Tangis Menyayat Medan Sunggal: Kisah Pembunuhan Tragis di Lingkungan Keluarga Harmonis

oleh -547 Dilihat
FAIZAH SORAYA
Faiizah Soraya, korban semasa hidup. (Foto FB)

KabarBaik.co- Rabu (10/12) itu benar-benar kelabu. Faizah Soraya, seorang ibu berusia 42 tahun, ditemukan tewas. Tergeletak bersimbah darah di kamar tidurnya sendiri. Lebih memilukan lagi, terduga pelaku di balik peristiwa ini disebut-sebut adalah anak kandungnya sendiri. Seorang bocah perempuan berusia 12 tahun, masih duduk di bangku kelas VI SD.

Kabar itu segera menyebar cepat di media sosial. Banyak yang terkejut. Sebab, selama ini keluarga tersebut dikenal harmonis. Sejumlah unggahannya di medsos juga menggambarkatu itu. Tetangga menyebut anak bungsu yang menjadi terduga pelaku itu sebagai sosok patuh dan berprestasi di sekolah. Benarkah di balik wajah polos si bocah itu tersimpan tindakan yang begitu tragis?

Cerita berawal dari keterangan sejumlah saksi kepada polisi bahwa tragedi bermula sekitar pukul 04.30–05.00 WIB. Sang ibu tidur bersama kedua anak perempuannya di kamar lantai satu. Si sulung perempuan sekolah di SMA. Adapun sang ayah berada di lantai dua. Di pagi waktu Subuh itu, anak bungsu yang kini menjadi terduga pelaku dikabarkan mengambil sebilah pisau dapur. Lalu, tiba-tiba menyerang ibunya di kamar tidur.

Korban mengalami banyak luka tusuk di bagian tubuhnya. Termasuk dada dan punggung. Luka-luka ini menunjukkan serangan yang berulang, sehingga korban tak mampu diselamatkan. Kakak pelaku, yang juga berada di kamar itu, menjadi saksi pertama. Dalam kepanikan, ia berteriak histeris. Memanggil-manggil ayahnya, dan beberapa tetangga yang mendengar teriakan itu segera datang ke TKP.

Ayah korban turun dari lantai dua dan menemukan istrinya telah tak bernyawa, bersimbah darah. Tentu, momen itu begitu dramatis dan menggetarkan hati. Bagi keluarga, pagi itu bukan sekadar waktu mau sarapan biasa, melainkan awal dari luka mendalam yang akan menghantui mereka selamanya.

Persepsi publik terbelah. Betulkah si bocah 12 tahun itu pelakunya? Polrestabes Medan kini masih menanganinya dengan pendekatan psikologis khusus, sesuai ketentuan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA). Si anak menjalani pendampingan psikologis dan observasi forensik, untuk menilai kondisi mental dan emosionalnya pascakejadian.

Lepas dari tragedi Medan Sunggal tersebut, para psikolog forensik mencatat bahwa anak-anak yang terlibat tindakan kekerasan biasanya sering menunjukkan keterbatasan kontrol emosional dan pemahaman konsekuensi. Namun, pihak kepolisian dan psikolog tetap berhati-hati agar penilaian tidak berspekulasi melampaui fakta yang ada. Tujuannya tentu perlindungan anak dan upaya pemulihan psikologisnya, sekaligus memastikan keadilan bagi korban.

Yang pasti, sejumlah media melaporkan bahwa warga sekitar masih terkejut. Banyak yang mengenal keluarga itu sebagai sosok yang tenang dan hidup harmonis. Seorang tetangga kepada awak media berkata, “Selama ini mereka terlihat normal, anaknya pendiam dan pintar di sekolah. Tidak ada yang menyangka bisa terjadi hal seperti ini.”

Lingkungan rumah kini sunyi. Rumah yang biasanya ramai oleh tawa anak-anak, kini menyimpan atmosfer duka dan keheningan, sekaligus misteri. Tetangga yang sempat berlari saat kejadian menceritakan ketegangan yang menyelimuti pagi itu. Banyak yang menitikkan air mata ketika mendengar detil peristiwa yang terjadi di dalam rumah itu.

Polrestabes Medan menegaskan bahwa kasus ini akan ditangani secara profesional dan hati-hati, dengan mempertimbangkan usia pelaku dan kondisi psikologisnya. Pihak kepolisian menekankan pentingnya pendampingan psikososial bagi anak yang terlibat, sambil tetap menegakkan hukum.

Ayah dan kakak pelaku telah diperiksa untuk memberikan keterangan yang lebih lengkap terkait kejadian dan situasi keluarga sebelum tragedi. Sementara itu, masyarakat diminta tidak berspekulasi mengenai motif, mengingat pelaku masih anak di bawah umur dan motif pasti belum dipastikan.

Dari tragedi kembali menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan bisa muncul dari lingkungan keluarga sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman, bisa menjadi saksi bisu dari luka yang mendalam. Bagi tetangga dan masyarakat, kisah ini menyimpan pesan tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan psikologis dan komunikasi dalam keluarga.

Di Medan Sunggal, rumah sederhana itu kini sunyi. Namun, tragedi yang terjadi di dalamnya meninggalkan jejak emosional dan duka yang panjang. Baik bagi keluarga maupun masyarakat luas. Kepolisian mesti tertuntut untuk terus bekerja mengungkap fakta, memastikan perlindungan hukum bagi anak, sekaligus menegakkan keadilan bagi korban yang tak lagi bisa bersuara. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.