Tragedi Medan Sunggal, Tragedi Pendidikan, Tragedi Nasional

oleh -351 Dilihat
MURDER MISTERY
Gambar ilustrasi.

PERISTIWA di Medan Sunggal layak dicatat sebagai salah satu tragedi memilukan sepanjang tahun 2025. Betapa tidak, bukan hanya karena kekerasan itu terjadi di ruang paling intim, yaitu rumah tangga, tetapi karena publik dihadapkan pada kenyataan pahit. Anak perempuan di bawah umur, bocah SD, menjadi terduga pelaku pembunuhan ibu kandungnya sendiri.

Tragedi kali ini bukan peristiwa biasa. Namun, mesti menjadi alarm keras yang semestinya menyita atensi semua pihak, dari keluarga, dunia pendidikan, hingga negara.

Sebagaimana lazimnya tragedi besar, respons publik pun bergerak cepat mencari penyebab di balik peristiwa itu. Game online disebut, konten digital dituding, dan teknologi kembali ditempatkan di kursi terdakwa. Nama permainan Murder Mystery pun mendadak menjadi simbol, seolah kekerasan dapat dijelaskan sesederhana itu. Padahal, penyederhanaan semacam ini justru berbahaya karena menutup mata dari persoalan yang jauh lebih mendasar.

Faktanya, ada jutaan orang memainkan game yang sama, menonton tayangan serupa, dan hidup di dunia digital yang tidak jauh berbeda, tanpa pernah berubah menjadi pelaku kekerasan ekstrem. Artinya, game bukanlah sebab tunggal.

Tragedi Medan Sunggal lahir dari pertemuan berbagai kegagalan yang saling menumpuk. Kompleks. Kegagalan memahami emosi anak, kegagalan mendampingi tumbuh kembangnya, dan mungkin bagian dari kegagalan sistem pendidikan dan lingkungan dalam membangun ruang aman bagi anak untuk bertanya, mengeluh, dan dimengerti.

Yang kita saksikan adalah potret seorang anak yang belum matang secara emosional, tetapi telah dibebani tekanan yang tidak sanggup dikelola. Dalam kondisi seperti itu, dunia digital sering menjadi tempat pelarian. Bukan karena game mengajarkan kekerasan, melainkan karena di sanalah anak menemukan rasa kendali yang tak dimiliki di dunia nyata. Ketika ruang pelarian itu diputus secara tiba-tiba tanpa dialog dan pendampingan, emosi yang terpendam bisa berubah menjadi ledakan.

Di sinilah tragedi tersebut menjelma menjadi tragedi pendidikan. Pendidikan, dalam pengertian kita selama ini, terlalu sering direduksi menjadi urusan akademik dan disiplin. Kita sibuk mengukur capaian kognitif, tetapi lalai membangun kecerdasan emosional. Anak diajarkan menghafal dan berhitung, tetapi tidak diajarkan mengenali marah, kecewa, dan frustrasi. Mereka diperkenalkan pada teknologi, tetapi tidak ditemani memahami batas antara dunia maya dan realitas.

Lebih jauh lagi, tragedi ini menyingkap kenyataan bahwa banyak keluarga, secara sadar atau tidak, telah menyerahkan sebagian peran pengasuhan kepada layar. Gawai menjadi penenang, game menjadi pengalih perhatian, sementara percakapan atau dialog-dialog perlahan menghilang. Ketika hubungan orang tua dan anak miskin dialog, larangan berubah menjadi pemicu konflik, bukan sarana pendidikan.

Karena itu, Tragedi Medan Sunggal tidak bisa dipandang sebagai kegagalan satu keluarga semata. Namun, cermin kegagalan kolektif. Kegagalan masyarakat dalam membangun literasi digital yang sehat, kegagalan institusi pendidikan dalam menyentuh sisi kemanusiaan anak secara utuh, serta kegagalan negara dalam memastikan bahwa keluarga memiliki bekal pengetahuan dan dukungan untuk mendampingi anak di era digital.

Menyebut peristiwa ini sebagai tragedi nasional bukanlah berlebihan. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa yang hilang, tetapi masa depan generasi. Jika tragedi ini hanya berakhir sebagai sensasi media atau dalih untuk melarang teknologi, maka kita benar-benar gagal belajar. Namun, jika menjadi sebuah titik balik untuk menata ulang cara kita mendidik, di rumah, di sekolah, dan di ruang publik, maka duka ini masih menyisakan makna.

Tragedi Medan Sunggal adalah peringatan bahwa ketika pendidikan kehilangan sentuhan empati dan kehadiran manusiawi, yang tumbuh bukanlah anak yang tangguh, melainkan anak yang terluka. Dan luka yang dibiarkan, cepat atau lambat, berpotensi mencari jalan keluar dengan cara yang paling kita takuti.

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapapun, termasuk anak, melainkan mengajak semua pihak bercermin dan bertanggung jawab bersama. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.