KabarBaik.co, Batu – Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa kerja sama internasional di sektor pertanian antara Pemerintah Kota Batu dan Shimonoseki City University, Jepang, harus menghasilkan langkah konkret dan memberikan manfaat nyata bagi petani. Penegasan itu disampaikan Nurochman usai pertemuan Sinergi Inovasi Pertanian Kota Batu dan Shimonoseki City University, Rabu (11/2).
Ia menyebut kolaborasi tersebut tidak boleh berhenti pada tataran wacana, melainkan harus terimplementasi secara jelas, terukur, dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani serta perekonomian daerah. “Kami menyambut baik tawaran kerja sama ini. Namun implementasinya harus jelas, terukur, dan dikerjakan bersama agar benar-benar memberikan dampak bagi kesejahteraan petani dan kemajuan sektor pertanian Kota Batu,” ujar Nurochman, Kamis (12/2).
Menurutnya, Pemerintah Kota Batu terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi internasional, termasuk dalam pengembangan budidaya salmon dan stroberi premium Jepang yang ditawarkan pihak universitas. Namun, ia menekankan perlunya kejelasan terkait kebutuhan lahan, kesiapan sumber daya manusia, hingga skema pendanaan dan peluang investasi.
“Harus ada kejelasan kebutuhan lahan, sumber daya, serta pola pembiayaan. Jangan sampai program bagus di konsep, tetapi sulit diterapkan di lapangan,” tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, Shimonoseki City University menawarkan tiga proyek utama, di antaranya penyusunan Kajian Visi Pertanian 2050 dan penguatan kelembagaan pertanian. Selain itu, ditawarkan pula pendekatan industrialisasi agroindustri berbasis pasar (marketing-driven) dengan target nilai pasar mencapai Rp 300 miliar pada 2050 serta kebutuhan investasi awal sekitar Rp 13 miliar dalam tiga tahun pertama.
Program tersebut dirancang melalui lima pilar COOSAE, meliputi penjualan dan pembelian bersama, dukungan produksi berbasis data dan QR code “Batu Quality”, pengolahan bernilai tambah, hingga kemitraan keuangan dan asuransi bagi petani.
Nurochman menegaskan, seluruh skema tersebut akan dikaji secara matang agar benar-benar sesuai dengan karakteristik pertanian Kota Batu yang berbasis hortikultura dan pariwisata. “Intinya kerja sama ini harus memperkuat posisi petani kita, meningkatkan daya saing produk, dan mendorong pertanian Kota Batu naik kelas,” tandasnya. (*)








