KabarBaik.co- Nama Shin Tae-yong (STY), pelatih Timnas Indonesia, tengah trending topic di media social X (dulu Twitter). Kabar yang berkembang, pelatih asal Korea Selatan (Korsel) itu berpeluang tidak lagi menjadi juru taktik Skuad Garuda. PSSI bakal memutus kontraknya dan mengganti dengan pelatih baru. Namun, kepastiannya masih menunggu.
Nama STY trending topic setelah banyak warganet mengunggah hasil tangkapan layar postingan Kairul Anwar, salah seorang Anggota Komite (Exco) PSSI, di akun media sosial. “Terima kasih STY atas kebersamaannya selama ini, kamu tetap menjadi bagian sejarah transformasi sepakbola Indonesia,” tulisnya di akun Instagram @kairulanwar_1.
Untuk diketahui, Exco PSSI merupakan jabatan tinggi di tubuh PSSI. Exco terdiri atas satu ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 anggota, yang salah satunya adalah perempuan. Dengan begitu, Exco PSSI beranggotakan 15 orang. Mereka itulah yang menjadi sosok di balik beberapa keputusan penting dalam menentukan arah sepak bola Indonesia. Termasuk, penunjukan pelatih Timnas Indonesia.
Nah, unggahan Anggota Exco PSSI tersebut kemudian memunculkan tafsir. Jadi sinyal bahwa STY bakal mengakhiri kepelatihannya di timnas Indonesia. Sejak melatih skuad Merah-Putih, memang beberapa kali muncul juga kekecawaan masyarakat bola tanah air terhadap STY. Lalu, biasanya disusul tagar #STYOut berseliweran di beranda media sosial. Terakhir, pada Piala AFF 2024 lalu. Timnas Indonesia gugur di kualifikasi grup. Kalah dengan Vietnam dan Filipina.
STY mulai melatih Timnas Indonesia pada akhir 2019. Ia ditunjuk PSSI untuk membesut berbagai level timnas. Mulai dari senior hingga kelompok umur.
Sejatinya, prestasi STY bersama Timnas Indonesia terbilang membanggakan. Terutama dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa pencapaian signifikan itu antara lain meloloskan timnas Indonesia ke putaran final Piala Asia 2023. Capaian ini merupakan kali pertama dalam waktu yang cukup lama.
Selain itu, terjadi perbaikan peringkat Indonesia dalam rangking FIFA. Di bawah asuhan STY, peringkat FIFA Timnas Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan. Saat STY mulai melatih timnas, peringkat FIFA untuk Indonesia berada di urutan 173 pada 2020. Saat ini, berada di posisi 130 atau turun dua peringkat dibandingkan sebelumnya.
Prestasi spektakuler lainnya yang masih berjalan dan dinanti-nantikan jutaan publik sepak bola tanah air adalah lanjutan Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Dengan berlapis para pemain naturalisasi, Skuad Garuda sukses mengalahkan Timnas Arab Saudi saat bermain kendang di Stadion GBK dengan skor 2-0, serta sebelumnya menahan imbang 0-0 ketika laga tandang. Indonesia juga sukses menahan timnas Australia dan Bahrain.
Selanjutnya, Timnas Garuda akan menjalani tiga laga lanjutan ’’hidup-mati’’ untuk dapat merebut tiket ke Piala Dunia 2026. Yakni, bermain tandang ke Australia pada 20 Maret 2025. Lalu, menjamu Bahrain (25 Maret 2024) dan menjamu China (5 Juni 2025). Laga terakhir berhadapan di kendang Jepang 10 Juni 2025. Timnas Indonesia wajib mengantongi poin maksimal untuk dapat menjaga asa merumput ke Piala Dunia.
Saat ini, Indonesia menempati peringkat ketiga Grup C dengan 6 poin. Peringkat pertama ditempati Jepang dengan 16 poin dan runner up Australia 7 poin. Adapun Timnas Arab Saudi, Bahrain, dan China, juga sama-sama mengoleksi 6 poin. Namun, Indonesia masih menang agregat gol.
Nah, jika kabar STY betul akan dilepas oleh PSSI, maka jelas menjadi tugas dan beban berat bagi pelatih baru. Maklum, asa dan ekspektasi masyarakat sepak bola Indonesia sedang membuncah. Lolos ke Piala Dunia, jelas merupakan mimpi panjang. Kans untuk memperbaiki rangking FIFA menjadi Top 100, tentu sangatlah besar. Sejauh ini, negara Asia Tenggara yang nangkring di Top 100 adalah Vietnam dan Thailand.
