KabarBaik.co – Tawuran pelajar kembali mencoreng wajah dunia pendidikan Kota Surabaya. Sebanyak 12 siswa SMP terpaksa diamankan aparat setelah terlibat bentrok di kawasan Semolowaru Menur Pumpungan, Kecamatan Sukolilo, Selasa lalu (13/5).
Aksi meresahkan di jalanan itu kini berbuntut panjang. Para pelaku tak hanya diberi pembinaan, tapi juga “disekolahkan” ulang oleh Pemkot Surabaya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi angkat bicara soal kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa membentuk karakter anak tidak bisa dibebankan hanya pada sekolah atau pemerintah saja. Orang tua pun punya peran vital.
“Mendidik anak memerlukan sinergi antara lingkungan di rumah dengan lingkungan sekolah,” tegas Eri saat ditemui di Balai Kota Surabaya, Minggu (18/5).
Sebagai langkah konkret, Eri telah menginstruksikan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya untuk menangani persoalan ini dari hulu ke hilir. Orang tua dan pihak sekolah dipanggil untuk duduk satu meja, mencari solusi agar kejadian serupa tak terulang.
Tak hanya itu, Dispendik juga akan menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) serta Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya. Tujuannya, menyusun pola pembinaan berkelanjutan bagi anak-anak yang terlibat.
“Orangtua dari anak-anak itu akan kita panggil untuk duduk bersama para guru. Mereka (pelaku tawuran) kami kirim ke Kampung Anak Negeri yang selama ini sudah berjalan,” imbuhnya.
Di Kampung Anak Negeri (KANRI), para pelajar ini bakal mendapat tempaan disiplin yang lebih ketat. Tak hanya soal tata krama, mereka juga dibekali pelatihan kerja sosial, pengembangan keterampilan, hingga pembelajaran kebangsaan, keagamaan, dan wirausaha.
“Kita berusaha secara maksimal memberikan pendidikan terbaik untuk masa depan anak Surabaya. Tapi kita tidak bisa sendiri, orangtua tetap menjadi kunci membangun karakter anak,” pungkasnya. (*)