KabarBaik.co – Kabupaten Bojonegoro kembali mencatat sejarah. Sebanyak 2.025 pelajar menari Tari Api Kayangan Merah Putih secara massal di Stadion Letjen H. Soedirman, Kamis (17/7). Mereka berhasil memecahkan rekor dunia versi Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Verifikasi langsung dilakukan oleh tim MURI yang dipimpin oleh Sri Widayati. Ia mengatakan bahwa timnya telah melakukan pendataan secara ketat melalui satu pintu masuk untuk memastikan akurasi jumlah peserta.
“Rekor tari ini sangat spesial. Tari massal banyak, tapi ini pertama kalinya Tari Api Kayangan Merah Putih dengan jumlah peserta sebanyak ini tercatat dalam MURI, dan dikukuhkan sebagai rekor dunia,” ungkap Sri Widayati.
Pagelaran tari ini dinilai tidak hanya memecahkan rekor dari sisi kuantitas, tetapi juga memiliki nilai keunikan karena mengangkat kearifan lokal Bojonegoro, yaitu keberadaan Api Abadi Kayangan yang menjadi inspirasi utama tarian.
“Pagelaran ini bukan hanya mencetak rekor nasional, tetapi juga diakui sebagai rekor dunia karena mengandung nilai budaya yang kuat, orisinalitas tema, serta semangat kebangsaan,” tambahnya.
MURI secara resmi menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro sebagai pemrakarsa dan pendukung acara.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Bojonegoro, Welly Fitrama, menjelaskan bahwa tarian ini melibatkan 2.025 pelajar dari 106 sekolah tingkat SMP, SMA/SMK, MA, serta lima sanggar seni tari.
“Tari Api Kayangan Merah Putih terinspirasi dari fenomena alam Api Abadi yang terletak di tengah hutan jati Bojonegoro. Kain merah dalam tarian melambangkan semangat kebangsaan yang menyala untuk sang Merah Putih,” jelasnya.
Menurut Welly, jumlah 2.025 penari juga memiliki makna simbolis, yakni menyongsong tahun 2025 sebagai momentum untuk memulai harapan dan semangat baru.
Penampilan tari massal ini menjadi bagian dari puncak peringatan Hari Koperasi ke-78 tingkat Provinsi Jawa Timur, yang dipusatkan di Bojonegoro. Koreografi disesuaikan dengan tema “Koperasi Merah Putih”. (*)