KabarBaik.co – Lalu lalang dump truk pengangkur galian C membuat kemarahan warga Desa Pulopancikan, Kecamatan Gresik, akhirnya memuncak. Setelah 10 hari aktivitas kendaraan besar itu di Jalan Harun Tohir, Rabu (7/5) pagi sekitar pukul 10.00 WIB, warga memutuskan turun ke jalan dan menghentikan langsung laju truk dari arah selatan.
“Sejak hari keempat kami sudah geram. Tapi puncaknya hari ini, karena kami juga sudah muak,” kata Muhammad Sugiyanto, salah satu warga yang turut dalam aksi penghentian tersebut, Rabu (7/5).
Setiap hari, menurut Sugiyanto, ada sekitar 25 unit dump truk yang beroperasi, dengan masing-masing truk melakukan tiga kali rit. Artinya, dalam sehari, terdapat sekitar 70 hingga 80 kali lintasan truk berat di jalan tersebut.
Aktivitas tersebut, sebut Sugiyanto, menimbulkan banyak masalah. Aeperti debu beterbangan, suara bising mesin, hingga kekhawatiran akan keselamatan dan kerusakan infrastruktur jalan.
Masalah bukan hanya pada intensitas truk, tapi juga pada minimnya komunikasi. “Yang kami sangat sayangkan, kami warga dan tokoh masyarakat tidak pernah diajak koordinasi sejak awal,” ujar Sugiyanto.
Saat aksi penghentian berlangsung, warga meminta sopir untuk memanggil penanggung jawab dump truk. Setelah hadir, warga langsung memanggil pihak kelurahan, RT, RW, serta Kepala Desa Pulopancikan Akhmad Afandi, guna melakukan koordinasi cepat dan mediasi pun terjadi.
Hasil dari pertemuan sementara, pihak pengelola dump truk menyampaikan usulan pemberian kompensasi kepada warga. Namun hingga berita ini diturunkan, warga belum memberikan keputusan final. Rapat lanjutan dijadwalkan malam nanti untuk mencari titik temu.
Warga menegaskan, mereka tidak menolak pembangunan. Tapi partisipasi dan transparansi harus menjadi bagian dari kebijakan.
“Kami tidak ingin ini terjadi lagi. Kalau pun harus ada aktivitas seperti ini di masa depan, harus melalui koordinasi menyeluruh. Ini proyek terakhir. Kalau masih ada, kami akan tolak,” tegas Sugiyanto.
Malam nanti, seluruh elemen warga dijadwalkan melakukan rembug warga. Harapannya satu yaitu ada solusi, ada kompensasi, dan tak ada lagi truk lewat tanpa permisi.
Sementara itu, aktivitas dump truk untuk sementara diizinkan berjalan kembali, namun dengan catatan wajib menutup muatan dengan terpal, membatasi kecepatan, dan mematuhi aturan ketat lainnya.
Kegeraman warga tak lepas dari sejarah Jalan Harun Tohir. Jalan ini sebelumnya pernah mengalami penurunan kualitas. Semula beraspal, jalan tersebut rusak karena sering dilintasi truk pelabuhan.
Warga lalu mengadu ke pemerintah daerah. Pemerintah merespons dengan menurunkan spesifikasi jalan menjadi paving block dan memasang portal, agar truk pelabuhan tidak lagi melewatinya.
Namun kini, warga dikejutkan kembali dengan maraknya dump truk galian C yang kembali melintas. Aktivitas ini disebut sudah berlangsung selama 10 hari dari total rencana satu bulan operasional, dari pukul 08.00 hingga 16.30 WIB, dengan tujuan akhir material dibawa ke kawasan industri JIIPE.(*)