Berbagi Makna Bebas dari Kegelapan Menuju Cahaya, Pesantren Tumbuh dan Tangguh karena Listrik

oleh -61 Dilihat
WhatsApp Image 2024 10 24 at 20.33.45 scaled
Suasana malam hari Pesantren Abu Hurairah II di Pulau Sepanjang, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Tampak ruang kelas yang berhadap-hadapan dengan asrama santri laki-laki yang terbuat dari papan dan kayu berbentuk panggung. (Foto: Hairul Faisal)

Di lingkungan pesantren berkembang adagium ‘dari kegelapan menuju cahaya’ atau dalam bahasa Arab disebut dengan ‘minadzulumati ilannur‘. Jika makna agamanya adalah bebas dari kejahiliahan menuju zaman berkeadaban, maka bagi Pesantren Abu Hurairah II kalimat itu juga tepat untuk menggambarkan beroperasinya PLN di Desa Sepanjang mulai tahun ini. Pesantren menjadi semakin tumbuh dan tangguh dengan adanya aliran listrik.

_

Program Indonesia Terang yang diprakarsai oleh PLN bersama Kementerian ESDM sejak beberapa tahun lalu perlahan tapi pasti mulai dirasakan seluruh masyarakat tanah air. Tidak terkecuali masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan terpencil dan terluar seperti Desa/Pulau Sepanjang, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Apalagi, khusus Jawa Timur, PLN memiliki program Jawa Timur Light for All 2024 yang menargetkan 100 persen elektrifikasi pada tahun 2024. Dan mulai tahun ini rumah-rumah warga serta tempat lainnya di Desa Sepanjang terang secara serentak di malam hari karena telah teraliri listrik.

Di antara tempat yang menikmati terang yang dipersembahkan PLN adalah Pesantren Abu Hurairah II. Pengasuh, para ustad atau pengajar, dan seluruh santri di tempat itu menyambut gembira hujan cahaya yang kini rutin menyapa setiap malam. Lingkungan pesantren terasa lebih bergairah karena berbagai program di malam hari bisa terlaksana dengan maksimal. Mulai salat berjamaah di musola pesantren, dari Magrib, Isya, Tahajud, dan Subuh, hingga kegiatan mengaji Alquran, belajar, dan latihan pidato di dalam ruang kelas. Tidak ketinggalan pula kegiatan para santri di dalam asrama, baik keperluan memasak maupun penggunaan kipas angin.

Pada 14 Juni 2023 lalu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi saat meresmikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Desa Sepanjang menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada PLN yang mendistribusikan aliran listrik hingga ke pulau terluar dan terpencil. Ungkapan itu terus disusul oleh warga setempat yang merasa terbantu dengan mulai terangnya rumah-rumah mereka sejak awal 2024 lalu. Termasuk dari Pengasuh Pesantren Abu Hurairah II, Ustad Dhamin Hasyima.

Menurut Dhamin, sebelum PLN beroperasi seperti sekarang, pihaknya membeli tiga liter solar untuk dipakai menghidupkan mesin diesel milik pesantren mulai dari pukul 17.30 hingga 21.00. Itupun yang teraliri listrik hanya musola, rumah pengasuh, kantor pesantren, dan dua ruang kelas saja. Sementara, asrama santri menggunakan lampu teplok dan obor yang dibuat dari bambu sebagai alat penerang. Baik asrama santri perempuan yang berbentuk bangunan permanen, maupun asrama santri laki-laki yang terbuat dari kayu dan papan berbentuk panggung.

“Terimakasih tentu saja kami sampaikan kepada PLN karena saat ini pulau kami sudah terang dan pesantren kami terasa lebih hidup,” kata Dhamin kepada KabarBaik.co, Kamis (24/10).

