SMK Go Global Jatim Dorong Siswa Siap Bersaing di Pasar Kerja Dunia

oleh -94 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 13 at 10.19.09 AM
Sosialisasi dan Pemetaan Kompetensi SMK Go Global Jawa Timur 2026 di Graha Kadin Jatim, Surabaya (Ist)

KabarBaik.co, Surabaya — Pendidikan vokasi di Jatim terus didorong untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja. Melalui program SMK Go Global, penguatan kompetensi siswa tidak lagi hanya diarahkan agar siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga memiliki keterampilan, sertifikasi, kemampuan bahasa, serta karakter yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar kerja internasional.

Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Sosialisasi dan Pemetaan Kompetensi SMK Go Global Jawa Timur 2026 bertema “Sinergi Ekosistem Vokasi Pekerja Migran Indonesia, Wujudkan SDM Unggul Kelas Dunia” di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Kamis (13/8).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi Kadin Jawa Timur, Kadin Institute dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) tersebut mempertemukan berbagai unsur pendidikan dan pelatihan vokasi. Di antaranya lembaga pelatihan kerja (LPK), lembaga kursus dan pelatihan (LKP), lembaga sertifikasi profesi (LSP), balai latihan kerja (BLK), asosiasi vokasi, hingga perwakilan SMK.

Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengatakan pemetaan kompetensi menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan pendidikan vokasi agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.

“Sekarang job-nya banyak, sehingga job ini harus dimatchingkan. Tugas kita memetakan kompetensi pekerja yang akan dikirim ke luar negeri dengan kompetensi yang diinginkan oleh negara penempatan,” ujarnya.

Menurut Nurul, lulusan SMK yang ingin memasuki pasar kerja internasional membutuhkan tiga modal utama, yakni keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Ketiganya perlu dibangun sejak berada di bangku pendidikan melalui proses pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis. Pendidikan vokasi, kata dia, juga perlu memperkuat kemampuan nonteknis, seperti komunikasi, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, adaptasi, serta karakter.

“Yang kita siapkan bukan hanya skill, tetapi juga knowledge dan attitude. Kemampuan teknis harus siap, kemampuan nonteknis juga harus disiapkan, terutama pengembangan karakter dan soft skill,” katanya.

Kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara juga semakin spesifik. Pada sektor manufaktur, misalnya, terdapat kebutuhan tenaga untuk pekerjaan packing, screwing, fitting, pengelasan industri hingga pengoperasian teknologi. Di sektor pertanian, kebutuhan mencakup tenaga untuk penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan. Sementara pada sektor kesehatan terdapat kebutuhan caregiver, caretaker dan tenaga perawatan lansia.

Adapun sektor domestik mulai diarahkan berdasarkan jabatan dan kompetensi, seperti housekeeper, childcare, babysitter, family cook dan family driver.Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pekerja migran ke depan semakin membutuhkan kompetensi yang terukur. Mereka tidak lagi sekadar dipandang berdasarkan kategori pekerjaan formal atau informal, tetapi berdasarkan jabatan dan kemampuan yang dimiliki.

“Sekarang sudah mengarah kepada jabatan. Housekeeper, caretaker, babysitter, childcare. Itu mengarah kepada jabatan. Jadi bukan lagi penata laksana rumah tangga, tetapi jabatan-jabatan yang sesuai dengan kompetensi,” ujar Nurul.

Pendidikan Vokasi Perlu Lebih Adaptif

Perkembangan kebutuhan dunia kerja global menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan vokasi di Jawa Timur. Sekolah dituntut semakin kreatif dalam merancang pembelajaran agar kompetensi yang diberikan kepada siswa tidak tertinggal dari perubahan industri.

Peluang tersebut antara lain terlihat dari kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara. Jepang membutuhkan tenaga caregiver, sedangkan Jerman memiliki kebutuhan di sektor hospitality, termasuk tenaga cook dan bidang makanan. Sejumlah negara lain seperti Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia, Brunei, Australia dan Turki juga menjadi pasar potensial bagi tenaga kerja Indonesia dengan kompetensi yang sesuai.

Jawa Timur memiliki modal besar untuk memanfaatkan peluang tersebut karena memiliki basis pendidikan vokasi yang cukup kuat. Lulusan SMK, politeknik dan lembaga pendidikan vokasi lainnya dapat dipersiapkan sejak awal berdasarkan karakteristik pekerjaan serta persyaratan negara tujuan. Dengan pendekatan tersebut, proses pendidikan diharapkan tidak berhenti pada kelulusan siswa, tetapi berlanjut pada kesiapan memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang dapat diakui.

