Bahaya Plastik Meningkat, Komunitas Lingkungan Desak Jaminan Kesehatan Pekerja Sampah di Gresik

oleh -1091 Dilihat
NINA GRESIK
Aeshnina Azzahra Aqilani, ketua Rweind Indonesia.

KabarBaik.co- Ancaman bahaya plastik sekali pakai kini bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Namun, menjadi krisis kesehatan. Sejumlah penelitian terbaru menemukan kandungan bahan kimia berbahaya dan logam berat dalam tubuh perempuan pemilah sampah, bahkan mikroplastik telah terdeteksi dalam air hujan. Termasuk di wilayah Kabupaten Gresik.

Kondisi tersebut mendorong komunitas lingkungan River Warrior Indonesia (Rewind) menaruh harapan agar Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani semakin serius melakukan pembenahan tata kelola persampahan. Aspirasi itu mereka sampaikan melalui surat yang dilayangkan Rewind kepada Bupati, Senin (8/12).

Dalam suratnya. komunitas yang didominasi generasi Z ini menyoroti berbagai temuan terkait dampak penggunaan plastik sekali pakai terhadap kesehatan masyarakat. Khususnya perempuan pengumpul sampah.

Berdasarkan riset kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unari), Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH), dan Ecoton, ditemukan sedikitnya 23 jenis bahan kimia plastik dalam darah dan urine perempuan pekerja TPS di Gresik. Zat-zat tersebut antara lain Ftalat (phthalates), Bisphenol A (BPA), PAH (1-OH-pyrene), hingga flame retardants (DPHP).

Konsentrasi bahan kimia itu disebut dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan yang tinggal di Pulau Bawean. Paparan jangka panjang zat aditif plastik itu berisiko mengganggu sistem hormon, meningkatkan potensi kanker, serta memicu gangguan kesehatan reproduksi.

Tak hanya itu, penelitian juga menemukan kandungan logam berat seperti kadmium (Cd), timbal (Pb), kromium (Cr), dan nikel (Ni) dalam darah para pemilah sampah. Logam berat tersebut berpotensi merusak sistem saraf dan kardiovaskular.

“Perempuan pengumpul sampah setiap hari terpapar debu mikroplastik dan asap pembakaran plastik. Ini bukan hanya ancaman saat ini, tapi juga membahayakan generasi berikutnya,” tulis Ketua River Warrior Indonesia, Aeshnina Azzahra Aqilani, dalam surat tersebut.

Ancaman mikroplastik juga telah menyebar ke lingkungan yang lebih luas. Sampel air hujan di empat wilayah Gresik menunjukkan kandungan mikroplastik antara 12 hingga 25 partikel per liter. Partikel tersebut didominasi jenis fiber dan fragmen, yang berpotensi masuk ke rantai makanan dan sumber air masyarakat.

River Warrior Indonesia menilai kondisi ini dipicu oleh kelemahan sistem pengelolaan sampah. Indikatornya antara lain maraknya pembakaran sampah plastik secara terbuka, penumpukan sampah di TPS 3R yang tak terkelola, serta pencemaran sungai dan lahan terbuka oleh sampah plastik ilegal.

Melalui surat tersebut, River Warrior Indonesia mendesak pemerintah daerah memberikan jaminan kesehatan bagi perempuan pengumpul sampah, menindak tegas praktik pembakaran sampah, membentuk satuan tugas pengawasan partisipatif, serta menjadikan pembangunan TPST 3R di desa dan kelurahan sebagai prioritas.

Ini soal perlindungan kesehatan warga. Plastik sekali pakai telah berubah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat,” tegas Aeshnina. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.