9 Agustus Hari Masyarakat Adat Sedunia: Momentum Menjaga Budaya dan Hak Masyarakat Adat

oleh -137 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 09 at 6.34.46 AM
Hari Masyarakat Adat Sedunia

KabarBaik.co – Setiap tanggal 9 Agustus, dunia memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World’s Indigenous Peoples. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan masyarakat adat sekaligus meningkatkan kesadaran dunia terhadap hak, budaya, pengetahuan tradisional, serta keberadaan mereka yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Penetapan Hari Masyarakat Adat Sedunia tidak terlepas dari sejarah perjuangan masyarakat adat di tingkat internasional. Tanggal 9 Agustus dipilih untuk memperingati pertemuan pertama United Nations Working Group on Indigenous Populations yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 9 Agustus 1982. Kelompok kerja tersebut berada di bawah Sub-Komisi Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan Minoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pertemuan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya membawa persoalan masyarakat adat, termasuk perlindungan hak dan kebudayaan mereka, ke dalam perhatian masyarakat internasional.

Belasan tahun kemudian, tepatnya pada 23 Desember 1994, Majelis Umum PBB melalui Resolusi 49/214 menetapkan tanggal 9 Agustus sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap tahun. Penetapan tersebut dilakukan dalam rangkaian Dekade Internasional Masyarakat Adat Sedunia dan bertujuan meningkatkan perhatian dunia terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat adat serta mendorong perlindungan dan pemenuhan hak mereka.

PBB menilai masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman budaya, pengetahuan tradisional, lingkungan, serta keanekaragaman hayati. Karena itu, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan identitas, bahasa, tradisi, serta cara hidup mereka.

Secara global, PBB memperkirakan terdapat sekitar 476 juta masyarakat adat yang hidup di lebih dari 90 negara. Mereka mencakup kurang dari lima persen populasi dunia, namun menghadapi berbagai tantangan, termasuk kemiskinan, diskriminasi, keterbatasan akses terhadap layanan dasar, serta persoalan yang berkaitan dengan wilayah dan sumber daya alam.

Di sisi lain, wilayah masyarakat adat juga memiliki kontribusi besar terhadap kelestarian lingkungan. PBB mencatat wilayah masyarakat adat mencakup sekitar 28 persen permukaan bumi dan menyimpan sekitar 11 persen hutan dunia. Pengetahuan yang berkembang secara turun-temurun turut berperan dalam menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia 2026 juga menjadi kesempatan untuk kembali menempatkan pengetahuan dan praktik tradisional sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. PBB pada tahun ini mengangkat tema “Honouring Indigenous Midwives: Safeguarding Life and Well-being” atau penghormatan terhadap para bidan masyarakat adat dalam menjaga kehidupan dan kesejahteraan.

Tema tersebut menyoroti pengetahuan tradisional masyarakat adat, khususnya praktik kebidanan yang diwariskan antargenerasi.

Peringatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak seharusnya membuat identitas masyarakat adat terpinggirkan. Justru, pembangunan perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap keberagaman budaya, hak masyarakat adat, serta pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari kekayaan peradaban manusia.

Di Indonesia, nilai-nilai masyarakat adat tercermin dalam beragam suku, bahasa, tradisi, kesenian, hukum adat, hingga kearifan lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman tersebut merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.