Temuan Mikroplastik dalam Darah Pekerja Sampah, Ecoton Serukan Warga Kurangi Plastik Sekali Pakai

oleh -200 Dilihat
IMG 20251129 WA0023
Lembaga lingkungan Ecoton kembali menyerukan pengurangan penggunaan plastik.

KabarBaik.co — Temuan 23 bahan kimia berbahaya terkait plastik dalam darah pekerja pemilah sampah di Gresik menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Lembaga lingkungan Ecoton kembali menyerukan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai melalui aksi keprihatinan yang digelar bersama mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair) di perempatan Jalan Mulyorejo, Surabaya.

Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Mikroplastik Ecoton, menyebut hasil penelitian tersebut sebagai sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Ia menjelaskan bahwa setengah dari polimer mikroplastik yang terdeteksi dalam darah peserta penelitian merupakan PET dan ftalat, dua komponen utama botol air minum dalam kemasan.

“Temuan ini harus menjadi pelajaran bersama. Jika ingin terhindar dari ancaman mikroplastik, kita perlu mulai mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan plastik,” ujar Alaika, Sabtu (29/11).

Untuk memperkuat pesan kampanye, sekitar 20 aktivis dari Ecoton, Growgreen, River Warrior, serta mahasiswa Unair turut hadir membentangkan poster ajakan pengurangan plastik sekali pakai. Mereka juga berorasi mengingatkan bahwa tas kresek, styrofoam, dan botol plastik terus mencemari sungai dan laut, dan pada akhirnya kembali masuk ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik.

Anjar, mahasiswa Komunikasi Unesa, menegaskan bahwa penghentian penggunaan plastik sekali pakai harus segera dilakukan. “Botol plastik menjadi salah satu sumber mikroplastik yang kembali masuk ke tubuh manusia,” ujarnya.

Penelitian biomonitoring dilakukan oleh Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH) Korea Selatan bekerja sama dengan Ecoton dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Studi tersebut melibatkan 32 perempuan pemilah sampah di Gresik, terdiri atas 27 pekerja dan 5 peserta nonpekerja sebagai kelompok kontrol.

Dari pemeriksaan terhadap 65 jenis bahan kimia dalam sampel darah dan urin, ditemukan 23 jenis zat berbahaya yang terdeteksi pada seluruh peserta. Kadar pada kelompok pekerja tercatat jauh lebih tinggi dibanding kontrol. Zat seperti ftalat, BPA, PAH, dan flame retardants diketahui dapat memicu gangguan hormon, menurunkan kesuburan, melemahkan sistem pernapasan, hingga meningkatkan risiko kanker.

Dr. Won Kim dari WIOEH menyebut paparan yang dialami para pekerja berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan harus segera ditindaklanjuti melalui perlindungan kesehatan pekerja serta perbaikan sistem pengelolaan sampah.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Daru Setyorini dari Ecoton. Menurutnya, tingginya paparan bahan kimia plastik menunjukkan masih lemahnya tata kelola sampah di Indonesia.

“Ini alarm keras bagi pemerintah. Pengurangan plastik sekali pakai dan perlindungan bagi pekerja sektor informal perlu segera dilakukan,” tegas Daru.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.