KabarBaik.co- Kasus kematian Brigadir Esco Faska Rely, terus bergulir ke babak baru. Setelah kepolisian menetapkan empat tersangka tambahan yang tak lain adalah keluarga dari sang istri, Briptu Rizka Sintiyani, kini publik menyoroti sosok misterius berinisial W alias Wira. Ada dugaan nama itu memiliki keterkaitan dalam tragedi yang mendapat atensi luas tersebut.
Nama W makin ramai diperbincangkan di media sosial dan forum daring. Ini setelah beberapa keterangan saksi dan informasi yang menyinggung namanya. Dalam sebuah wawancara yang telah beredar, Amaq Siun, ayah Briptu Rizka sekaligus salah seorang saksi dan kini telah menjadi tersangka baru, mengaku sempat menghubungi Wira menggunakan telepon milik Rizka sesaat menemukan jasad di kebun belakang rumahnya.
Tak hanya itu, nama Wira juga muncul dari keterangan Fauzi alias Paozi, teman dekat korban maupun Rizka, yang kini juga ikut ditetapkan sebagai tersangka. Paozi dalam sebuah perbincangan dengan media sosial menyebut bahwa ia mengenal Rizka sebagai sosok yang “judes tapi baik hati.” Ia bahkan menyebut pernah menerima uang tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp 200 ribu dari Rizka, dan jumlah serupa dari seseorang bernama Wira.
Keterangan tersebut menambah panjang daftar pertanyaan publik. Siapa sebenarnya Wira, apa hubungannya dengan Rizka, dan mengapa namanya disebut beberapa kali dalam lingkaran komunikasi keluarga tersangka? Oknum atau sipil? Hingga kini, kepolisian belum secara resmi menyampaikan keterangan identitas maupun status hukumnya. Apakah ikut diperiksa sebagai saksi, atau justru masih dalam pencarian alias buron? Belum ada penjelasan terbuka.
Sebelumnya, Kamis kemarin (16/10) Polres Lombok Barat telah menetapkan empat tersangka baru selain Briptu Rizka, yakni AS (ayah), N (ibu), DR (adik laki-laki), dan Paozi (teman keluarga). Mereka diduga membantu menutupi dan memindahkan jasad korban dari rumah ke kebun belakang, serta memberikan keterangan palsu pada awal penyelidikan.

Ragukan Motif Ekonomi
Sejauh ini, polisi menegaskan bahwa motif ekonomi menjadi latar belakang pembunuhan Brigadir Esco. Sayangnya, penyidik belum memberikan keterangan detil, motif ekonomi seperti apa yang dimaksud. Kendati polisi menyebut ekonomi, sebagian pihak meragukannya. Salah satu alasannya pasutri muda itu anggota kepolisian. Artinya, sama-sama sudah memiliki pekerjaan yang relatif mapan.
Netizen pun ada yang menyoroti fakta bahwa Briptu Rizka memiliki mobil Mazda CX-5, kendaraan kelas menengah atas dengan harga pasar sekitar Rp 600 jutaan. Mobil itupun sempat diperiksa atau diidentifikasi penyidik untuk mengungkap potensi bukti baru seperti bercak darah ataukah sidik jari. Hasilnya, belum tersampaikan ke publik. Boleh jadi nanti terkuak di persidangan.
Yang pasti, ada yang mempertanyakan bagaimana seorang anggota Polri berpangkat Briptu, dengan gaji pokok antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan, bisa memiliki mobil dengan nilai ratusan juta itu? Spekulasi liar pun banyak berkembang. Namun, sangat mungkin juga kendaraan CX-5 itu dari usaha halal tersangka Briptu Rizka sendiri.
Kini, kasus kematian Brigadir Esco telah memasuki fase krusial. Setelah penyidik menetapkan empat tersangka baru, penyidik tengah melengkapi berkas untuk tahap pelimpahan ke kejaksaan. Sementara itu, sorotan publik juga tertuju pada sosok Wira, yang disebut-sebut menjadi “bayangan di balik tragedi.” Apakah akan menjadi tersangka berikutnya, hanya saksi, ataukah memang tidak terlibat? Jawabannya menunggu hasil penyidikan lanjutan.
Untuk sementara, kasus ini tetap menyisakan tanda tanya. Ketika cinta, keluarga, dan sumpah profesi saling berkelindan, siapa sebenarnya yang berkhianat dan siapa yang menutupi dosa siapa? (*)






