ring 1 Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Salah satunya dengan menerapkan progam sistem pertanian organik metode system of rice intensification (SRI).

Program tersebut merupakan penerapan pertama kali di Kebupaten Tuban. Inovasi ini bahkan mampu mendongkrak pendapatan petani gurem menjadi Rp 10,2 juta per musim dan penghematan produksi pertanian Rp 2,8 juta/hektare/musim.

Manager Sukowati Field, Arif Rahman Hakim mengatakan, program Prabu Kresna berhasil menjawab masalah-masalah isu nasional saat ini. Seperti permasalahan krisis pupuk serta permasalahan ancaman ketahanan pangan.

Melalui pengelolaan pertanian organik dengan metode SRI, lanjut Arif, program ini tidak hanya berdampak secara ekonomi pada penghematan biaya produksi dan peningkatan hasil panen dan pendapatan petani. Tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan juga perbaikan kelestarian lingkungan.

”Khususnya pada aspek perbaikan tanah lahan pertanian serta perbaikan rantai ekosistem sawah. Terlebih pada tahun ini, program prabu kresna juga mulai mengembangkan aspek teknologi dengan adanya alat penyiang padi cakra baskara yang sangat membantu petani dalam menggarap pertanian organik SRI dengan efisiensi sebesar 70,96 persen,” ujar Arif.

Menurut Arif, penerapan pertanian organik yang menghilangkan intervensi herbisida kimia pada proses pertanian, menyebabkan gulma pada lahan pertanian cenderung lebih banyak. Sekaligus membuat kebutuhan tenaga serta waktu penyiangan padi semakin tinggi mencapai 62 OH (orang hari)/hektare/musim.

Arif menjelaskan, sebagai solusi atas masalah tersebut, PEP Sukowati bersama masyarakat mengembangkan inovasi Cara Kreatif Basmi Akar dan Rumput Tak Berguna atau yang disingkat Cakra Baskara. Langkah ini merupakan inovasi teknologi alat penyiang padi dengan modifikasi mata pisau pembersih rumput dan pemotong akar padi yang secara khusus didesain sesuai dengan ukuran jarak tanam pada pertanian organik SRI.

Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur Fitri Erika mengungkapkan, dalam mewujudkan ketahanan energi melalui keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi, Regional Indonesia Timur juga berupaya untuk selalu memberikan manfaat jangka panjang kepada pemangku kepentingan, utamanya masyarakat lokal.

”Kami ingin masyarakat di wilayah operasi menjadi mandiri, dapat mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi dengan memaksimalkan potensi lokal yang tersedia,” ungkap Fitri Erika. Inovasi ini juga telah mendapatkan pengakuan paten dengan Nomor Paten: IDS000007700 per tanggal 15 Maret 2024.

Penerapan inovasi teknologi ini memberikan dampak yang signifikan terhadap efisiensi proses dan waktu penyiangan lahan pertanian organik. Efisiensi mencapai 70,96% yang artinya dapat menghemat kebutuhan tenaga kerja sampai 44 OH/Ha/musim dan menghemat biaya hingga Rp 4,4 juta/Ha/musim tanam, tergantung kondisi gulma rumput yang ada.

Di tempat yang sama, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Soko, Tuban, Akhwan memaparkan, pertanian organik metode SRI binaan PEP Sukowati  ini merupakan sistem pertanian dengan metode khusus, mulai proses penyiapan lahan, pembibitan, metode tanam yang berbeda, proses irigasi khusus, intervensi dalam pertumbuhan padi, hingga pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL) dengan proses pembuatan khusus.

“Pertanian organik metode SRI di Desa Rahayu ini menjadi pionir pertama, sebelum akhirnya kini direplikasi di beberapa wilayah sekitarnya, seperti Desa Sawahan, Kecamatan Rengel dan bahkan hingga ke wilayah Kabupaten Bojonegoro,” beber Akhwan.

Ketua Gapoktan Rahayu, Sutikno mengatakan, dalam proses pembuatan pupuk organik cair ini, menggunakan bahan dasar nasi dan bonggol pisang. Dalam prosesnya, nasi berperan sebagai dekomposer atau starter bakteri pengurai berupa trichoderma pada pembuatan pupuk kompos sekaligus pada lahan pertanian secara langsung.

“Penggunaan MOL nasi berdampak mempercepat proses pembuatan kompos 3 kali lebih cepat dan membantu menambah nutrisi sehingga menyuburkan tanah,” katanya. Sementara, MOL bonggol pisang (bopis) berperan sebagai zat pengatur tumbuh stimulan untuk penambahan anakan pada tanaman padi. Pada pertanian konvensional, rata-rata dari 10 bibit yang ditanam hanya menjadi 40 anakan.

“Sementara pada pertanian organik SRI menggunakan MOL bopis, dari 1 saja bibit yang ditanam dapat berkembang menjadi 40-120 anakan,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.