Bekerja dengan sepenuh hati dan loyal pada atasan merupakan tekad Aliur Ridah dalam bekerja. Komitmen itu dia pegang teguh selama puluhan tahun bekerja sebagai buruh di tempat usaha yang bergerak di bidang jual beli hasil laut. Hingga takdir mengantarkannya berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji.
—
PERAHU dengan berbagai bentuk dan ukuran berbaris rapi di atas permukaan air laut yang tenang. Tak hanya bersandar pada tumpukan batu karang di tepi laut salah satu sudut Pulau Sapeken, perahu-perahu itu juga menjadi saksi percakapan dua orang antara atasan dan bawahan, antara bos dan pekerjanya. Dua orang itu membuka siang dengan melahap nasi bungkus di atas balai-balai berukuran 2×3 meter yang berada persis di depan gudang berisi aneka hasil laut yang dibeli dari para nelayan.
Sebagai daerah pesisir yang berada di wilayah Kepulauan Madura, perairan Kepulauan Sapeken memang menyimpan aneka kekayaan biota laut yang melimpah. Mulai ikan dengan berbagai jenis, teripang, dan aneka kerang-kerangan dari yang memiliki nilai jual murah hingga mahal seperti abalone. Aliur Ridah salah satu pekerja yang bertugas merebus teripang dan abalone sebelum dijemur di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Di sela menikmati nasi bungkus dengan sesekali ditiup angin sepoi-sepoi dari arah laut di bagian barat Pulau Sapeken, Aliur Ridah diminta oleh bos sekaligus atasnya yang Bernama Zainuddin, untuk bersama-sama berangkat ke Bali esok hari. Dia diminta menemani sang atasan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di sebuah rumah sakit di daerah yang dijuluki Pulau Dewata itu. Waktu tempuh dari Sapeken ke Bali kurang lebih 14 jam menggunakan kapal kayu milik Zainuddin.
Sesampainya di Bali, ternyata tugas Aliur Ridah tidak hanya menemani Zainuddin yang melakukan pemeriksaan kesehatan di dokter langganannya. Pria kelahiran Sumenep, 7 Agustus 1961 itu juga diminta mengurus paspor di kantor Imigrasi Denpasar, Bali. Jawaban Zainuddin pada tahun 2007 silam saat merespons pertanyaan terkait alasan dirinya diminta membuat paspor hingga kini tersimpan rapi di memori Aliur Ridah. Dia kaget bercampur syukur dan haru karena sebelumnya tidak pernah menyangka keikutsertaannya ke Bali untuk mengurus persiapan keberangkatan dirinya ke Tanah Suci.

“Saat itu jadwal keberangkatan jamaah haji ke Saudi sekitar lima bulan lagi, makanya H. Dikding (sapaan akrab Zainuddin) minta saya ikut ke Bali agar saya bikin paspor. Ternyata saya diajak ke Bali itu bukan untuk menemani dia (Zainuddin) berobat,” kenang Aliur Ridah saat ditemui KabarBaik.co di kediamannya di Dusun Raas, Desa/Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Jumat (18/10/2024).
Aliur Ridah mengaku tak bisa berkata-kata dengan kenyataan hidup yang telah terbentang di depannya, setelah Zainuddin menyampaikan tujuan mulianya mengajak anak buahnya itu berangkat ke Bali. Dia seperti dibasuh dengan air emas. Kalimat syukur tak henti dilangitkannya. Beriringan dengan ucapan terima kasih kepada Zainuddin yang membantu melapangkan jalannya menuju Baitullah. Bayangan Ka’bah dan dua kota suci, Makkah dan Madinah, yang selama ini teramat jauh di benaknya seakan mulai maju menghampiri. Padahal sebelumnya Zainuddin tak pernah sekali pun menyinggung dan berbicara soal ibadah haji kepadanya. “Apalagi berbicara mau menghajikan saya, nggak pernah sama sekali,” ucap Aliur Ridah yang saat berbincang dengan KabarBaik.co didampingi istri dan salah satu anaknya.
Untuk mengobati rasa penasarannya, Aliur Ridah sempat menanyakan lebih jauh tentang keputusan Zainuddin memberangkatkannya haji. Meski pernyataan bosnya itu singkat, namun dia telah mendapatkan penjelasan yang utuh. Dari pembicaraan itulah dia menjadi tahu bahwa Zainuddin telah mendaftarkannya sebagai calon jemaah haji sejak lima tahun sebelumnya. “Karena saat itu masa tunggu bagi pendaftar calon jemaah haji (di Jawa Timur) kalau tidak salah lima tahun,” ucap Hafifah, salah satu anak perempuan Aliur Ridah, yang membantu bercerita kepada KabarBaik.co karena bapaknya sejak setahun lalu terserang stroke sehingga agak kesulitan berbincang lama.
