KabarBaik.co, Batu – Wali Kota Batu, Nurochman, menyoroti kerusakan tata kelola lahan di wilayah hulu yang diduga kuat menjadi penyebab banjir luapan di Kecamatan Bumiaji. Hal tersebut disampaikan usai dirinya melakukan peninjauan langsung di sejumlah titik terdampak.
Nurochman menemukan masih banyak lahan pertanian di lereng curam yang tidak lagi dilengkapi sistem terasering sebagai penahan air. Hilangnya sistem terasering di kawasan hulu, ditambah perubahan pola tanam dari tanaman keras ke tanaman sayuran, mempercepat terjadinya erosi tanah dan meningkatkan risiko luapan air saat hujan dengan intensitas tinggi.
“Banyak lahan pertanian di wilayah hulu yang sudah tidak menggunakan sistem terasering. Dampaknya sangat terasa, salah satunya memicu banjir luapan,” ujar Nurochman, Minggu (5/4).
Ia menjelaskan, tanaman sayuran memiliki akar yang relatif pendek dan tidak mampu mengikat tanah sekuat tanaman keras seperti apel. Akibatnya, tanah menjadi lebih mudah tergerus dan terbawa aliran air ketika hujan deras. “Tanaman sayur tidak memiliki akar yang kuat untuk menahan tanah. Saat hujan deras, material tanah mudah terbawa aliran air ke bawah,” jelasnya.
Selain faktor vegetasi, ia juga menyoroti teknik pengolahan lahan yang belum menerapkan prinsip konservasi tanah. Pola pembuatan bedengan atau guludan yang terbuka tanpa pematang dinilai membuat struktur tanah semakin rentan terhadap erosi.
“Model guludannya sekarang tidak memiliki ketahanan karena tanpa pematang yang kuat. Ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, tanah menjadi sangat mudah tererosi,” tambahnya.
Di sisi lain, Nurochman mengakui bahwa peralihan ke tanaman sayuran dipengaruhi faktor ekonomi, karena masa panennya relatif singkat, yakni sekitar tiga hingga enam bulan. Namun ia mengingatkan, orientasi jangka pendek tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar bagi lingkungan dan keselamatan masyarakat.
“Kami mengajak semua pihak, khususnya para petani, untuk tidak hanya berpikir jangka pendek. Keuntungan cepat jangan sampai mengorbankan keselamatan masyarakat yang lebih luas,” tegasnya.
Ke depan, Pemerintah Kota Batu akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola tanam di wilayah rawan bencana, khususnya di kawasan hulu Bumiaji. Langkah ini diharapkan mampu mendorong komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan petani dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meminimalkan risiko bencana.
“Perlu ada langkah konkret dan komitmen bersama. Menjaga kelestarian lingkungan serta menjamin keselamatan wilayah harus menjadi prioritas utama,” tandasnya. (*)








