KabarBaik.co, Blitar – Sebanyak 54 ogoh-ogoh diarak dalam pawai yang digelar di RTH Wlingi, Kabupaten Blitar, Rabu (18/3). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian upacara Tawur Kesanga menjelang Hari Raya Nyepi.
Suasana berlangsung sakral sekaligus meriah sejak pagi. Prosesi diawali dengan ritual Tawur Kesanga yang dimulai pukul 07.00 WIB dan berlangsung sekitar dua jam, sebelum dilanjutkan dengan arak-arakan ogoh-ogoh.
Ketua panitia, Setiyoko, menjelaskan Tawur Kesanga merupakan ritual penyucian alam sebelum umat Hindu menjalani Tapa Brata Penyepian. “Tawur Agung ini adalah upacara pembersihan sebelum Nyepi. Dimulai dari melasti, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan unsur alam, termasuk yang berkaitan dengan butakala,” ujarnya.
Ia menambahkan, ogoh-ogoh yang diarak melambangkan butakala atau sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Melalui prosesi tersebut, diharapkan energi negatif dapat dinetralisir.
Arak-arakan dimulai dari RTH Wlingi menuju kawasan Pasar Wlingi melalui Jalan Bromo, kemudian berlanjut ke Jalan Merapi hingga memutar di Jalan Raya Bening. Rute ditutup dengan melintasi Jalan Tembus dan berakhir di titik finis.
Setelah prosesi di lokasi utama, ogoh-ogoh dibawa kembali ke masing-masing wilayah untuk diarak keliling sebelum akhirnya dibakar di tempat yang telah ditentukan. “Setelah dari sini, ogoh-ogoh dibawa ke kampung masing-masing, diarak keliling, lalu dibakar di tempat yang aman,” imbuhnya.
Setiyoko menyebut, pelaksanaan tahun ini dipusatkan di Blitar sebagai bagian dari kegiatan umat Hindu tingkat Jawa Timur. Waktu pelaksanaan juga dimajukan agar tidak mengganggu umat Muslim yang menjalankan ibadah Ramadan.
Sementara itu, Bupati Blitar, Rijanto, menilai pawai ogoh-ogoh tidak sekadar tontonan, tetapi sarat nilai budaya dan kebersamaan. “Ini bukan sekadar atraksi, tetapi simbol kearifan budaya yang mengajarkan kita untuk mengendalikan sifat negatif demi kehidupan yang harmonis,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut mencerminkan semangat gotong royong dan keberagaman masyarakat. Bahkan, pawai ogoh-ogoh dinilai berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata daerah.
“Kegiatan ini bisa menjadi agenda budaya tahunan yang menarik wisatawan dan berdampak pada ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (*)






