MALAM itu, panggung di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) penuh tepuk tangan. Di antara para ilmuwan, akademisi, dan tokoh masyarakat yang menerima penghargaan dalam LPTNU Award 2026, satu nama kembali mencuri perhatian: Tri Mumpuni Wiyatno. Sosok yang selama puluhan tahun bekerja dalam senyap itu kembali disorot. Bukan karena ia mencari pengakuan, tetapi karena dampak nyata yang telah dinyalakannya di pelosok negeri.
Bagi banyak orang, listrik adalah hal biasa. Namun bagi sebagian masyarakat di daerah terpencil Indonesia, listrik pernah menjadi kemewahan. Di sanalah perjalanan Tri Mumpuni menemukan maknanya. Ia tidak sekadar membawa teknologi, tetapi menghadirkan perubahan yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Melalui lembaga yang didirikan, Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, Tri Mumpuni mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) berbasis masyarakat. Sejak awal 1990-an, dia bersama timnya menjangkau desa-desa yang bahkan belum masuk peta pembangunan listrik nasional. Lebih dari 60 pembangkit telah dibangun, menerangi ribuan rumah dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Bagi Tri Mumpuni Wiyatno, listrik tidak selalu harus datang dari proyek besar dan teknologi rumit. Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan itu, ia justru membuktikan bahwa energi bisa dihasilkan dari hal sederhana yang ada di sekitar masyarakat, seperti aliran air sungai di desa. Prinsipnya sederhana: air yang mengalir memiliki energi, dan energi itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.
Prosesnya dimulai dari memanfaatkan sumber air yang stabil, seperti sungai kecil atau saluran irigasi. Air kemudian diarahkan melalui pipa atau kanal agar memiliki tekanan yang cukup. Aliran air inilah yang digunakan untuk memutar turbin, semacam kincir modern, yang menjadi inti dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Semakin stabil dan deras aliran air, semakin optimal putaran turbin yang dihasilkan.
Putaran turbin tersebut lalu dihubungkan ke generator. Ketika turbin berputar, generator ikut bergerak dan mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Dari sinilah listrik mulai dihasilkan dan kemudian disalurkan melalui jaringan kabel sederhana ke rumah-rumah warga. Dengan cara ini, desa-desa yang sebelumnya gelap bisa mulai menikmati penerangan dan aktivitas ekonomi yang lebih hidup.
Namun yang membuat pendekatannya berbeda adalah filosofi yang dipegang teguh. Bagi Tri, listrik bukan sekadar energi, melainkan alat pemberdayaan. Ia selalu menekankan bahwa masyarakat harus menjadi subjek, bukan objek pembangunan. “Kalau masyarakat tidak dilibatkan, proyek itu biasanya tidak akan bertahan lama,” adalah prinsip yang kerap disuarakan dalam berbagai kesempatan.
Pendekatan tersebut terbukti efektif. Di banyak desa, kehadiran listrik dari mikrohidro tidak hanya menerangi malam, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Usaha kecil bermunculan, aktivitas belajar meningkat, dan kualitas hidup masyarakat perlahan berubah. Semua itu terjadi karena teknologi yang digunakan sederhana, ramah lingkungan, dan yang terpenting dikelola sendiri oleh warga.
Penghargaan yang diterima Tri Mumpuni dalam LPTNU Award 2026 kembali menjadi peneguhan dan pengakuan atas konsistensi panjang tersebut. Namun, jika menilik ke belakang, penghargaan ini hanyalah satu dari sekian banyak penghargaan yang pernah diraih. Sebelumnya, dia juga telah menerima Ramon Magsaysay Award, yang sering disebut sebagai “Nobel-nya Asia”, atas dedikasinya dalam pemberdayaan masyarakat melalui energi terbarukan.
Dalam berbagai wawancara, Tri kerap menyampaikan pandangan yang sederhana namun kuat. Dia pernah mengatakan bahwa pembangunan tidak seharusnya hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus memastikan keadilan dan kemandirian masyarakat. Baginya, energi adalah pintu masuk untuk menciptakan perubahan yang lebih luas.
“Energi itu bukan hanya soal listrik, tetapi bagaimana manusia bisa hidup lebih bermartabat,” ungkapnya dalam salah satu wawancara. Pernyataan ini mencerminkan visi besar yang dibawa selama ini bahwa teknologi harus berpihak pada manusia, bukan sebaliknya.
Perjalanan Tri tentu tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis yang sulit, keterbatasan pendanaan, hingga resistensi sosial di beberapa daerah. Namun, semua itu tidak menghentikan langkahnya. Justru dari tantangan tersebut, ia semakin memperkuat pendekatan berbasis partisipasi masyarakat.
Di tengah arus modernisasi dan proyek-proyek besar energi, pendekatan yang diusung Tri Mumpuni terasa kontras. Perempuan kelahiran Semarang ini memilih jalan yang lebih sunyi, membangun dari bawah, pelan tetapi pasti. Namun justru dari situlah lahir perubahan yang berkelanjutan.
Sejumlah penghargaan, termasuk dari LPTNU malam itu, menjadi simbol bahwa kerja-kerja akar rumput masih memiliki tempat penting dalam pembangunan Indonesia. Di tengah sorotan lampu panggung, alumus IPB itu tetap menjadi sosok yang sama. Sederhana, tenang, dan berkomitmen.
Ibu kelahiran 1967 itu mungkin dapat julukan “Wanita Listrik”, tetapi sejatinya perannya jauh melampaui itu. Tri Mumpuni adalah penggerak perubahan, penghubung antara teknologi dan kemanusiaan, serta inspirasi bagi generasi muda untuk melihat pembangunan dari perspektif yang lebih luas.
Dan selama masih ada desa yang belum terang, semangat Tri Mumpuni tampaknya akan terus menyala, membawa cahaya, harapan, dan kemandirian bagi mereka yang paling membutuhkan. (*)






