KabarBaik.co, Nganjuk — Proyek revitalisasi fasilitas sekolah di SMAN 1 Tanjunganom bernilai fantastis mencapai Rp 1,9 miliar menuai sorotan. Pasalnya, meski menelan dana hampir Rp 2 miliar dari Kementerian, pengerjaan rehabilitasi untuk 11 ruang kelas di sekolah tersebut tidak mengganti seluruh material bangunan, melainkan menerapkan metode “tambal sulam” dengan memanfaatkan kembali material kayu lama.
Kepala SMAN 1 Tanjunganom, Bowo, membenarkan bahwa total anggaran yang diterima sekolahnya adalah Rp 1,9 miliar untuk pengerjaan fisik serta rehab.
Sementara itu, Kepala Tata Usaha (KTU) SMAN 1 Tanjunganom, Siswanto, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan teknis antara bangunan baru dan pengerjaan rehabilitasi.
“Kalau pembangunan yang ruang administrasi, itu semuanya harus baru. Karena rehabilitasi, itu adalah tambal sulam,” ujar Siswanto saat memberikan klarifikasi mengenai penggunaan material kayu bekas di lokasi proyek, Kamis (13/8).
Proyek yang dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah bersama masyarakat ini ditargetkan rampung dalam waktu 180 hari kerja atau sekitar awal Desember.
Selain pembangunan unit gedung baru untuk ruang administrasi, fokus utama pekerjaan terletak pada perbaikan 11 ruang kelas yang kondisinya bervariasi.
Siswanto menambahkan, keputusan untuk mempertahankan atau mengganti material seperti kayu dan kuda-kuda bangunan sepenuhnya didasarkan pada hasil kajian teknis dinas terkait.
“Itu ada pengkajian analisis, kayu iki jek kenek digawe opo ora (kayu ini masih bisa dipakai atau tidak). Mengondisikan semula, panggah kanggo sing lama dan sing baru. Tergantung analisis dari PUPR,” jelasnya.
Ia menyebut tingkat kerusakan tiap kelas berkisar antara 30 hingga 40 persen, sehingga bagian yang diganti total mayoritas hanya pada atap genteng, reng, dan plafon.
Di sisi lain, Kepala SMAN 1Tanjunganom, Bowo, menegaskan bahwa seluruh proses pengajuan hingga pencairan dana telah melalui prosedur resmi yang ketat dari pihak kementerian.
“Pertama kali untuk mendapatkan revitalisasi, ada aplikasi dari kementerian lewat Cabang Dinas. Setelah itu cari analisis dari PUPR, terus di-ACC. Pihak Ditjen juga datang langsung mengecek ke sini sebelum Bimtek dan penandatanganan P2SD,” tegas Bowo.








