Penting & Menarik:
- Sejak promosi ke Liga 1 pada musim 2022/2023, jalan Persis Solo belum sepenuhnya tegak dan stabil.
- Struktur kepemilikan klub tetap sama. Persis Solo masih dimiliki tiga orang. Yakni, Kaesang Pangarep, Erick Thohir, dan Kevin Nugroho.
KabarBaik.co– Persis Solo menjalani musim 2025/2026 dengan tertatih. Terpuruk di papan bawah dan masuk zona degradasi, Laskar Sambernyawa dipaksa bergerak cepat untuk menyelamatkan status mereka di kasta tertinggi sepak bola tanh air. Di tengah keterbatasan waktu dan tuntutan hasil, manajemen Persis memilih jalan pragmatis. Memperkuat tim lewat skema pinjam pakai pemain dari klub lain pada bursa transfer paruh musim.
Diketahui, tahun lalu Persis Solo melakukan perubahan bear struktur manajemen klub. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 17 Oktober 2025 di Solo, Persis Solo merombak jajaran direksi dan komisaris. Namun, satu hal ditegaskan: kepemilikan saham klub tidak berubah.
RUPSLB Persis Solo menghasilkan keputusan penting di level manajemen. Ginda Ferachtriawan ditunjuk sebagai Direktur Persis Solo, menggantikan Presiden ke-6 RI Joko Widodo, Kaesang Pangarep, yang sebelumnya memegang peran aktif dalam operasional klub. Sementara itu, posisi Komisaris diisi oleh Adityo Rimbo, menggantikan Kevin Nugroho.
Meski demikian, struktur kepemilikan klub tetap sama. Persis Solo masih dimiliki tiga orang. Yakni, Kaesang Pangarep, Erick Thohir (Menpora dan Ketua Umum PSSI), dan Kevin Nugroho sebagai pemegang saham mayoritas. Selain itu, terdapat pemegang saham minoritas dengan total sekitar 10 persen yang tetap dilibatkan dalam forum RUPS.
Pergantian direksi ini menandai pemisahan yang lebih tegas antara pemilik dan pengelola klub. Kaesang dan Kevin tetap berada di balik layar sebagai pemilik saham, sementara operasional harian dipercayakan kepada manajemen profesional.
Musim Sulit dan Ancaman Degradasi
Sejak promosi ke Liga 1 pada musim 2022/2023, jalan Persis Solo belum sepenuhnya tegak dan stabil. Pada musim debutnya, Persis finis di peringkat ke-10 klasemen akhir. Musim berikutnya, 2023/2024, mereka sempat menunjukkan progres dengan menempati posisi ke-7. Namun, performa kembali menurun pada musim 2024/2025 dengan finis di peringkat ke-14.
Tren tersebut berlanjut pada paruh musim 2025/2026. Dari 17 kali laga, hanya dua kali menang dan 12 kali kalah. Selebihnya imbang. Persis kesulitan meraih konsistensi hasil dan terjebak di zona degradasi. Kondisi ini memaksa manajemen mengambil langkah cepat dan praktis untuk memperbaiki performa tim dalam waktu singkat.
Di bursa transfer paruh musim, Persis Solo bergerak aktif. Namun alih-alih membeli banyak pemain secara permanen, Persis lebih banyak mendatangkan pemain dengan status pinjaman. Strategi ini dipilih karena dinilai paling realistis untuk situasi darurat.
Beberapa pemain yang didatangkan Persis Solo pada paruh musim antara lain Yabes Roni (winger), dipinjam dari Bali United, Kadek Raditya Maheswara (bek tengah), dipinjam dari Persebaya Surabaya, Alfriyanto Nico, dipinjam dari Persija Jakarta, Vukasin Vranes (kiper), Dusan Mijic (bek), dan Miroslav Maricic (gelandang), trio pemain asing asal Serbia.
Kehadiran pemain-pemain ini diharapkan dapat langsung meningkatkan kualitas tim. Terutama di sektor pertahanan dan lini tengah yang menjadi titik lemah Persis pada putaran pertama.
Skema pinjam pakai memberi keuntungan jangka pendek. Proses lebih cepat, biaya lebih ringan, dan pemain bisa langsung digunakan tanpa komitmen jangka panjang. Bagi Persis yang sedang berjuang keluar dari zona degradasi, faktor kecepatan menjadi krusial.
Meski efektif dalam jangka pendek, strategi pinjam pakai juga menyimpan risiko. Pemain pinjaman umumnya hanya bertahan hingga akhir musim. Artinya, ketika kompetisi berakhir, Persis berpotensi kehilangan sebagian besar tulang punggung tim dan harus kembali membangun dari awal.
Ketergantungan pada pemain pinjaman juga bisa menghambat pembentukan identitas tim dan kontinuitas permainan. Selain itu, peluang pemain lokal Persis untuk berkembang bisa tergerus jika posisi inti terus diisi pemain sementara.
Tantangan tersebut kini berada di tangan para direksi baru tersebut. Ginda Ferachtriawan dan jajaran manajemen harus memastikan bahwa strategi jangka pendek tidak mengorbankan fondasi jangka panjang klub.
Bagi Persis Solo dan para pendukung setianya, tentu bertahan di Liga 1 adalah prioritas utama. Degradasi bukan hanya soal prestasi, melainkan juga berdampak pada finansial, daya tarik sponsor, dan pengembangan klub secara keseluruhan. Karena itu, pinjam pakai dipilih sebagai “jalan darurat” untuk menjaga asa.
Dengan kepemilikan saham yang tetap berada di tangan Kaesang Pangarep, Erick Thohir, dan Kevin Nugroho, serta manajemen baru yang dipercaya mengelola klub secara profesional, Persis Solo berada dalam fase penentuan. Apakah strategi pinjam pakai kali ini akan menjadi penyelamat, atau justru menimbulkan tantangan baru, akan sangat bergantung pada bagaimana manajemen menyeimbangkan kebutuhan instan dan rencana jangka panjang.
Yang jelas, musim ini Persis Solo tidak sekadar bertarung untuk menang, tetapi juga bertarung untuk bertahan. (*)







