KabarBaik.co – Lebih dari 400 pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Serikat Pedagang Kaki Lima (Spekal) Jombang menggelar konsolidasi di Sekretariat Spekal, Jalan Kapten Pierre Tendean, Pulolor, Jombang. Langkah itu menyusul evaluasi menyeluruh pelaksanaan car free day (CFD) oleh Pemerintah Kabupaten Jombang.
Ketua Spekal, Joko Fattah Rochim atau yang akrab disapa Cak Fattah, menegaskan bahwa para PKL tidak menolak evaluasi. Namun, mereka meminta agar CFD tidak dijadikan kambing hitam atas insiden ambulans yang terhambat beberapa waktu lalu.
“CFD itu cuma dari jam 6 sampai 9 pagi. Insiden ambulans itu katanya terjadi sekitar jam 1 siang. Jadi jelas bukan saat CFD berlangsung,” kata Cak Fattah kepada wartawan, Senin (14/7). Cak Fattah juga menyoroti titik kemacetan kronis di sekitar perlintasan kereta api Jomplangan yang menurutnya kerap macet bahkan di luar hari CFD.
Selain itu, Cak Fattah menilai bahwa pelayanan rumah sakit di akhir pekan juga perlu dievaluasi. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat anaknya tidak mendapat pelayanan dokter saat hari Sabtu-Minggu. “Jadi ini bukan cuma soal CFD. Mohon dilihat secara menyeluruh,” tegasnya.
Dalam konsolidasi tersebut, Spekal menyatakan siap menertibkan lapak-lapak yang masih berada di jalur tengah jalan. Para pedagang disebut telah diarahkan untuk berjualan di sisi jalan demi menjaga akses jalur darurat.
“Kami sepakat dengan Disdagrin. PKL di tengah jalan memang harus ditertibkan. Tapi kami minta Satpol PP dan Dishub juga turun tangan awasi titik rawan seperti Jomplangan,” ujar Cak Fattah.
Cak Fattah juga menyoroti kurangnya sosialisasi surat edaran Disdagrin yang melarang penggunaan jalur tengah. Ia menyebut surat tersebut hanya dikirim ke sekretariat, tanpa disertai penyuluhan langsung ke pedagang di lapangan.
Karena itu, Spekal menolak wacana pemindahan lokasi CFD ke titik lain seperti Jalan Ahmad Dahlan, Dr. Sutomo, atau Alun-Alun Jombang. Menurut Cak Fattah, wilayah-wilayah itu justru lebih padat karena merupakan zona aktif perdagangan pada hari Minggu.
“Kami curiga ada yang ingin bubarkan CFD, mungkin ada muatan politik. Tapi kami nggak bicara soal itu. Ini murni soal ekonomi kerakyatan,” tegasnya.
Ia menyebut CFD telah membantu perputaran ekonomi rakyat kecil dengan kontribusi besar terhadap UMKM. Menurutnya, PKL menyebar ke banyak sektor dan tak hanya terpusat seperti rumah makan. Cak Fattah berharap evaluasi terhadap CFD dilakukan secara bijak dan berbasis solusi, bukan saling menyalahkan.
“Ambulans bisa lewat kok, asal sirinenya dinyalakan. Kami mendukung CFD yang lebih tertib, asal semua pihak jalan bersama,” pungkasnya. (*)