KabarBaik.co, Banyuwangi – Layanan fertilitas modern kini mulai dikembangkan di Banyuwangi melalui kolaborasi Morula IVF Surabaya dengan Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah Banyuwangi. Layanan ini mencakup konsultasi infertilitas, inseminasi atau IUI, program bayi tabung (IVF), hingga pemeriksaan genetik embrio atau PGT-A.
Direktur RSI Fatimah Banyuwangi, Widowati mengatakan, kolaborasi tersebut ditujukan untuk mendekatkan akses layanan fertilitas berkualitas bagi masyarakat Banyuwangi dan kawasan Tapal Kuda. “Hadirnya kolaborasi layanan fertilitas ini adalah komitmen kami untuk mendekatkan pelayanan medis berkualitas tinggi kepada masyarakat,” kata Widowati.
Menurutnya, pasangan yang membutuhkan penanganan infertilitas nantinya tidak perlu selalu pergi ke luar daerah. Tahapan awal penanganan dapat dilakukan di Banyuwangi sebelum pasien menjalani prosedur lanjutan yang membutuhkan fasilitas laboratorium khusus.
“Kami menargetkan seluruh kesiapan fasilitas dan ekosistem layanannya sudah beroperasi penuh serta siap melayani pasien secara optimal mulai tahun depan,” ujarnya.
Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Morula IVF Surabaya, Budi Santoso menjelaskan, skema kolaborasi tersebut dirancang agar pasien lebih efisien dari sisi waktu, biaya, maupun perjalanan.
“Dalam program IVF ada sekitar tujuh tahapan utama. Lewat skema kolaborasi terpadu ini, sebanyak empat tahapan awal seperti konsolidasi, pemeriksaan awal, hingga persiapan stimulasi bisa dilakukan di RSI Fatimah Banyuwangi. Baru untuk tindakan laboratorium inti dilakukan di Surabaya,” jelasnya.
Skema tersebut dinilai dapat mengurangi biaya logistik sekaligus menekan beban perjalanan dan stres pasien selama menjalani program kehamilan. Teknologi PGT-A juga disiapkan sebagai bagian dari layanan untuk membantu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan.
Budi menyebut, dengan penggunaan PGT-A, peluang keberhasilan kehamilan dapat mencapai sekitar 70 hingga 77 persen. Sementara angka infertilitas pada pasangan usia subur diperkirakan berada di kisaran 10 hingga 15 persen.
Penanganan infertilitas juga membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Selain dokter spesialis kandungan, pasien dapat membutuhkan dokter spesialis andrologi untuk menangani faktor kesuburan pria serta ahli embrio dalam tahapan program bayi tabung.
Dokter spesialis andrologi, Taufiq Hidayat mengatakan, layanan tersebut sekaligus membuka peluang bagi Banyuwangi untuk mengembangkan sektor health tourism. “Apabila ini menjadi prioritas daerah, kami sangat siap mendukung. Sebagian besar tahapan program kehamilan maupun penanganan kesehatan reproduksi pria kini sudah dapat dikerjakan langsung di Banyuwangi,” katanya. (*)






