Upaya Tekan Dispensasi Nikah, DP3AP2KB Kota Blitar Perkuat Edukasi Remaja dan Peran Orang Tua

oleh -282 Dilihat
df97025b 8caa 4d27 81ed 5bb8fb134dec
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mujianto. (Foto: Calvin BT)

KabarBaik.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar terus berupaya menekan angka pernikahan dini melalui berbagai program edukasi dan pencegahan. Hingga November 2025, permohonan dispensasi nikah tercatat sebanyak 16 kasus, menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 18 kasus.

Meski masih ada dispensasi menikah. Pemkot menilai pencegahan tetap harus diperkuat karena risiko pernikahan dini berpengaruh besar pada masa depan anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Mujianto, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pendekatan kolaboratif bersama Kemenag, KUA, penyuluh KB, serta pengelola Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR).

“Kami bekerja sama dengan berbagai unsur. Kemenag juga punya program pencegahan pernikahan dini, sementara kami fokus memberi edukasi di SMA dan SMP karena kerawanan tertinggi ada di usia tersebut,” ujarnya, Jumat (28/11).

Sosialisasi dilakukan di sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan dampak pergaulan berisiko. Mujianto menegaskan bahwa edukasi reproduksi bagi perempuan sangat penting.

“Ketika anak-anak kita memahami risiko reproduksi, mereka bisa lebih mengendalikan diri,” katanya.

Selain edukasi di sekolah, DP3AP2KB juga melibatkan KUA untuk memberikan pembinaan terkait nilai-nilai agama.

“Teman-teman KUA memberi benteng iman, agar remaja memahami mana yang dilarang agama,” tambahnya.

Meski sosialisasi terus digencarkan, fenomena dispensasi nikah tetap muncul tiap tahun. Menurut Mujianto, faktor utama berasal dari kurangnya pengawasan keluarga.

“Benteng awal itu keluarga. Ketika anak berada jauh di kos atau kurang terpantau, risikonya meningkat,” jelasnya.

Ia mendorong orang tua lebih aktif memantau anak, termasuk memanfaatkan teknologi sederhana.

“Grup WhatsApp keluarga saja sudah bentuk kontrol. GPS di ponsel juga bisa dipakai memantau lokasi anak,” tuturnya.

Mujianto juga menyebut Program Aksi Berlian sebagai upaya tambahan dengan mendorong anak-anak kembali ke rumah sebelum pukul 22.00. Menurutnya, pembatasan ruang gerak pada jam belajar dapat membantu menekan potensi perilaku berisiko.

“Peran keluarga dan lingkungan sangat menentukan. Sosialisasi tidak cukup ke anak saja, tapi juga ke orang tua,” katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Calvin Budi Tandoyo
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.