Sementara itu, ada kabar bahwa sebuah media Italia Tuttosport menyebutkan bahwa PSSI di bawah pimpinan Ketua Umum Erick Thohir akan mengganti STY dengan pelatih asal Eropa, sebelum pertandingan lanjutan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Kabar itu termuat dalam berita dengan judul “Thohir Ingin Piala Dunia: Pelatih Eropa untuk Indonesia” yang ditulis pada 30 Desember 2024. Tuttosport berpendapat, strategi pelatih Asia yang banyak mengandalkan fisik, kini sudah tidak cukup dapat memuaskan dengan permainan timnas Garuda. Sebab, saat ini timnas Indonesia banyak dihuni para pemain yang merumput di Eropa.
Beda Pelatih Asia dan Eropa
Dihimpun dari berbagai sumber, memang terdapat beberapa perbedaan ciri dan karakter yang seringkali terlihat antara pelatih sepak bola asal Asia dan Eropa. Namun, perbedaan ini bersifat generalisasi, yang tentu terdapa banyak pengecualian. Sebab, terlepas dari asalnya, setiap pelatih tentu memiliki gaya dan kepribadiannya masing-masing. Berikut beberapa perbedaan umum yang sering dibahas:
Pelatih Eropa:
- Taktik dan Strategi: Cenderung lebih menekankan pada taktik dan strategi yang kompleks dan inovatif. Mereka sering kali menerapkan formasi dan sistem permainan yang berbeda-beda, serta berani bereksperimen dengan taktik baru. Mereka juga cenderung lebih detail dalam analisis pertandingan dan persiapan taktik.
- Fisik dan Intensitas: Seringkali menekankan pada aspek fisik dan intensitas permainan. Latihan fisik yang keras dan intensitas tinggi dalam pertandingan menjadi ciri khas. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh iklim kompetisi di Eropa yang sangat ketat dan mengandalkan fisik yang prima.
- Komunikasi dan Ekspresi: Cenderung lebih terbuka dan ekspresif dalam berkomunikasi, baik dengan pemain, media, maupun publik. Mereka tidak ragu untuk mengkritik atau memuji secara terbuka, dan seringkali menunjukkan emosi yang kuat di pinggir lapangan.
- Otoritas dan Disiplin: Umumnya memiliki otoritas yang kuat dan menerapkan disiplin yang ketat di tim. Mereka memiliki kendali penuh atas tim dan menuntut kepatuhan dari para pemain.
- Adaptasi: Cukup adaptif dengan perubahan dan tren sepak bola modern. Mereka cenderung cepat mengadopsi taktik dan teknologi baru untuk meningkatkan performa tim.
Pelatih Asia:
- Harmoni dan Kolektivitas: Cenderung lebih menekankan pada harmoni tim dan kolektivitas. Mereka membangun hubungan yang dekat dengan para pemain dan mengutamakan kebersamaan tim.
- Disiplin dan Kerja Keras: Sangat menekankan pada disiplin dan kerja keras. Latihan yang disiplin dan fokus pada dasar-dasar sepak bola menjadi ciri khas. Hal ini seringkali dikaitkan dengan budaya Asia yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.
- Kesabaran dan Proses: Cenderung lebih sabar dan fokus pada proses pengembangan tim. Mereka tidak terburu-buru untuk meraih hasil instan dan lebih mementingkan perkembangan jangka panjang.
- Komunikasi yang Lebih Halus: Umumnya memiliki gaya komunikasi yang lebih halus dan tidak terlalu ekspresif. Mereka cenderung menghindari konflik terbuka dan lebih mengutamakan harmoni.
- Adaptasi dengan Budaya Lokal: Cenderung lebih beradaptasi dengan budaya lokal di mana mereka melatih. Mereka berusaha memahami dan menghormati nilai-nilai budaya setempat.
Ada sejumlah faktor yang mungkin dapat mempengaruhi perbedaan ciri dan karakter pelatih Asia dan Eropa. Pertama, budaya. Tentu, perbedaan budaya bisa mempengaruhi gaya komunikasi, kepemimpinan, dan pendekatan dalam melatih. Kedua, sejarah perkembangan sepak bola di Eropa lebih panjang dan matang. Ini juga dapat memberikan pengaruh pada taktik dan strategi yang lebih kompleks.
Ketiga, sistem pendidikan kepelatihan di Eropa yang lebih terstruktur dan berstandar tinggi, juga berkontribusi pada kualitas pelatih dan kepelatihan. Keempat, diakui atau tidak, lingkungan kompetisi di Eropa terbilang sangat ketat dan kompetitif sehingga menuntut pelatih untuk lebih inovatif dan adaptif.
Kendati demikian, penting diingat bahwa generalisasi tersebut memiliki banyak pengecualian. Ada banyak pelatih Asia yang juga menerapkan taktik modern dan ekspresif, serta ada pelatih Eropa yang lebih mengutamakan harmoni tim.
Selain itu, seiring dengan sepak bola global, perbedaan-perbedaan ini tampaknya makin memudar. Banyak pelatih Asia yang telah belajar dan berkarir di Eropa. Demikian juga sebaliknya. Karena itu, telah terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang saling memperkaya.







