Bukan April Mop! Lebih Parah dari Krisis Moneter 1998, Rupiah Catat Level Terlemah dalam Sejarah RI

oleh -329 Dilihat
RUPIAH

​KabarBaik.co, Jakarta – Indonesia tengah terbangun dengan kabar pahit di awal April tahun ini. Nilai tukar Rupiah resmi mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah Republik Indonesia (RI) dengan menembus level psikologis baru Rp 17.000 per Dollar AS pada perdagangan Rabu (1/4/2026).

​Angka ini bukan sekadar lelucon “April Mop”. Data pasar spot menunjukkan mata uang Garuda sempat menyentuh titik terendah di posisi Rp 17.024, melampaui rekor kelam masa Krisis Moneter Juni 1998 silam yang tertahan di level Rp 16.800.

Pelemahan tajam ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang tampaknya kian memanas, memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Sebagai negara importir minyak, Indonesia menghadapi tekanan ganda. Yakni, pembengkakan subsidi energi dan capital outflow menuju aset aman seperti Dollar AS.

​”Ini uncharted territory (wilayah yang belum pernah terjamah sebelumnya). Kita tidak lagi bicara soal ancaman krisis, tapi bagaimana cara bertahan di tengah badai global ini,” ujar analis pasar uang di Jakarta.

​Secara nominal, angka Rp 17.000 memang lebih besar dibanding tahun 1998. Namun, para ahli mengingatkan adanya perbedaan fundamental. Jika pada 1998 sistem perbankan domestik hancur total, saat ini pelemahan lebih disebabkan oleh faktor eksternal yang masif dan ketidakpastian suku bunga global.

​Berikut perbandingan tiga titik nadir Rupiah dalam sejarah:

  • ​April 2026: Rp 17.024 (Ketegangan Geopolitik dan Krisis Energi)
  • ​Juni 1998: Rp 16.800 (Krisis Moneter dan Reformasi)
  • April 2020: Rp 16.650 (Pandemi Covid-19)

​Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi “triple intervention” guna memastikan volatilitas tetap terkendali.

Meski cadangan devisa masih dalam kategori aman, level Rp 17.000 ini memberikan tekanan besar bagi sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti farmasi dan manufaktur elektronik. Situasi ini berpotensi melambungnya sejumlah harga di tengah masyarakat.

​Kini, publik menanti kebijakan luar biasa dari otoritas moneter untuk meredam dampak inflasi yang membayangi di depan mata. Satu yang past, kali ini Rupiah telah menuliskan babak baru yang paling menantang dalam sejarah ekonominya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.