WhatsApp Image 2024 10 24 at 19.29.23
Kegiatan belajar malam santri Pesantren Abu Hurairah II di ruang kelas yang terang oleh listrik. (Foto: Hairul Faisal)

Sejak pihak PLN mulai melakukan sosialisasi tahun lalu, Dhamin termasuk yang antusias mendaftar agar pesantren yang diasuhnya teraliri listrik. Dia tidak ingin seterusnya membeli solar sebagai syarat pesantrennya disinari lampu. Selain karena waktu terangnya yang terbatas akibat uang untuk membeli solar juga terbatas, juga agar seluruh kegiatan kepesantrenan berlangsung lancar. “Kan lampu diesel milik pesantren tidak setiap malam kita nyalakan. Kalau lagi ada uang lebih, ya kita beli solar. Tapi kalau lagi tidak ada uang, ya terpaksa para santri yang salat dan belajar menggunakan lampu teplok,” tutur Dhamin lalu tersenyum.

Dhamin sependapat dengan slogan dan misi besar PLN bahwa listrik merupakan gerbang menuju Indonesia maju. Dengan listrik masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah terpencil dan terluar seperti Desa Sepanjang akan menikmati akses penerangan, serta pelayanan dalam bidang pendidikan akan lebih maksimal. Karena itu, saat ini dia terus ‘memaksa’ para ustad dan tenaga pengajar pesantren untuk memanfaatkan tenaga listrik dalam mendidik para santri dengan menggunakan media pembelajaran modern. Seperti menggunakan infocus untuk kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakulikuler.

“Misalnya, kita akan mulai adakan santri nonton bareng film-film Islam dan sejarah tokoh-tokoh bangsa menggunakan infocus. Waktunya disesuaikan dengan kosongnya kegiatan belajar mengajar santri di malam hari,” papar Dhamin.

Dhamin juga berterima kasih karena saat pemasangan listrik pihak pesantren diberikan secara gratis dua kwh meteran listrik oleh pihak PLN. Menurut informasi yang didapatkannya dari beberapa sumber, PLTD yang saat ini beroperasi di Desa Sepanjang berkapasitas 240 KW. Pihak PLN masih akan mengembangkannya secara bertahap melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk meningkatkan pelayanan aliran listrik kepada 1.500 pelanggan di pulau tersebut.

“Walaupun listrik nyala hanya di malam hari saja, belum 24 jam seperti di Pulau Sapeken (ibu kota kecamatan), tetap kami syukuri. Sangat bersyukur karena pengeluaran pesantren menjadi lebih hemat,” jelas Dhamin.

Menurut Dhamin, pihaknya hanya mengeluarkan uang Rp 100.000 per bulan untuk membeli pulsa atau token listrik agar setiap sudut Pesantren Abu Hurairah II diterangi cahaya lampu. Jumlah itu jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan membeli tiga liter solar per malam yang harga perliternya Rp 8.000 seperti saat pesantren menggunakan mesin diesel sendiri. Sebagai pesantren yang menarik SPP untuk setiap santrinya hanya Rp 20.000 per bulan, membeli solar tiga liter setiap malam jelas bukan perkara enteng.

“Apalagi jumlah santri yang hampir 50 ini tidak seluruhnya membayar SPP karena kondisinya ekonomi keluarganya tidak mampu membayar, jadi sangat berat operasional pesantren pada malam hari jika seterusnya menggunakan mesin diesel sendiri,” kata Dhamin.

Dhamin berharap pesantren yang didirikannya pada 2004 silam itu semakin tumbuh, berkembang, dan tangguh melewati tantangan zaman. Para santri dan alumninya semakin berkualitas, sehingga diterima di perguruan tinggi terkemuka di dalam dan luar negeri. Pelayanan dan fasilitas listrik yang disiapkan negara melalui PLN saat ini harus dimaksimalkan oleh dirinya bersama para ustad dan santri-santrinya.

Layanan internet yang mulai tersedia di lingkungan pesantren juga diharapkan membuat santri semakin leluasa menambah khazanah keilmuan mereka. Fisik para santri boleh saja dibatasi oleh deretan pohon kelapa yang memagari halaman pesantren, tapi cakrawala berpikir mereka harus melintasi langit Nusantara hingga dunia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.