KabarBaik.co, Sidoarjo – Pagi di Dusun Pologunting, Desa Gempolsari selalu dimulai dengan suara yang sama. Ayam berkokok, pintu rumah dibuka, dan langkah warga menuju dapur. Namun di ujung gang, berdiri tanggul raksasa penahan Lumpur Lapindo yang tak pernah benar-benar membuat mereka lupa bahwa kampung ini hidup di tepi risiko.
Rumah Irsyad Habib warga pologunting tersebut berjarak sangat dekat dengan dinding penahan lumpur itu. Jaraknya sekitar 15 meter. Cukup dekat untuk melihat bayangannya setiap hari, cukup dekat untuk merasa cemas setiap malam.
Bagi Irsyad, kecemasan bukan lagi perasaan sesekali. Ia sudah menjadi bagian dari rutinitas, seperti menutup pintu sebelum tidur atau mematikan lampu ruang tamu.
Jika hujan turun deras, ia sulit memejamkan mata. Ia memilih bangun dan mengecek lantai rumah, memastikan air belum merayap masuk.
Tanah di kampungnya perlahan turun. Untuk melawan genangan, Irsyad meninggikan lantai rumahnya sedikit demi sedikit. Semen ditambah, keramik diangkat, tabungan dikuras.
“Tidak ada pilihan lain. Kalau tidak ditinggikan, rumah bisa makin rendah dan kebanjiran,” ucapnya.

Di dapur, beberapa jeriken air berjajar rapi. Sumur yang dulu menjadi sumber kehidupan kini tak lagi bisa diandalkan karena airnya asin dan tercemar.
Setiap hari, ia harus membeli air Rp 3.000 per jeriken atau patungan Rp 30.000 untuk air tandon. Pengeluaran kecil yang jika dikumpulkan menjadi beban besar.
Sukardi, tetangganya yang telah puluhan tahun tinggal di sana, punya cerita serupa. Retakan di dinding rumahnya seperti garis tipis yang terus memanjang.
Ia masih mengingat jelas tahun 2018, ketika tanggul ambles sedalam lima meter sepanjang hampir 100 meter. Sejak itu, suara hujan di atap tak lagi terdengar menenangkan.
Menurut data Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), jutaan meter kubik lumpur masih keluar setiap tahun dan tanggul terus diperkuat. Namun bagi Irsyad dan Sukardi, yang mereka butuhkan bukan hanya tanggul yang lebih tinggi, melainkan kesempatan untuk hidup tanpa dihantui rasa takut setiap kali malam datang. (*)






