KabarBaik.co – Di usia yang sudah senja, Paimah (70), warga Desa Pulo Lor, kecamatan/kabupaten Jombang, harus menjalani kehidupan yang sangat memprihatinkan.
Ia tinggal di sebuah rumah bambu yang tak layak huni di sempadan jalan desa. Setiap hari, nenek Paimah hanya mengandalkan belas kasihan tetangga untuk bertahan hidup.
Sehari-hari, nenek renta ini tak lagi mampu bekerja. Kadang ia terpaksa meminta-minta di jalanan demi mendapatkan sesuap nasi. Paimah telah menempati rumah reyotnya selama enam tahun terakhir.
Ia kehilangan rumah dan tanah miliknya setelah terpaksa menjualnya demi biaya pengobatan sang suami, yang akhirnya meninggal dunia. Kini, ia harus menghidupi seorang cucunya yang masih kecil, setelah ditinggal ibunya merantau ke luar pulau.
“Sudah enam tahun (tinggal di rumah ini), dari Pak Lurah (tanah sepmadan jalan desa). Rumah sudah dijual buat berobat suami. Saya minta di jalan-jalan, jadi saya cari makan sendiri,” ucap Paimah pada Rabu (27/8).
Meski terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah dengan nilai bantuan sebesar Rp 600 ribu per bulan, jumlah tersebut dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi harus menyekolahkan cucunya.
“Dapat PKH Rp 600 ribu nggak cukup, ya dicukup-cukupkan. Buat jajan cucu, juga uang saku sekolah. Kalau (rumah) ambruk ya apes saja,” katanya pasrah.
Kondisi Paimah memantik keprihatinan sejumlah warga sekitar. Joko, salah satu tetangga, kerap memberikan bantuan ala kadarnya untuk membantu meringankan beban hidup sang nenek.
“Ini saya beri beras sama ada rezeki sedikit, buat Mbah Paimah untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Warga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar kehidupan Mbah Paimah bisa lebih layak, setidaknya dengan tempat tinggal yang aman dan layak huni. (*)






