Antrean Panjang Solar di Gresik dan Surabaya, Sopir Truk Hanya Bisa Menunggu hingga Seharian

oleh -230 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 25 at 6.54.35 PM
Penampakan antrean truk di SPBU Raya Bambe Gresik (Sugiantoro)

KabarBaik.co, Surabaya – Antrean panjang kendaraan, khususnya truk, terjadi di sejumlah SPBU di Gresik dan Surabaya pada Kamis (25/6). Para sopir berburu biosolar yang saat ini dirasa semakin sulit didapatkan.

Pemandangan antrean mengular terlihat mulai dari kawasan SPBU Margomulyo Surabaya, sepanjang jalan MERR, hingga wilayah Raya Bambe, Gresik. Para sopir rela mengeluarkan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan pasokan bahan bakar.

Agus, salah satu sopir truk yang ditemui di SPBU Raya Bambe Gresik, mengaku sudah mengantre lebih dari satu jam lamanya tanpa bergerak. Menurutnya, kondisi sulitnya mencari Biosolar ini sudah terjadi sejak sepekan terakhir dan kini kondisinya semakin mengkhawatirkan.

“Semuanya antre. Mulai dari Karangpilang Surabaya sampai Raya Bambe Gresik. Sopir harus menunggu berjam-jam, bahkan bisa sampai satu hari penuh hanya untuk mendapatkan solar,” ujar Agus kepada wartawan, Kamis (25/6).

Pemangkasan Kuota Jadi Biang Kerok

Agus membeberkan penyebab utama dari antrean panjang ini adalah adanya kebijakan pembatasan kuota yang sangat ketat di setiap SPBU. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pemerintah melakukan pemangkasan kuota solar sebesar 1,2 persen dari total alokasi awal yang mencapai 18 juta kiloliter.

Akibat aturan tersebut, stok di SPBU seringkali habis jauh sebelum jadwal pengisian berikutnya tiba. Ironisnya, meski permintaan di lapangan sedang melonjak tajam, pihak SPBU tidak bisa menambah pasokan melebihi kuota yang telah ditentukan.

“Sistemnya kuota. Kalau kuota di SPBU itu habis, mereka tidak bisa minta lagi. Sopir terpaksa harus berburu ke SPBU lain. Makanya sekarang kami lebih baik menunggu di sini daripada pindah tapi di sana juga kosong,” paparnya.

Lalu Lintas Logistik Terganggu

Kondisi kelangkaan ini berdampak langsung pada sektor logistik. Agus memperkirakan, kelancaran distribusi barang di Jawa Timur saat ini terganggu sekitar 30 persen. Banyak sopir yang memilih menunda perjalanan atau menunggu di SPBU sampai mendapatkan BBM, demi menghindari kehabisan bahan bakar di tengah jalan.

“Karena mereka memilih tidak jalan sambil menunggu BBM. Daripada memaksa berangkat tapi kehabisan solar di perjalanan,” tambahnya.

Lebih jauh, Agus menilai bahwa subsidi harga BBM menjadi tidak ada artinya jika kepastian ketersediaan barang di lapangan tidak terjamin. Ia menekankan bahwa masalah utama saat ini bukan terletak pada harga, melainkan pada sistem distribusi yang belum lancar.

“Percuma saja kalau harganya disubsidi tapi barangnya tidak ada. Masalahnya bukan di harga, tapi di kepastian distribusi,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada efisiensi anggaran subsidi, namun juga segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap skema distribusi BBM bersubsidi. Tanpa perbaikan sistem, ia khawatir roda perekonomian Jawa Timur akan terhambat karena waktu yang seharusnya digunakan untuk mengangkut barang justru habis hanya untuk mengantre di SPBU. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.