Meski secara administratif Pulau Sapeken menjadi bagian dari salah satu daerah di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, namun secara geografis posisinya lebih dekat dengan Bali. Tak heran jika warga setempat lebih sering berlayar membawa hasil laut mereka ke Bali dibanding ke Sumenep. Begitu juga untuk keperluan berobat maupun mengurus paspor seperti yang dilakukan Zainuddin bersama Aliur Raidah.
Menurut Hafifah, bapaknya bekerja pada Zainuddin yang kala itu dikenal sebagai orang paling kaya di Pulau Sapeken kurang lebih dua puluh tahun. Bapaknya diberikan kepercayaan besar oleh Zainuddin. Tidak hanya bertugas merebus teripang dan abalone yang dibeli dari para nelayan, ayahnya juga dipercaya memegang kunci gudang dan mengurus keuangan perusahaan. Selama bekerja Aliur Ridah juga tak pernah mengeluh dan bercerita kurang baik tentang tempatnya mencari nafkah kepada istri dan anak-anaknya.
“Waktu saya masih SMP gaji bapak dulu kalau tidak salah Rp 150.000 per bulan. Alhamdulillah, semua dinikmati walau karyawan lain konon ada yang bilang sudah digaji Rp 200.000, ada pula yang kabarnya sudah Rp 300.000. Bapak nggak mau mikirin gaji karyawan lain,” ucap Hafifah yang saat ini berusia 35 tahun.
Bagi Hafifah, untuk keluarga dengan ekonomi pas-pasan seperti bapaknya, bisa naik haji ke Baitullah merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebagai seorang muslim, bapak dan seluruh keluarganya jelas bermimpi dan bercita-cita naik haji. Namun, mereka tak pernah memasang target kapan mimpi itu bisa terealisasi karena menyadari biaya besar yang harus dikeluarkan untuk mewujudkannya. Dan ternyata Allah punya cara memanggil hamba-Nya untuk berangkat ke Tanah Suci dengan skenario yang tak pernah terlintas di benak Aliur Raidah bersama keluarga.
“Saya ingat waktu itu, almarhum ibu sampai menjual gelang emas satu-satunya yang saya punya agar ada tambahan uang saku bapak berangkat haji. Ya, maklum karena (bapak naik haji) mendadak dan nggak ada persiapan, apalagi keluarga pada pesan oleh-oleh haji sama bapak,” tutur Hafifah yang saat ini hidup serumah dengan ibu sambung dan bapak yang sangat dicintainya.
Hafifah menjadikan bapaknya lebih dari sekedar orang tua yang berjasa membesarkannya. Melainkan juga menjadi sumur keteladanan tempat dia bersama suami dan anak-anaknya menimba pelajaran hidup. Kejujuran, ketekunan, tanggung jawab, dan kecintaan pada pekerjaan telah menghadirkan kekuatan yang tak bisa ditakar dengan logika manusia. Kekuatan itulah yang mengantarnya ke Baitullah. Bapaknya dengan segala kepolosannya mengajarkan ilmu kehidupan yang selamanya dibutuhkan manusia.
“Walaupun H. Dikding sudah tidak ada (meninggal dunia beberapa tahun lalu), tapi sampai sekarang keluarga beliau masih baik sama bapak. Saat bapak sakit seperti sekarang saja, Ibu Hajjah Ernawati (istri Zainuddin) dan Ustad Lukman (anak Zainuddin) bersama istrinya masih sering jenguk bapak. Mereka baik sekali sama bapak,” kata Hafifah.
Lukmanul Hakim, anak bungsu dari Zainuddin dan Ernawati, membenarkan bahwa Aliur Ridah memiliki tempat istimewa di hati almarhum ayah dan keluarga besarnya. Dan karena keistimewaan itulah Aliur Ridah menjadi satu-satunya dari puluhan karyawan yang diberangkatkan haji ke Tanah Suci. Di mata keluarganya, Aliur Ridah merupakan pribadi pekerja keras, ulet, jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
“Yang dipercaya ngantar uang ke sana ke mari oleh ayah saya dulu itu ya H. Liur (sapaan akrab Aliur Ridah). Dia sudah dipercaya sekali,” ujar Lukman yang ditemui KabarBaik.co di Pesantren Abu Hurairah tempatnya mengajar.
Lukman dan keluarganya telah menganggap Aliur Ridah seperti keluarga sendiri. Memberangkatkannya melaksanakan ibadah haji ke Baitullah hanya bagian terkecil dari cara keluarga Lukman dalam menghargai dedikasi yang panjang, sekaligus mengapresiasi keistimewaan yang dimiliki Aliur Ridah.
Riwayat perjalanan ibadah haji pria yang kini berusia 63 tahun itu merupakan persembahan semesta untuk terus dibaca oleh umat manusia dari generasi ke generasi. Menjadi inspirasi bahwa budi baik memiliki jalannya sendiri. Jalan cahaya yang salah satu rutenya terhubung dengan optimisme bahwa semua orang bisa naik haji dengan cara dan skenario terbaik dari Allah. Ya, percayalah, semua bisa haji. (*)