KabarBaik.co – Paparan mikroplastik kembali terdeteksi di Jombang. Hasil pemantauan terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik jenis fiber atau serat mendominasi pencemaran udara, dengan temuan tertinggi berada di kawasan permukiman Jatirejo, Kecamatan Diwek.
Pemantauan dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) di tiga titik, yakni depan Polres Jombang, depan Lapas Jombang, dan Jatirejo. Metode yang digunakan adalah passive sampling, yakni menangkap partikel mikroplastik di udara secara alami menggunakan kertas saring Whatman yang diletakkan di dalam cawan petri, kemudian dianalisis dengan mikroskop portabel.
Hasilnya, di Jatirejo ditemukan 16 partikel mikroplastik, terdiri dari 13 fiber, dua film, dan satu fragmen. Sementara di depan Lapas Jombang teridentifikasi 14 partikel mikroplastik, yang mencakup 10 fiber, satu film, dan tiga fragmen. Adapun di depan Polres Jombang ditemukan 13 partikel mikroplastik yang seluruhnya merupakan jenis fiber.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa dominasi mikroplastik jenis fiber hampir selalu ditemukan di kawasan perkotaan dan permukiman padat.
“Serat mikroplastik ini banyak berasal dari aktivitas sehari-hari, terutama mencuci pakaian. Serat sintetis bisa terlepas ke udara maupun saluran air, lalu menyebar ke lingkungan sekitar,” ujar Rafika, dalam keterangannya Selasa (20/1).
Pendiri Ecoton Prigi Arisandi menegaskan bahwa temuan tersebut bukan sekadar data lingkungan, melainkan peringatan serius bagi kesehatan manusia.
“Mikroplastik tidak berhenti di air atau udara. Ia masuk ke rantai makanan, dimakan ikan, lalu kembali ke tubuh manusia. Ini ancaman jangka panjang yang sering kita anggap sepele,” kata Prigi.
Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menambahkan bahwa lemahnya pengelolaan limbah domestik masih menjadi penyebab utama tingginya paparan mikroplastik di Jombang.
“Selama sistem pengolahan air limbah rumah tangga belum dibenahi secara serius, mikroplastik akan terus mengalir dan tersebar ke lingkungan,” ujarnya.
Hasil penelitian tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi lingkungan di MA dan MTs Al Hikam Jatirejo, Kecamatan Diwek, yang diikuti oleh pelajar, guru, serta pegiat lingkungan.
Kepala MA Al Hikam Jatirejo, Matuhah Mustiqowati, menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai edukasi soal mikroplastik penting ditanamkan sejak dini.
“Kami ingin siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga sadar bahwa perilaku sehari-hari mereka berdampak langsung terhadap lingkungan,” katanya.
Temuan ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengelolaan limbah, meningkatkan sistem pengolahan air limbah domestik, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. (*)






