Museum 13, Jejak Sejarah Bojonegoro yang Lahir dari Semangat Warga

oleh -184 Dilihat
WhatsApp Image 2025 06 16 at 12.12.15
Kunjungan tim GVN di Museum 13 Bojonegoro. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co – Di lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, berdiri sebuah museum unik yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Bojonegoro. Museum 13, museum swasta pertama di kabupaten ini menjadi bukti bahwa pelestarian sejarah tak selalu harus digerakkan oleh institusi.

Museum ini adalah bukti bahwa warga pun bisa melakukannya secara mandiri dan bermakna. Museum yang dikelola komunitas lokal ini menjadi destinasi pertama yang dikunjungi Tim Verifikasi Geopark Nasional (GVN) dalam kunjungan mereka ke Bojonegoro. Kedatangan tim ini disambut oleh deretan koleksi fosil, artefak, dan benda-benda geologis, sekaligus semangat luar biasa dari warga dan para siswa sekolah dasar yang terlibat aktif dalam pelestarian sejarah.

Salah satu momen menarik terjadi saat Cantika, siswi kelas 4 SDN Panjunan, dengan percaya diri mempresentasikan asal-usul Museum 13 kepada tim GVN. Ia menjelaskan bahwa nama museum tersebut terinspirasi dari angka simbolik dalam budaya lokal, yang diambil dari buku saku ‘Wawe’. Angka satu melambangkan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan angka tiga mencerminkan siklus kehidupan: lahir, hidup, dan mati.

“Filosofi ini menggambarkan bahwa segala sesuatu memiliki awal dan akhir, termasuk sejarah dan peradaban,” jelas Cantika dengan penuh semangat, Senin (16/6). Museum 13 menyimpan koleksi dari tiga bidang utama, arkeologi, paleontologi, dan geologi. Mulai dari artefak peninggalan masa lampau, fosil tulang belulang hewan purba seperti gajah, hingga contoh batuan alam khas Bojonegoro, semua tersimpan rapi dan terawat.

Yang membuat Museum 13 berbeda adalah latar belakang pembentukannya. Berawal dari penemuan fosil gajah oleh komunitas pecinta sejarah di sekitar desa, koleksi museum ini terus berkembang melalui semangat gotong royong warga. Kini, jumlah koleksi telah mencapai ratusan item, menjadikan museum ini sebagai salah satu pusat pelestarian sejarah lokal yang paling aktif di Bojonegoro.

“Museum ini dibentuk dari kesadaran warga untuk menjaga sejarah lokal. Kami percaya bahwa masyarakat, terutama anak-anak, harus tahu bahwa tanah tempat mereka berpijak pernah menjadi habitat hewan purba,” ungkap Harry Nugroho, salah satu pengelola museum.

Menurut Harry, Museum 13 tak hanya menjadi ruang pamer benda-benda kuno, tetapi juga sebagai pusat edukasi budaya dan literasi sejarah. Museum ini terbuka untuk kunjungan sekolah, kegiatan penelitian, dan program pendidikan berbasis kearifan lokal.

Apresiasi pun datang dari Tim GVN. Keberadaan Museum 13 dinilai sejalan dengan semangat Geopark Nasional, yaitu pelestarian keanekaragaman geologi (geodiversity) yang dibarengi dengan pendidikan dan penguatan identitas budaya lokal. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp).

Di ruang yang sederhana ini, Bojonegoro bercerita tentang masa lalu yang kaya, tentang peradaban yang pernah ada, dan tentang warga yang sukarela menjaga ingatan kolektif mereka. Museum ini menjadi simbol bahwa masa depan pelestarian sejarah tidak hanya ada di tangan pemerintah, tapi juga di tangan warga yang peduli. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.