Kompetensi dan Legalitas Jadi Bekal Utama

Penguatan kompetensi juga dinilai penting untuk mengurangi risiko pekerja migran menghadapi persoalan ketika berada di negara tujuan.

Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan peningkatan kompetensi harus berjalan beriringan dengan kepastian legalitas. Calon pekerja migran harus melalui jalur resmi serta memiliki keterampilan yang sesuai sebelum diberangkatkan.

“Yang penting sekarang tenaga harus legal, terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan melalui jalur resmi. Bukan ilegal. Kemudian dibekali kompetensi, baik kompetensi teknis maupun nonteknis,” tegas Adik.

Selain keterampilan teknis, kemampuan memahami budaya negara tujuan juga menjadi bagian penting yang perlu diberikan dalam proses pendidikan dan pelatihan. Menurut Adik, kurangnya pemahaman terhadap budaya di negara tujuan dapat memicu culture shock. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan pekerja dalam beradaptasi dan menjalankan pekerjaannya.

“Kalau tidak tahu ilmunya, dia bisa mengalami culture shock. Ada perubahan budaya di sana yang bisa berpengaruh terhadap perilaku. Kalau tidak cocok, akhirnya tidak kerasan dan bisa muncul persoalan,” ujarnya.

Karena itu, sertifikasi kompetensi menjadi salah satu bekal penting sebelum calon pekerja migran diberangkatkan. “Kalau dia tidak memiliki skill dan tidak dibekali keterampilan, di sana tidak bisa apa-apa dan bisa dipulangkan. Sekarang mulai diminimalkan. Pemerintah mendorong semua yang berangkat harus memiliki sertifikat kompetensi untuk meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan,” katanya.

Bangun Ekosistem Pendidikan Vokasi

Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia KP2MI Abri Danar Prabawa mengatakan program SMK Go Global merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing dan terserap di pasar kerja internasional.

“SMK Go Global ini salah satu bentuk program pemerintah yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang nantinya mampu bersaing dan terserap di pasar kerja global,” ujarnya.

Abri menilai penguatan pendidikan vokasi tidak dapat dilakukan oleh sekolah atau pemerintah secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, pemerintah daerah, pemerintah desa, lembaga vokasi, SMK, LPK dan dunia usaha.

Kolaborasi tersebut diperlukan mulai dari pemetaan calon tenaga kerja, penyusunan pelatihan, peningkatan keterampilan, pembelajaran bahasa asing hingga sertifikasi.
“Kita harus membangun ekosistem yang satu. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita perlu bekerja bersama untuk menyiapkan SDM yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global,” katanya.

Jawa Timur, lanjut Abri, memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat penyiapan tenaga kerja berkualitas. Banyaknya lembaga pendidikan vokasi dan SMK menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri internasional. Namun, sejumlah aspek masih perlu diperkuat, terutama kompetensi spesifik, sertifikasi dan kemampuan bahasa asing.

“Kita memiliki modalitas yang sangat besar dan keunggulan talenta yang cukup baik. Hanya saja, kita perlu menguatkan kompetensi mereka. Salah satunya adalah kompetensi bahasa asing,” jelasnya.
Pemetaan Jadi Dasar Pengembangan Kompetensi

Pemetaan kompetensi selanjutnya diarahkan untuk mengetahui jumlah masyarakat yang berminat bekerja ke luar negeri, bidang pekerjaan yang diminati serta kemampuan yang telah dimiliki.

Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan jenis pelatihan yang dibutuhkan sehingga proses peningkatan kompetensi menjadi lebih tepat sasaran.

“Kita ingin tahu berapa yang berminat bekerja ke luar negeri, minatnya apa, kompetensinya apa, lalu kita upgrade dan kita siapkan. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik untuk menyiapkan SDM yang unggul untuk kelas dunia,” kata Abri.

Melalui SMK Go Global, pendidikan vokasi Jawa Timur diharapkan semakin adaptif terhadap perkembangan dunia kerja. Siswa tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga didorong memiliki kreativitas, kemampuan berkomunikasi, karakter, penguasaan bahasa asing dan kesiapan beradaptasi dengan lingkungan kerja yang berbeda.

Dengan demikian, lulusan SMK tidak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia terampil dan profesional yang mampu membaca peluang, mengembangkan kompetensi, serta bersaing di tengah perubahan pasar kerja global.

Sinergi antara sekolah, lembaga pelatihan, lembaga sertifikasi, pemerintah dan dunia usaha menjadi fondasi penting untuk membangun pendidikan vokasi yang semakin relevan dengan kebutuhan masa depan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.