KabarBaik.co – Keceriaan tujuh santri yang berencana mengisi waktu luang dengan berwisata berubah menjadi duka mendalam. Rabu (9/4) pagi, mereka berangkat dari asrama Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto menuju Pantai Balekambang, Kabupaten Malang.
Mereka berangkat menggunakan mobil Toyota Sigra bernomor polisi N 1855 AAM yang dikemudikan oleh Abdul Hamid, 48, dengan tujuan awal berlibur ke Kota Batu. Namun, takdir berkata lain ketika mereka memilih singgah ke pantai tersebut.
Setiba di Pantai Balekambang, enam dari tujuh santri memutuskan untuk berenang di tepian pantai. Sementara satu lainnya menepi untuk melaksanakan salat. Tanpa mereka sadari, lokasi tempat mereka berenang ternyata merupakan area palung laut yang memiliki arus sangat kuat. Tak butuh waktu lama, arus menyeret lima santri ke tengah laut.
Menyaksikan kejadian tersebut, dua wisatawan yang berada di sekitar pantai berupaya memberikan pertolongan. Dari lima santri yang terseret, dua berhasil diselamatkan.
Mereka adalah Andi Khoirul Raffi, 16, warga Sedati, dan Kayy Yugo, 15, warga Tarik, keduanya berasal dari Sidoarjo. Setelah berhasil dievakuasi ke darat, keduanya langsung mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Bantur.
Namun, tiga santri lainnya masih belum ditemukan. Mereka adalah Yasir Arafat Inninawa, 15, warga Sidoarjo; Fahmi Sirilah 15, warga Gemurung, Gedangan, Sidoarjo; dan Lutfi, 15, warga Pacet, Mojokerto. Hilangnya ketiga santri tersebut di laut memicu kepanikan dan kesedihan mendalam, baik di lingkungan pondok pesantren maupun keluarga masing-masing.
Kepolisian Sektor Bantur bersama tim SAR gabungan segera melakukan pencarian terhadap ketiga korban yang hilang. “Kami kerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk menemukan korban secepatnya. Mohon doa dari semua pihak,” ujar Kapolsek Bantur, AKP Totok Suprapto, Kamis (10/4).
Namun sayangnya informasi hilangnya Fahmi Sirilah diterima keluarga bukan dari pihak pesantren, melainkan dari seorang sopir Grab.
“Orang tuanya ditelepon oleh sopir Grab, awalnya tidak percaya. HPnya korban ketinggalan di mobil Grab, menginformasikan bahwa anaknya tenggelam,” terang Joko, tetangga korban di Gemurung, Gedangan.
Setelah menerima kabar mengejutkan itu, orang tua Fahmi segera menghubungi pihak pondok untuk memastikan keberadaan anak mereka. Pihak pondok membenarkan bahwa Fahmi tidak berada di asrama. Tak menunggu lama, keluarga langsung berangkat menuju Malang pada Rabu malam setelah salat Maghrib.
Di kampung halaman Fahmi, suasana rumah tampak dipenuhi oleh keluarga besar dan para tetangga yang datang untuk memberikan dukungan moral serta ikut mendoakan agar Fahmi dan dua korban lainnya segera ditemukan dalam keadaan selamat. Doa-doa terus dipanjatkan agar musibah ini segera menemukan titik terang. (*)








