Bertani- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Tim gabungan mahasiswa Arsitektur dan Geografi yang menamakan diri mereka Nusa-Gritecture berhasil lolos sebagai perwakilan Indonesia dalam ajang Japan Design, Idea & Exhibition (JDIE) 2025 di Jepang. Mereka membawa inovasi pertanian masa depan berupa desain bangunan berkelanjutan berbasis vertical farming.
Ketua tim, Ariz Fantrio Larosa, menjelaskan bahwa proyek ini berawal pada Desember 2024 dan awalnya ditujukan untuk konferensi internasional di Selandia Baru. Namun seiring pengembangannya, konsep bangunan ini semakin matang dan diputuskan untuk diikutsertakan dalam JDIE 2025. Menurutnya, keunikan dari proyek ini adalah pendekatannya yang menyeluruh dan berjangka panjang, bukan hanya sekadar menciptakan produk inovatif berskala kecil.
Tim Nusa-Gritecture terdiri dari empat mahasiswa, yakni tiga dari Program Studi Arsitektur dan satu dari Geografi. Kolaborasi lintas disiplin ini dinilai sebagai kekuatan utama tim. Mahasiswa Arsitektur bertugas merancang desain bangunan, membuat pemodelan visual, dan menyusun video render. Sementara itu, peran mahasiswa Geografi fokus pada studi agrikultur dan pemilihan media tanam yang sesuai untuk diterapkan di dalam bangunan.
Konsep yang mereka usung adalah menciptakan satu bangunan multifungsi yang mampu menampung seluruh proses pertanian, mulai dari pembenihan, penanaman padi, hingga pengolahan menjadi beras. Sistem ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan pertanian masa kini, seperti ancaman gagal panen akibat perubahan iklim dan rendahnya minat generasi muda menjadi petani. Dengan membawa pertanian ke dalam ruang tertutup yang dirancang secara arsitektural, tim ini menawarkan solusi pertanian modern yang aplikatif dan kontekstual.
Nama Nusa-Gritecture sendiri merupakan gabungan dari kata “agriculture” dan “architecture”, yang mencerminkan semangat untuk menggabungkan desain arsitektur dengan fungsi pertanian dalam konteks lokal Indonesia. Meski tidak memiliki makna filosofis khusus, nama ini dipilih untuk menunjukkan karakter proyek yang mengangkat potensi dan identitas Nusantara melalui pendekatan desain yang inovatif.
Proses seleksi menuju JDIE dilakukan secara ketat, dimulai dari pengajuan proposal, pembuatan prototipe, hingga presentasi di hadapan Biro Kemahasiswaan UMS untuk mendapatkan surat rekomendasi dan dukungan dana. Dalam perjalanannya selama kurang lebih delapan bulan, tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari simulasi pertumbuhan tanaman padi dalam ruangan hingga perhitungan biaya pembangunan yang realistis.
Dosen pembimbing proyek, Fauzi Mizan Prabowo Aji, S.Ars., M.Ars., menyebut bahwa keberhasilan tim ini adalah buah dari pembinaan berkelanjutan oleh Prodi Arsitektur UMS yang aktif menjaring karya mahasiswa potensial. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan realistis dan kontekstual dalam desain, serta komunikasi efektif dalam tim.
Fauzi menambahkan bahwa proyek ini berhasil diintegrasikan ke dalam program Pengabdian Masyarakat Internasional, yang memungkinkan tim mendapatkan dukungan finansial tambahan. Ia juga menyoroti nilai tambah dari kolaborasi antar-disiplin, di mana perspektif ilmiah dari mahasiswa Geografi memperkuat landasan desain yang dibuat oleh tim Arsitektur.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMS mampu bersaing dengan kampus-kampus ternama lainnya di tingkat Asia. Ke depan, tim Nusa-Gritecture berencana mengembangkan proyek ini ke skala mikro agar lebih mudah diimplementasikan di lingkungan urban atau lahan terbatas.
Ariz berharap pencapaian ini bisa menginspirasi mahasiswa lain untuk tidak ragu berinovasi. Ia meyakini bahwa ide sekecil apapun bisa memberikan dampak besar jika dikembangkan secara serius. Sementara itu, UMS terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung partisipasi mahasiswa di ajang kompetisi internasional, dengan harapan dukungan terhadap inovasi mahasiswa akan semakin kuat ke depannya. (*)






