TWOI Tutup Musical Camp 2025 Lewat Drama Musikal “BAYANGAN”, Satukan Talenta Nusantara di Ciputra Hall Surabaya

oleh -385 Dilihat
WhatsApp Image 2025 12 14 at 07.03.25
Drama musikal “BAYANGAN: The Forgotten Legends” mengangkat kisah legenda-legenda Indonesia yang mulai terpinggirkan oleh zaman. (Foto: Dani)

KabarBaik.co – Gemerlap panggung Ciputra Hall Surabaya menjadi saksi lahirnya sebuah pertunjukan drama musikal yang sarat makna dan proses. Komunitas seni The Wonder of Indonesia (TWOI) sukses menggelar Show ke-7 berskala nasional, sekaligus menandai kelulusan peserta TWOI Musical Camp 2025, melalui pementasan bertajuk “BAYANGAN: The Forgotten Legends”.

Pertunjukan ini bukan sekadar panggung hiburan. Lebih dari itu, “BAYANGAN” menjadi perayaan perjalanan intensif selama lima hari empat malam, di mana puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia ditempa dari nol hingga siap tampil di panggung profesional.

Sekitar 70 orang terlibat dalam produksi ini. Mereka terdiri dari 12 aktor yang berasal dari Surabaya, Bandung, Riau, Sumatra, hingga Kalimantan, 24 penari, serta 36 tim pendukung yang mencakup usher, kru backstage, tata cahaya, tim artistik, hingga produksi. Keberagaman latar belakang tersebut menegaskan bahwa TWOI bukan lagi sekadar komunitas lokal, melainkan telah berkembang menjadi ruang berkesenian berskala nasional.

Drama musikal “BAYANGAN: The Forgotten Legends” mengangkat kisah legenda-legenda Indonesia yang mulai terpinggirkan oleh zaman. Cerita dikemas melalui konsep dua dunia: terang dan gelap, yang saling berkelindan dalam konflik dan pilihan para karakter.

Lewat alur cerita yang emosional, penonton diajak memahami bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih. Dalam setiap kegelapan, selalu ada cahaya. Sebaliknya, dalam kebaikan pun tersimpan tantangan dan konsekuensi. Pesan ini menjadi benang merah yang ingin disampaikan kepada generasi muda: tentang empati, pilihan hidup, dan tanggung jawab.

Ide pementasan ini lahir dari Angeline Virginia Wong, Founder sekaligus Director TWOI, bersama Michael Achel selaku Director. Keduanya memiliki visi yang sama: menggabungkan budaya Indonesia, seni pertunjukan, dan pendidikan karakter dalam satu karya yang relevan dengan generasi masa kini.

“Drama musikal bukan hanya soal tampil di atas panggung. Ini adalah media pembelajaran karakter, disiplin, empati, dan keberanian mengekspresikan diri,” ujar Angeline.

Konsep TWOI Musical Camp dirancang sebagai pembelajaran terintegrasi. Dalam waktu singkat, peserta mendapatkan pelatihan akting, tari, dan vokal, sekaligus dibentuk mental, kerja tim, serta disiplin panggung.

Seluruh peserta menjalani proses dari tahap awal hingga pertunjukan, sehingga apa yang disaksikan penonton merupakan hasil nyata dari proses camp tersebut. Tantangan terbesar, menurut Angeline, adalah menyatukan kemampuan dan karakter peserta yang beragam dalam waktu yang sangat terbatas, sambil menjaga stamina dan fokus hingga hari pementasan. Namun justru dari keterbatasan itulah, pertumbuhan peserta terlihat signifikan—baik secara artistik maupun personal.

Salah satu pemeran, Rachsanaa Selvaraj (12), memerankan tokoh Nyi Roro Kidul. Melalui perannya, Nana—sapaan akrabnya—belajar bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. “Pesan ceritanya buat anak-anak seusia aku, jangan menilai orang cuma dari luarnya. Semua orang punya sisi baik dan sisi buruk,” ujarnya.

Sementara itu, Niskala Aida Hendrian (11), asal Bandung, yang juga seorang atlet senam, memerankan Sanggramawijaya Tunggadewi, putri Raja Airlangga yang memilih jalan hidup suci sebagai Dewi Kili Suci. Peran ini mengajarkannya tentang keteguhan hati dan pilihan hidup.

Tak kalah antusias, Gabriel Berachah Kurniawan (8), siswa kelas 3 SD Kartika Tenggilis, mengaku senang memerankan Dewa Bumi. “Capek sih, tapi senang. Kalau ada drama musikal lagi, mau ikut lagi,” katanya polos sambil tersenyum.

Melalui pertunjukan ini, TWOI berharap dapat terus menjadi ruang aman dan inspiratif bagi anak-anak dan remaja untuk berkarya. Lebih dari itu, TWOI ingin membuktikan bahwa cerita dan budaya Indonesia dapat dikemas secara modern, berkualitas, dan bermakna, sehingga tetap relevan bagi generasi masa kini.

Di panggung Ciputra Hall malam itu, legenda-legenda lama kembali hidup—bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai cermin nilai dan pesan bagi masa depan. Sejalan dengan visi TWOI, pementasan ini bertujuan menjadi wadah pengembangan bakat anak dan remaja, menggabungkan edukasi, kreativitas, dan disiplin, sekaligus mengangkat budaya Indonesia dengan kemasan modern.

Ke depan, TWOI berharap dapat terus menjadi ruang aman dan inspiratif bagi generasi muda untuk berkarya. Tak hanya di dalam negeri, tetapi juga memperkenalkan kekayaan cerita dan budaya Indonesia ke panggung yang lebih luas.

Hingga kini, TWOI telah menggelar tujuh pertunjukan drama musikal, dengan skala yang terus berkembang. Meski tema dan cerita berbeda di setiap pementasan, tujuannya tetap sama: membangun generasi muda yang kreatif, berkarakter, dan bangga akan budayanya sendiri. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.