KabarBaik.co, Bojonegoro – Harapan baru bagi pelestarian keanekaragaman hayati muncul dari kawasan hutan jati Bojonegoro. Tim gabungan dari Geopark Bojonegoro dan para akademisi berhasil menemukan 27 individu Anggrek Larat Hijau (Dendrobium capra) dalam Ekspedisi Pencarian yang digelar di sejumlah titik di kawasan hutan Bojonegoro.
Ekspedisi ini diprakarsai oleh Tim Pendamping Teknis Geopark Bojonegoro bersama LPPM dan Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro), Jelajah Taman Bumi, serta melibatkan relawan lintas program studi. Kolaborasi juga melibatkan Prodi Biologi Unirow Tuban, SMKN 4 Bojonegoro, Politeknik Energi dan Mineral AKA Migas, hingga masyarakat umum.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya semangat kolaborasi dalam menjaga kekayaan alam daerah, khususnya spesies anggrek langka yang menjadi bagian penting dari identitas hayati Bojonegoro.
Akademisi sekaligus penggiat geopark bidang konservasi keanekaragaman hayati, Dr. Laily Agustina Rahmawati, mengungkapkan bahwa hasil ekspedisi melampaui ekspektasi awal tim. Dari total 27 individu yang ditemukan, tujuh di antaranya berada di area makam dekat Terminal Betek, sementara 20 individu lainnya ditemukan di RPH Dodol.
“Jumlah ini jauh melampaui perkiraan kami. Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa alam Bojonegoro masih menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa dan layak diperjuangkan,” ujarnya, Rabu (18/2).
Menurut Laily, keberadaan Anggrek Larat Hijau sangat bergantung pada habitat alaminya, yakni pohon jati berusia tua. Di RPH Dodol, sebagian tegakan jati bahkan telah mencapai usia sekitar 100 tahun. Selama habitat tersebut tetap terjaga dan tidak mengalami penebangan, peluang pelestarian di habitat asli dinilai masih sangat terbuka.
Namun demikian, status kawasan sebagai hutan produksi menjadi tantangan tersendiri dalam upaya konservasi. Karena itu, diperlukan koordinasi dan langkah strategis bersama para pemangku kepentingan, termasuk Perhutani, untuk mendorong penetapan area tertentu sebagai kawasan konservasi.
“Untuk kepentingan UNESCO Global Geopark (UGGp), sebaiknya lokasi di RPH Dodol yang kemarin ditemukan 20 individu dapat ditetapkan sebagai area konservasi,” tambahnya.
Keanekaragaman hayati menjadi fondasi penting dalam penguatan Geopark Bojonegoro. Melindungi spesies langka seperti Dendrobium capra bukan hanya tentang menjaga satu jenis tanaman, tetapi juga menjaga masa depan kawasan serta memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Ekspedisi ini diharapkan menjadi pijakan awal gerakan kolaboratif yang lebih luas demi melindungi, merawat, dan membanggakan Bojonegoro. Sebab ketika alam dijaga dengan kesadaran dan komitmen bersama, keberlanjutan kehidupan pun akan tetap terjamin. (*)






