Cerita Rakyat Situs Petilasan Damarwulan di Megaluh Jombang

oleh -2033 Dilihat
d5a65b8b d46d 4ae6 8720 cb7fd2160e37
Situs petilasan Damarwulan di Kecamatan Megaluh, Jombang. (Foto: Teguh)

KabarBaik.co – Tepat berada di tengah area persawahan Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang terdapat situs petilasan kuno. Tempat yang diyakini sebagai peninggalan raja besar pada masa lampau bernama Damarwulan.

Cerita rakyat turun-temurun tentang sosok Damarwulan masih terjaga. Dikisahkan bahwa dia lahir di Desa Mojogulung, sekarang berubah menjadi Desa Karangmojo, masuk wilayah Kecamatan Plandaan, Jombang.

Desa tersebut sebelumnya adalah tempat bersemedi ayahanda Damarwulan yakni Maha Resi Maudoro.

“Dari cerita buyut-buyut saya dulu, Damarwulan lahirnya di Desa Mojogulung, yang sekarang jadi Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan,” kata Ponijan, juru kunci situs Petilasan Damarwulan pada Selasa (4/3).

Resi Maudoro juga disebut salah satu patih di Kerajaan Majapahit ketika itu. Namun terusir karena konflik dengan resi lain hingga harus bertapa.

“Maudoro itu ayahnya, dulu dipercaya patih Raden Wijaya yang kemudian lengser dari tahta dan akhirnya melakukan pertapaan,” sebutnya.

Karena beberapa hal, ketika beranjak dari Kerajaan Majapahit, Damarwulan beserta keluarga ikut diboyong ayah dan ibunya yakni Maha Resi Maudoro dan Palupi.

“Setelah berumur cukup diajak dan menetap di desa ini, lokasinya ya yang sekarang jadi petilasan itu. Di sini diterima sama Ki Paluombo, petapa lain yang juga mendidiknya hingga beranjak remaja, rumahnya ya di padepokan yang ada kolamnya itu,” ucapnya.

Dalam pendidikan Resi Paluombo, Damarwulan dibekali berbagai macam keterampilan baik bercocok tanam, tata krama kerajaan hingga ilmu kanuragan, untuk dipersiapkan kembali ke Kerajaan Majapahit.

Bahkan menurut Mbah Jan, sapaan akrabnya, bukti salah satu lokasi latihan keterampilan Damarwulan, masih bisa disaksikan hingga kini. Yakni di Dusun bernama Paritan yang terletak di sebelah barat petilasan tersebut.

“Paritan itu kan berasal dari kata arit, atau ngarit. Artinya dulu disitulah diyakini jadi tempat Damarwulan ngarit (mencari rumput) untuk kuda yang ia punya,” ujarnya.

Hingga dirasa cukup umur dan kesaktian mencukupi, Resi Paluombo akhirnya memperbolehkan Damarwulan pergi ke Majapahit.

Di waktu bersamaan, di Mojopahit sedang berlangsung sayembara yang diadakan oleh Ratu Kencana wungu. Ratu Kencana wungu kala iu yang merasa terusik ulah kurang ajar Raja Blambangan Minak Jinggo.

Meskipun dalam beberapa cerita lain, disebutkan pula jika sebelum mengikuti sayembara sang Ratu. Damarwulan harus menghadapi berbagai rintangan dari kedua anak patih Logender. Pamannya sendiri yang saat itu menjabat di Majapahit dan tempatnya dititipkan.

“Tapi yang jelas, bisanya Damarwulan menjadi raja adalah setelah mengalahkan Minak Jingga Raja Blambangan itu,” bebernya.

Hingga kini situs yang diyakini merupakan salah satu peninggalan Damarwulan, bisa disaksikan di Jombang. Lokasinya ada di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.

Dalam situs yang berada di tengah sawah ini, terdapat dua kolam serta dua pohon besar beserta satu pendapa yang diyakini bekas peninggalan Damarwulan.

“Jadi ada dua lokasi petilasan itu. Itu semua bukan makam, karena saat itu agama yang dianut masih agama Hindu dan dalam kepercayaan biasa dibakar dan dilarung, bukan dikubur,” paparnya.

Meski di banyak tempat diyakini ada makam hingga petilasan yang berhubungan dengan nama Damarwulan, dirinya mengaku tak heran.

“Bisa saja ada dimana-mana, tapi yang jelas itu pasti bukan makam, ada peninggalan bekas Majapahit di setiap bangunan yang diyakini petilasan, dan harusnya dilindungi,” lanjutnya.

Saat memasuki areal situs, kita akan melewati dua buah gapura besar ala kerajaan berwarna merah terang. Didalamnya, terdapat dua kolam dengan ukuran berbeda. Kolam di sebelah barat berukuran lebih besar, sedangkan sebelah timur lebih kecil. Terdapat pula dua pendapa dan dua petilasan yang lokasinya terpisah.

Suasana sekitar cukup panas. Tak ada pohon besar yang tumbuh di lokasi ini. Dua pohon yang berada di kolam besar dan petilasan Damarwulan nampak tak tumbuh maksimal.

Warga asli Desa Sudimoro ini menyebut, semasa ia kecil lokasi petilasan sangat nyaman. Pohon yang tumbuh rindang, kolam yang selalu terisi air seringkali jadi pilihan tempat anak sekitar bermain.

“Dulu itu sejuk, banyak pohonnya, yang unik kolam biasanya berwarna biru, jadi asyik kalau main dulu,” tandasnya.(*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.