Nasi Ampok, Makanan Jadul yang Kini Bertransformasi Jadi Instan Cocok untuk Diet

oleh -469 Dilihat
WhatsApp Image 2025 12 13 at 11.39.00 AM
Nasi ampok instan produksi UMKM Jombang (istimewa)

KabarBaik.co – Siapa sangka makanan jadul berbahan dasar jagung kini kembali naik daun. Nasi ampok, makanan tradisional khas Jawa, kini bertransformasi menjadi makanan instan yang praktis dan diminati berbagai kalangan, terutama konsumen dengan kebutuhan diet khusus seperti penderita diabetes.

Inovasi tersebut dilakukan oleh Sulistyowati, pemilik usaha Nasi Ampok Instan Dua Putra asal Desa Dukuhklopo, Peterongan, Jombang. Berkat tangan dinginnya, ampok kembali populer salah satunya karena kandungan gulanya yang nol.

“Ampok instan ini bahannya dari jagung. Dulu itu makanan jadul, tapi sekarang jadi tren karena kandungan kadar gulanya nol sehingga aman untuk penderita diabetes,” ujar Sulistyowati, Minggu (14/12).

Usaha ini bukan pemain baru. Sulistyowati telah menekuni produksi nasi ampok instan sejak 2009. Dalam sehari, ia bisa mengolah rata-rata lima kuintal jagung, bahkan hingga satu ton pada musim produksi tertentu.

Dari lima kuintal jagung tersebut, dihasilkan sekitar empat kuintal nasi ampok instan. Proses pembuatannya pun cukup panjang, mulai dari penggilingan jagung, memasak adonan selama 2–3 jam, hingga tahap pengemasan sebelum siap dipasarkan.

Meski berbahan pangan tradisional, jangkauan pemasaran ampok instan Dua Putra terbilang luas. Selain dipasarkan di pasar-pasar wilayah Jombang, produk ini juga dikirim ke berbagai daerah seperti Banyuwangi, Kalimantan, Papua, hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Hong Kong.

“Kadang permintaan dari Banyuwangi sudah pesan dua minggu sebelumnya. Sekali kirim bisa sampai 53 karung,” katanya.

Namun demikian, permintaan pasar tidak selalu stabil. Ada kalanya pengiriman mencapai lima hingga enam kuintal per hari, tetapi ada juga hari tanpa pengiriman sama sekali.

Sulistyowati menyebut lonjakan harga beras turut mendorong permintaan nasi ampok sebagai alternatif pangan. Meski begitu, persaingan produsen ampok yang semakin banyak membuat kenaikan penjualan tidak terlalu signifikan.

“Peningkatannya paling sekitar 10 persen. Biasanya permintaan 3–5 karung, sekarang bisa 6–10 karung,” jelasnya.

Untuk harga, ampok instan Dua Putra dibanderol cukup terjangkau. Kemasan 120 gram dijual seharga Rp 2.000, sedangkan kemasan 140 gram Rp 2.500. Produk tersebut dijual dalam bentuk karung kepada para distributor.

Dari usaha yang telah dirintis lebih dari satu dekade ini, Sulistyowati mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp 5 juta per bulan. Ia juga memastikan ketersediaan bahan baku jagung tidak pernah menjadi kendala.

“Alhamdulillah bahan baku jagung selalu ada. Tidak pernah terkendala,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.